catatan

Paradoks Hahaha

Makin ke sini, hidup makin kelihatan paradoksnya – tidak cuma hitam-putih dan benar-salah. Ia abu-abu, mejikuhibiniu, ambigu, tidak pasti tapi mewujudnyata setiap waktu.

Paradoks itu seperti beberapa ungkapan ini: banyak bertanya itu penting, tapi berhenti bertanya juga nggak jadi masalah yang genting. Seperti juga: banyak mencari ya tidak ada salahnya, tapi berhenti mencari juga enak-enak aja.

Ada pepatah populer yang barangkali sudah pernah didengar: malu bertanya, sesat di jalan. Ya memang, barangsiapa malas bertanya ya tidak akan beranjak ke mana-mana. Orang bisa belajar banyak dari bertanya. 5W1H.

Meski begitu, pepatah di atas punya plesetan yang tidak kalah populer: banyak bertanya, malu-maluin. Jadi, lebih baik cari sendiri dulu. Kalo sudah mentok, baru tanya orang lain.

Orang yang banyak bertanya, jadi banyak mengetahui. Bukan tidak mungkin, orang jadi ketagihan bertanya, atau justru jadi capek dan malas bertanya. Seolah satu jawaban masih bisa dipertanyakan ulang. Formulanya tidak lagi 5W1H, melainkan 6W1H, alias ketambahan: “what’s next?”.

Mereka ini tidak pernah merasa cukup. Selalu ingin tahu. Selalu bertanya. Selalu mencari. Jangan-jangan nanti jadi serakah pengetahuan, bukan lagi murni pingin tahu.

Kalau sudah banyak tahu, nanti pusing sendiri. Para pemikir boleh saja membusungkan dada karena kepiawaiannya berpikir deduktif, induktif, kritis, kontekstual, dan macem-macem lainnya, lalu membodohkan mereka yang malas berpikir. Tapi, salah satu penyakit para pemikir adalah mereka tidak bisa berhenti mikir. Mereka treak-treak kebebasan berpikir dengan lantang, tapi tidak bisa bebas dari pikirannya sendiri. Mereka kurang santai. Kurang bercanda. Kurang tertawa. Yang malas berpikir juga gak beda jauh. Otaknya mandek. Makanya, banyak ataupun berhenti bertanya juga enak-enak aja.

Lalu, istilah “enak” lekat dengan kenyamanan. Kondisi yang nyaman lekat dengan istilah “rumah”. Tapi apa benar rumah itu nyaman? Memangnya rumah itu apa? Apakah rumah tempat seseorang lahir dan dibesarkan? Atau yang penting nyaman, lalu seseorang bisa menyebutnya sebagai “rumah”?

Agustinus Wibowo, penulis muda keturunan Cina, pernah bercerita pengalamannya mencari “rumah”. Semula dia pikir rumahnya ada di Indonesia, di mana dia lahir dan tumbuh. Tapi tumbuh sebagai keturunan orang Cina di bawah rezim Soeharto, membuatnya kesulitan menyebut Indonesia sebagai rumah. Lantas dia pergi ke tanah nenek moyangnya di Cina.

Sesampainya di sana, Agustinus tidak menemukan “rumah” itu. Justru, dia merasakan “rumah” saat melanjutkan perjalanan ke Pakistan dan Afghanistan. Di sana dia dijamu orang-orang lokal yang bersahabat.

“At that time, I thought that my home can be anywhere. But, when your home is anywhere, it also means that your home is nowhere. Location doesn’t matter anymore,” kata Agustinus menurut laporan pada blog Perth Writers Festival, 15 Februari 2017.

Rumah yang ada di mana-mana artinya tidak di mana-mana juga. Ini jelas kontradiksi. Mbulet. Bagaimana mungkin seseorang punya rumah di mana-mana (anywhere), yang artinya sama dengan tidak punya rumah di manapun (nowhere)? Begitulah paradoks, ia kontradiktif tapi tidak saling menyingkirkan, apalagi monopoli kebenaran. Paradoks selalu berjabat tangan, tapi tidak berat sebelah.

Orang yang belum mudeng sampai titik ini berarti masih kurang serius, atau justru terlalu serius.

Serius  dan santai juga paradoks. Tapi serius dan santai masih dianggap sebagai dua hal yang berbeda, yang tak bisa disandingkan bersamaan. Padahal keduanya ada dan saling bertautan.

Kalau saya serius, saya sekaligus santai. Kalau saya serius tanpa mengindahkan santai, namanya terlalu serius! Begitu juga sebaliknya dengan santai.

Memisahkan serius dan santai secara definitif saja adalah sesat pikir – hasil onani otak yang dimuncratkan. Dipikirnya, santai itu cuma berkenaan dengan liburan, foya-foya. Padahal kegiatan senang-senang pun ada tindak tanduk keseriusannya. Candaan yang santai pun lahir dari keseriusan untuk bercanda.

Cuma di alam pikirnya saja, orang beranggapan kalau serius berkenaan dengan belajar, berkabung, kerja, dan segala hal yang memeras otak – padahal untuk bekerja yang serius, orang butuh santai juga. Supaya enggak spaneng amat.

Kalau orang lupa serius, berarti dia terlalu santai. Kalau dia lupa santai, berarti dia terlalu serius. Orang boleh bilang kalau segala hal yang “terlalu” memang tidak baik. Tapi pernyataan itu meleset. Yang “terlalu” ya memang keterlaluan, bukan perkara baik-buruk. Itu urusan lain.

Orang yang menganggap serius dan santai tidak bisa dilakukan bersamaan, dapat dipastikan ia selalu merasa kosong. Kalau sudah terlalu serius, maka ia merasa butuh hiburan – liburan panjang. Jika liburannya usai, maka ia tak lagi santai. Begitu terus. Sampai mati tak pernah merasakan betapa nikmatnya serius sekaligus santai.

Tokoh Joker di filem “The Dark Knight” adalah sosok yang serius. Beberapa saat sebelum mengacaukan Gotham, dia sudah bilang: “I’m a man of my word.” Setelahnya, rentetan korban pembunuhannya mendadak bikin kota Gotham mencekam. Batman, pemerintah, dan polisi kalang kabut. Tapi di satu sisi, saat konflik sedang panas-panasnya, Joker bisa dengan santainya ngomong, “Why so serious?” Yang lucu, meski ada sosok serius-santai seperti Joker, filem “The Dark Knight” masih terlalu serius. Batman sok-sok’an.

Orang-orang yang terlalu serius dan terlalu santai, akan kesusahan menerima paradoks.

Seperti di dunia industri kreatif, mereka beberapa kali kepergok terlalu serius, tapi mereka sendiri tidak menyadarinya. Mereka selalu berusaha inovaif, mencari yang baru, mencari ide-ide segar, tanpa menyadari kalau itu semua adalah pekerjaan lama. Selalu mencari hal yang baru adalah pekerjaan lama. Dari dulu sudah ada. Baru apanya?

Bicara soal masa lalu, ada filem “The Dreamers” yang rilis 2003. Filem ini berlatarbelakang pertengahan abad 20 di Prancis, masa-masa hangatnya perang politik ideologi di dunia. Dalam suatu percakapan makan malam, George mengkritik kedua anaknya – Theo dan Isabelle – yang aktif dalam gerakan petisi menolak invasi Amerika Serikat terhadap Vietnam, mereka berdua juga menentang perdana menteri Prancis yang hendak mencampakkan aktivis filem Henri Langlois dari Cinémathèque Française, kota Paris, pada 1968.

“If Langlois is dismissed, we shouldn’t do anything? If immigrants are deported, if students are beaten up, we shouldn’t do anything?” jawab Theo dengan melempar pertanyaan.

“Before you can change the world, you must realize, you, yourself, are part of it. You cannot stand outside, looking in,” timpal George.

Theo diam bentar. Dia balik menjawab kalau bapaknya justru termasuk salah satu orang yang tidak peduli, merujuk pada pernyataannya, “You’re the one who stand outside.”

Paradoksal juga muncul dalam satu adegan ketika adu fisik langsung antara demonstran dengan polisi, masih di filem yang sama. Ceritanya, Theo dan Isabelle hendak ikutan massa melempar bom molotov ke barisan polisi. Tapi Matthew berusaha mencegah mereka berdua.

“This is fucking fascism in a fucking bottle,” serunya.

Theo membantah, “I’m no fascist! The cops are fascists!”

“This is not what we do. We use this. We do this,” ucap Matthew menyakinkan, sambil menunjuk isi kepalanya sendiri dan mencium bibir kedua temannya itu – sebagai bentuk ‘perlawanan’ dengan laku kebajikan dan cinta.

Theo dan Isabelle kekeuh mendekati barikade polisi, bersiap melempar molotov. Matthew, dengan muka muram, ambil langkah mundur meninggalkan demonstrasi.

Mana yang benar? Mana yang salah? George atau Theo? Theo atau Matthew? Nggak ada dan memang nggak penting. Bernardo Bertolucci, sutradara “The Dreamers”, juga tidak susah payah membahas siapa benar siapa salah. Dia hanya menggambarkan paradoksal yang ada. Membahas mana benar dan salah pada dua adegan itu, tak ubahnya seperti membahas paradoks populer ayam dan telur. Duluan mana? Telur dulu? Atau ayam dulu? Nggak penting. Masih lebih penting makan nasi, opor ayam, dan telur ceplok. Nyam nyam.

Kita sudah terbiasa diwejangi sejak lama agar jangan mencuri dan berbohong. Tapi di dunia jurnalistik, mencuri, kadang-kadang dibutuhkan. Mulai dari mencuri data yang disembunyikan narasumber, sampai berbohong kalau wawancara akan berlangsung 5 menit saja tapi kenyataannya bisa setengah jam lewat. Beda lagi dengan Robin Hood dan Newton Knight yang merampok harta dari yang kaya (dan merugikan orang lain) untuk dibagikan kepada yang miskin. Di dunia ilmu paradoks, ini disebut dilema etika. Tapi siapa peduli etika? Ya yang peduli. Tapi etika juga nggak penting-penting amat. Etika, sudah dalam banyak praktek kehidupan, terbukti menimbulkan kelas dan kesenjangan yang seolah tak berujung. Lain hal dengan paradoks yang senang hati menabrak etika, membentuk dilema di alam pikir manusia. Paradoks adalah ajal bagi etika.

Kesenangan hati juga paradoks. Kalau dalam bahasa perasaan, paradoks terjadi ketika muncul kesenangan yang amat lalu diikuti tangisan, atau kesedihan yang kelam hingga muncul rasa ingin menertawakan kesedihan itu sendiri.

Paradoks juga terjadi di permukaan kulit yang terasa gatal. Kalo digaruk rasanya enak, tapi setiap garukan sepaket dengan konsekuensi lecet yang perih. Sakit atau enak? Enak atau sakit? Rasanya seperti melebur jadi satu dan orang kesulitan menyebutnya itu apa. Tapi bisa dirasakan. Membingungkan.

Tidak cuma perasaan, tumbuhan mint pun juga paradoks. Karena ia bisa berkembangbiak secara vegetatif, ketika dipotong batang utama atau cabang batangnya, mint akan mati sekaligus siap terlahir kembali. Mati artinya memutus jaringan sel di batang yang bertugas mendistribusikan makanan bagi keberlangsungan hidup mint. Siap terlahir kembali, artinya, akar-akar baru akan menyembul dalam beberapa hari ke depan, dengan catatan, jika faktor biologisnya mendukung. Ia mati sekaligus lahir kembali.

Osho, mistikus dari India, pernah bilang kalau ada tiga hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia: kelahiran, kematian, dan cinta.

Hidup dan mati yang alami tidak bisa dipilih orang. Hidup dan mati tidak ada dalam genggaman siapapun. Tapi cinta, adalah satu hal yang bisa orang berdayakan seusai kelahiran dan sebelum ajalnya – selama hidupnya.

Cinta itu paradoks. Tapi orang cuma mengerti bahwa cinta adalah salah satu dari sekian banyak perasaan, yang mudah ditebak dan diteliti. Padahal mereka tidak sama. Perasaan bisa saja salah atau meleset, karena perasaan bukanlah kenyataan itu sendiri. Perasaan harus dicek berkali-kali kebenarannya. Tapi cinta juga tidak benar dan tidak salah. Benar atau salah tidak lagi penting di dalam cinta. Dalam cinta ya hanya ada cinta. Cinta bukan agama, yang bisa dipercaya. Cinta tidak bisa. Cinta bisanya dilakoni, diamalkan dalam setiap tindakan. Gak banyak omong.

Turunan dari cinta, ada ciuman. Ciuman itu juga paradoks. Saat bibir-bibir itu berpagut-lucut dan lidahnya saling menjilat-lumat, muncul kenikmatan yang seolah kita tidak ingin menyudahinya. Tapi di beberapa detik yang sama, muncul juga perasaan ingin menyudahinya, lalu cukup saling tatap mata, mengamati kontur kulit muka satu sama lain sambil sesekali merabanya. Tapi ujung-ujungnya ya ciuman lagi.

Lebih dalam dari ciuman, penetrasi seks juga paradoks. “The pleasure starts to build up until it hurts, and the pain starts to feel good,” kata Angie mendeskripsikan – agak susah payah – tentang paradoksal mendaki puncak kenikmatan seks, kepada tokoh Sutradara dalam filem “Black and White and Sex”.

“Can it do that?” si Sutradara bertanya, menyakinkan.

“Yeah,” jawab Angie setengah berbisik gelis, lalu melanjutkan, “And it’s like, I want it to stop, but I also want it to go on forever. It’s so confusing.”

Paradoks memang membingungkan jika diterka dengan pikiran saja, karena pikiran harus logis dan bernalar. Tapi orang sering lupa kalau paradoks itu lebih dari yang logis-logis saja. Ia tidak cuma rasional, tapi ia juga irasional. Ada fisika, ada juga metafisika. Ini yang tidak bisa diterima pikiran.

Paradoks selalu nyata dalam tindakan, dan orang hanya perlu menyadarinya. Mana sempat kamu mikir kalau sakit dan nikmatnya saat bersenggama terjadi berbarengan? Mana tahu kamu akhirnya menertawakan kesedihan diri sendiri? Mana bisa antisipasi kesenangan yang meluap-luap tanpa menangisinya? Mana tahu mana yang benar dan salah antara memukul mundur polisi atau menebar cinta saja? Mana mungkin tumbuhan mint mikir secara filosofis untuk mati dan lahir dalam waktu yang bersamaan? Itu semua mengalir dalam setiap laku dan tindakan. Seperti air bersenyawa mineral di gua, mereka menetes begitu saja – bahu-membahu membentuk stalaktit dan stalakmit.

.

Paradoksal selalu lepas dari kata-kata. Bahkan segala penjelasan di atas hanyalah kata-kata. Cuma jembatan penjelasan. Penjelasan selalu punya sisi gelap yang tidak tersampaikan. Penjelasan hanya sebatas gambaran peristiwa, bukan peristiwa itu sendiri. Paradoksal cuma bisa dialami, bukan dijelaskan orang lain lalu seolah-olah kita mengalaminya.

Orang gampang terperdaya dengan kata-kata. Dari kata-kata yang lisan, tulisan, bijak, sampai yang sumpah serapah. Padahal itu semua cuma kata-kata. Ia bisa dimainkan atau dibengkokkan semaunya. Orang yang sadar, tahu kalau tulisan sepanjang ini tidak perlu digugu kata-katanya saja, apalagi secara harafiah. Tulisan ini hanya ingin memberi percikan api ke dalam benak orangnya saja. Orangnya sendiri yang harus mengobarkan apinya.

Sibuk ngurusi kata-kata menyebabkan orang gagal memahami peristiwa yang sedang terjadi sekarang. Orang lupa mengalir, karena sibuk berlomba dalam kehidupan. Orang sibuk menjadi yang pertama, menjadi berarti, penuh makna, sophisticated, atau justru yang sebaliknya. Makin komplit kacaunya dunia ini.

Belum genap seminggu, adik saya merajah pergelangan tangan kanannya dengan tato tipografi permanen. Tertulis: HAHAHA. Desainnya diselesaikan dalam hitungan jam, tidak sampai satu malam. Langsung tato setelahnya. Gratis pula. Karena yang nato mengaku baru belajar merajah setahun terakhir.

Dua hari setelah ‘resmi’ tatoan, dia bilang kalau tatonya hasil bercanda. Tidak ada konsep yang sesak makna bijak atau sebaliknya, seperti pesan-pesan yang digaungkan kebanyakan orang melalui tato. Cuma HAHAHA.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *