catatan

Menyelam atau Tenggelam?

Sekarang, hanya layar laptop dan tuts keyboard yang mengerti baik siapa aku. Mereka tidak mengintervensi. Mereka hanya menungguku mencurahkan kata-kata, betapapun susahnya.

Aku pernah membaca Sang Alkemis, novel karangan penulis Brasil, dan tak kumengerti pesan yang dimaksud soal harta karun di dalam diri—kendati selesai membacanya. Aneh sekali, pikirku. Tapi ternyata terjadi. Alasannya mungkin adalah aku membaca, namun tidak dengan niat memahami. Maka tahun-tahun berikutnya, keinginan membaca dan menangkap maksud isi novel tersebut membuncah kembali. Lalu kubaca novel itu dan akhirnya mengerti pesan yang dimaksud. Aneh sekali pikirku. Tapi ternyata terjadi.

Ada buku-buku yang amat susah atau bahkan tak dimengerti isinya, hanya karena mungkin—ini baru barangkali—aku belum siap mengerti isinya. Belum porsiku. Belum saatku. Ini bisa jadi indikator seberapa siap seseorang akan mencerna sesuatu hal di sekitarnya atau di dalam dirinya. Jam terbang menentukan.

Sama dengan kebuntuanku setengah tahun terakhir. Di usia 19 tahun, aku acapkali kehilangan semangat (atau secara tidak sadar, aku sengaja melepasnya?) karena alasan-alasan kabur (atau aku saja yang terlalu malas membuat semuanya tampak lebih jelas?). Aku mulai menganggap bahwa hidup ini sia-sia. Toh yang ada di kemudian hari, mungkin, aku akan mengalami hal yang sama. Harus mencari solusi lagi bagi masalah lain hal lagi, atau jika ingin strategis, aku harus mempersempit celah agar tidak timbul masalah yang lebih bikin repot. Ah, mungkin memang begitu siklus hidup.

Pertanyaan semacam: “Apa yang ingin kamu lakukan?  Apa yang ingin kamu perjuangkan? Apa yang kamu cintai? Apa hasratmu dalam hidupmu?” kerap membuatku tenggelam, dan kejamnya, aku kesulitan berenang dan mengatur nafas. Tidak. Tidak ada yang kejam. Hidup tak pernah kejam. Hidup memang begini. Berulangkali kuyakinkan bahwa ini hanyalah kemalasanku, ketidakdisplinanku dan pribadi “aku” yang tidak strategis menghadapi kejamnya hidup. Tidak. Bukankah sudah kubilang kalau hidup tidak kejam? Mengapa hidup ini dibilang kejam? Mungkin manusianya saja yang keburu memposisikan diri sebagai korban, sehingga semua yang buruk dan merugikan dirinya tampak begitu kejam. Aku ingin jadi penulis novel karena usai membaca Sang Alkemis, sebentar kemudian ingin jadi wartawan sejak bergabung dengan pers mahasiswa Scientiarum. Sebentar ingin jadi ahli bahasa karena aku percaya bahwa informasi akan tumpul jika seseorang tak mengenal bahasa dengan baik. Setelah yakin bahwa aku tak begitu suka berdarah-darah belajar bahasa dan tetek bengeknya, kuputuskan jadi penyair saja (fenomena macam ini mirip sekali seperti aku semasa SD yang gonta-ganti cita-cita. Dan ternyata meski sudah bermahasiswa, aku masih saja meneruskan kebiasaan ini). Tapi ternyata puisi punya cerita lebih menarik. Menggeluti jadi penyair (meskipun sangat jarang membacakan puisi di depan orang banyak dan lebih banyak menulis saja), ada beberapa kisah menyenangkan yang tercapai. Salah satu puisi berjudul “Kencan”, masuk buku antologi puisi asal Pekalongan. Aku dipercaya untuk menyunting salah satu buku antologi puisi Lentera. Diajak jajak pendapat mengenai puisi seorang teman. Blog pribadiku dikenal orang karena puisi-puisiku. Sejak saat itu, aku juga terus menulis puisi. Sehari bisa tiga sampai lima puisi. Aku kian gemar membaca puisi-puisi penyair sekaliber Wiji Thukul, Chairil Anwar, Eka Budianta, Sapardi, dan Wingkarjo. Kubeli rutin majalah sastra Horison seharga Rp 20 ribu, agar pandanganku soal puisi bisa lebih terbuka. Kuikuti beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen, meski tidak menang, tapi masuk antologi senangnya tak karuan. Aku jadi rutin mengirim puisi ke redaksi yang menerima penerbitan puisi (meski belum pernah dapat jawaban dari redaksi akan nasib puisi-puisiku). Aku dan beberapa teman di kampus, mulai membikin acara baca dan diskusi puisi setiap malam Jumat, dan baru jalan dua kali. Dari semuanya itu, kupikir memang aku lebih cocok menggeluti dunia perpuisian. Tapi ternyata buntu lagi. Aku tak bisa membuat puisi berbulan-bulan. Gelisah lagi. Aku tidak yakin lagi pada puisi yang kuanggap sebagai jalan menuju Tuhan. Tak tahu lagi mau memperjuangkan apa. Ingin ganti. Mau sampai kapan terus seperti ini?

Meski pertanyaan tak habis-habisnya menggantung dan buat bingung, dan aku sendiri yang terus manut dengan kebingungan, aku masih hidup. Setiap hari bangun pagi, atau kadang bangun siang karena sepanjang malam terjaga. Jika ada kuliah, maka pergi ngampus, atau kadang membolos jika malas lebih banyak ketimbang niat duduk membosankan di kelas. Sehari-harinya menyempatkan merumat pers mahasiswa Scientiarum. Jika kesurupan ingin menulis ya menulis, jika tidak, biasanya aku cuma menyunting hingga terbit di situs jaring. Akhir-akhir ini aku malas sekali membantu wartawanku (karena aku pemimpin redaksinya) dalam peliputan. Aku kadang berpikir kalau mereka manja atau terlalu malas belajar sendiri. Aku berpikir, mereka harusnya seperti aku: belajar sendiri, jadi otodidak abadi. Tidak melulu tanya dan minta bantuan. Aku kesal dengan yang semacam itu. Karena hampir setiap hari seperti itu! Yang lebih kubenci, aku lebih suka memendam kekesalan itu sendiri. Paling banter, aku cuma cerita ke orang-orang terdekat saja. Aku tahu, aku tak bisa memaksakan orang lain agar mewujudkan keinginanku. Dan aku tahu kalau aku harus melakukan sesuatu yang merangsang mereka agar mau mandiri dan belajar sendiri. Ah sebentar, bukankah cara belajar tiap orang memang berbeda? Jadi, aku yang harus menyesuaikan (atau saling menyesuaikan?) Mungkin di sinilah hakikat seorang guru: sabar. Dan aku benci berakrab dengan kesabaran dalam membimbing dan mengajar. Tapi seringnya, entah ada dorongan dari dalam diriku agar mau sabar dalam membimbing dan mengajar. Tapi…. sudahlah, banyak yang kusuka dan kubenci. Aku bangga sekaligus benci pada diri sendiri. Jauh di dalam, aku ingin jadi seseorang yang orisinil, meski kenyataannya aku selalu terpengaruh orang lain yang kuanggap patut diteladani. Jadilah aku jiplakan orang lain. Lantas dari sini aku berpikir, bahwa yang asli sejatinya semu. Mungkin satu-satunya yang sejati ialah tidak ada yang benar-benar asli. Atau pikiranku saja yang pandai menipu? Atau aku saja yang terlalu mendramatisir sesuatu?

Lalu apa yang kucintai? Aku memilih diam tak menjawab ketimbang harus mengada-ada atau hanya merasa ada. Atau diganti pertanyaan lainnya saja, siapa yang kucintai? Banyak. Aku punya keluarga, seorang kekasih, sahabat, teman, dan kenalan yang di kemudian hari mungkin bisa memberi lahan kerja atau diajak bekerjasama, lalu apa mereka semua kucintai? Tentu tidak semua. Lalu siapa saja? …. aku tak tahu lagi. Jika kusebutkan secara spesifik siapa saja mereka, aku membayangkan mereka bertanya-tanya pada diri mereka sendiri, apakah mereka ada di daftar orang yang kucintai. Ah, siapa juga aku hingga harus membayangkan apa yang orang lain pikirkan? Aku sok penting. Sok dibutuhkan. Sok dicintai. Sok sok sok dan sok. Nampaknya tiap kata positif yang dibubuhi kata “sok”, maknanya akan menjelma negatif. Siapa saja yang kucintai? …. tentu aku cinta mereka yang juga mencintai aku. Aku cinta bapak ibu, saudara-saudara sekandung, kekasihku, sahabat-sahabatku. Jika demikian cinta yang kumaksud, aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku hanya akan mencintai mereka yang mencintaiku juga? Bagaimana dengan mereka yang tak mencintaiku, atau bahkan membenciku? Berarti cinta hanya soal timbal balik? Apakah orang yang tak mencintaiku, artinya juga tidak layak mendapatkan cintaku? Kukira cinta tak sepicik itu. Aku pun tahu kalau aku tak bisa memaksakan orang lain agar mencintaiku dan mencintai seleraku. Begitu juga sebaliknya. Lantas, apakah cinta lebih besar ketimbang urusan timbal balik? Nampaknya begitu. Apakah itu cukup menjawab? Pertanyaan lainnya, siapa juga memangnya yang butuh jawaban macam itu? Siapa peduli?

Satu-satunya alasan yang kutahu mengapa aku seperti ini, aku tidak strategis di ujung usia belasan. Tapi memangnya ada apa dengan usiaku? Apa karena aku muda, lalu aku harus strategis? Mampu menginjak masalah hingga mampus? Apa karena aku muda, aku harus lebih bersemangat dari mereka yang lebih tua? Harus berbuat yang berguna ketimbang hura-hura? Memangnya hura-hura tak berguna? Apa karena aku muda…. tentu aku tak tahu mau bertanya apa lagi. Kegelisahan ini membuatku tenggelam. Bukan menyelam.

Sama seperti buku, aku tak tahu (atau tepatnya belum tahu?) persisnya apa yang ingin kuperjuangkan dan apa yang kucintai. Apa alasanku untuk hidup? Siapa yang tahu, selain (seharusnya) aku sendiri? Benar juga kata seorang bijak, perjalanan terpanjang ialah mencapai diri sendiri. Hakikat aku. Jika dalam rentang waktu ini aku masih saja bingung dan belum menemukan yang dicari, tak apa. Mungkin sedang masanya. Orang bijak lainnya pernah berkata: “Kadang-kadang kau harus kehilangan dirimu dulu untuk bisa menemukan dirimu yang sejati.” Dan ungkapan barusan, sungguh belum masuk di akalku. Jika demikian, hanya ada satu kata: menyelam! Jika belum paham apa maksud tulisanku ini, bisa jadi belum porsinya yang baca untuk memahami. Atau memang penulisanku yang bermasalah? Yang jelas, ini satu-satunya langkah yang bisa kulakukan untuk menguatkan diri, hingga jauh dari bingung yang bikin mati. Setidaknya aku sudah mencoba memetakan buntu ini. Dan cukup untuk saat ini.

Salatiga, 18 Mei 2015

Standard

4 thoughts on “Menyelam atau Tenggelam?

Tinggalkan Balasan ke Arya Adikristya Nonoputra Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *