catatan

Ngudut

Ini bukan yang pertama. Sebelumnya pernah coba-coba, tapi tidak total.

Percobaan kali ini bukan karena dorongan siapa-siapa – itu alasan yang kekanak-kanakan. Tapi ini murni ingin tahu, ketimbang terjebak pada sesat pikir yang itu-itu saja dan dongeng ndakik-ndakik soal rokok.

Sudah kubilang, ini bukan yang pertama. Tapi ini batang rokok pertama yang tak ubahnya kunikmati seperti ciuman pertama. Kusadari betul tiap detik, tiap detil.

Api korek ketemu ujung puntung. Bunyi api memakan tembakau dan kertas. Mulut menyedot. Asapnya merambat dari bara menuju ke penyaring. Dari penyaring masuk ke dalam mulut.

Di situ, gumpalan asap mengambang. Menunggu keputusan: ditelan, dihembuskan, atau dioper ke saluran hidung lalu baru keluar. Kukecap bibir setelahnya. Begitu seterusnya sampai habis sebatang.

Rasanya? Biasa saja. Dibilang tidak enak ya enggak, dibilang enak juga enggak. Tidak serta merta menjadi keren juga. Mungkin karena masih pemula. Tapi yang jelas, rasanya tak semendebarkan ciuman pertama. Haha.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *