catatan

Mesin

Ada yang lebih menyedihkan ketimbang jadi buruh (jenis apapun). Menjadi mesin!

Yang namanya mesin, seumur hidupnya ya akan begitu-gitu saja. Ia sudah dirangkai demikian rupa, supaya baik jalannya.

Selama mesin itu baik jalannya, ia berguna. Kalau sudah menyusut dan ngawur kerjanya, datanglah mesin baru – atau setidaknya ada penggantian onderdil baru. Habis manis sepah dibuang. Nasib mesin selalu begitu.

1 Mei adalah hari buruh sedunia. Yang menamai dirinya sebagai “buruh”, berdemo di mana-mana. Tuntutannya macam-macam, tapi masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Itu tak apa. Mungkin, bagi mereka, itulah satu-satunya jendela menuju dunia.

Rebut alat produksi! Buat apa? Supaya distribusi dan pemakaiannya bisa dipakai secara merata oleh semua kelas? Duh, berlebihan. Mari berandai. Bila satu kelas berhasil menyingkirkan lawannya yang ada di atas, maka ia tak lagi “bawah”, melainkan “atas”. Kelas bawah akan diisi lagi oleh orang-orang yang tak mampu naik ke tengah atau atas. Semacam menggilir kelas. Begitu seterusnya.

Sama halnya dengan Mayday. Usai riuh rendahnya, ya buruh bekerja seperti biasa. Terima UMR dan tunjangan hari raya. Masuk Mayday lagi …. duh, begitu terus sampai aus dimakan waktu. Mirip mesin.

Kalau polah buruh sudah seperti mesin, betapa sedihnya! Padahal buruh itu manusia, sehingga kedaulatan adalah miliknya, kata Slamet. Buruh mestinya bisa menentukan cara kerjanya sendiri, meski di satu sisi ada sistem yang mengikat. Luwes saja. Menjadi buruh berdaulat adalah wujud pembangkangan elegan.

Jadi buruh itu tak apa. Karena aku dan kamu sama saja. Sama-sama manusia, satu buruh jua. Aku buruh tinta, ibuku buruh uang kuliah. Ada yang jadi buruh tani, lha ada juga yang duduk menikmati jerih payah buruh “kelas menengah ke bawah”. Mereka – atau kita juga – adalah buruh nafsu!

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *