puisi

Pelacur (II)

/1/
Setajam-tajamnya tulisan,
masih lebih tajam kenyataan di balik kata-katanya

Kata-kata adalah reduksi makna
Ia hanyalah kenyataan berbulu kebenaran

Sedangkan kebenaran bukan keniscayaan
Karena ia mudah dibengkokkan sesuai keinginan

Tapi kenyataan selalu niscaya
Meski banyak rekayasa merenda

/2/
Banyaknya bunga di kata,
tak membuatnya lebih indah dari bunga di padang

Sepadang-padangnya tulisan,
ia hanyalah jembatan penjelasan

Penjelasan tak pernah benar-benar padang
Ia selalu punya sisi gelap yang tak sempat disampaikan

Kalau terbuai penjelasan dan nama pengarang,
duhai, bodohnya dirimu

/3/
Nikmatilah kata-kata sebagaimana mestinya,
karena kata-kata tak lebih dari permainan belaka

Ia bisa dibentuk kacau
Bisa juga dibikin punya rima

Kata-kata bisa dimiliki siapa saja
Sayangnya banyak yang mengklaim hak kepemilikannya

Seperti puisi ini,
makna menuliskan dirinya melalui aku

/4/
Makna tak butuh spasi dan tanda baca
bilapuisiinitanpaspasidapatkahkaumembacamaknanya

Ujung-ujungnya, mata otomatis memberi spasi di antara kata
Biar masuk akal, katanya

Kata adalah jembatan
Ia menjelma jadi penjara tatkala manusia menyerapnya dengan pikiran

Bila kata sudah jadi penjara,
nian sukar menyadari keberadaan makna

/5/
Makna adalah paradoks
Ia bisa sama, bisa juga tak sejajar dengan jembatannya: kata

Tak perlu mencari makna di balik kata
Ia ada dan selalu bertemu dengan kita

Bila terkecoh kata,
Berarti pikiranmu ngelantur

Kalau tak kunjung bersua dengan makna,
berarti kesadaranmu melacur
 

Salatiga, 16 April 2016

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *