puisi

Menyimpan Jerit

Aku adalah jerit
Meriak-riak bak ombak laut Selatan
Bangga menghantam semesta pesisir
Namun kehilangan segalanya di tengah samudera kering

Aku adalah jerit
Seperti aroma yang menguap sehabis hujan
Melayang membentuk kubu awan
Lalu menanggalkan buliran air mata dan tangis guntur

Aku adalah jerit
Seperti rumput merindu cacing tanah
Mengubah duka dalam darah tanah
Namun angkat tangan ketika ditimpuk semen basah

Aku adalah jerit
Seperti kawanan ayam yang didekati arit
Tak mengerti apa itu morat-marit
Tertangkap sabet–jatuh mati dalam parit gelap

Aku adalah jerit
Yang hidup di ruang penuh jeritan lainnya
Di sana menjerit, di sini menjerit
Kemana lagi aku dapat mengaduh?

Aku adalah jerit
Aral tak sekadar melintang–ia menekan dada hingga sesak
Hingga jeritku tak lagi terdengar telinga–namun tertulis dalam cahaya mata

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *