puisi

Prologai

Pukul dua belas, purnama digulung kawanan mendung
Kabar sejuk pertama datang melalui surat elektronik
Katanya, aku segera berangkat ke Pulau Dewata 19 mendatang,
karena memenangkan suatu kejuaraan.

Pukul jelang lima, matahari masih malu-malu kucing, anjing!
Kabar sejuk kedua singgah di telepon genggamku.
Katanya, ia masih di Pemalang, tunggu beberapa jeda lagi hingga tumit kami dipertemukan
sejauh Jakarta-Salatiga!

Pukul sepuluh, rona mentari anggun, di ambang terik.
Kabar sejuk ketiga, dirimu tiba di beranda kampus
Kata kawan, senyum termanisku sama sekali tak kusadari, namun kentara nyata.
Tak lain karena senyum Indrika dari kejauhan yang kasat kulihat

Pukul sembilan malam, kikuk menusuk tak kenal ampun!
Pernyataanku yang diboncengi tanya berburu anak tangga, hendak naik kampiun!
Benar-benar kikuk!
Akan tetapi, kabar sejuk keempat darimu menggantikan buli-buli berisi duri
dengan pembebasan kerja rodi–melahirkan sorak-sorai!
Dirimu menjawab tanya sembari menggamit tanganku,
menyisipikan jemarimu di antara jemariku.
Bibirmu yang agak lebar menurun, mengisyaratkan pergulatan memilih kata untuk diungkap.
Sorot matamu sarat kata yang mana lebih dari temu.
Katamu: Ya, aku menyayangimu!

Salatiga, 17 November 2014

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *