puisi

Puisi

Menulis puisi ialah caraku membunuh kantuk
Kerap juga melapangkan dada,
kala sesak ditekuk rindu.

Menulis puisi menjelma jadi doaku kepada Sang Hyang Widhi.

Menyematkan rasa pada tiap kata.

Menulis puisi mengajarku percaya.
Bahwa sejauh apapun jarak, doa niscaya sampai.

Puisi pasti tak sambil lalu.

Ada saatnya puisi menjadi lembaran, tempat menyelipkan asa,
yang kemudian menyala
bak bara dalam tungku, yang asapnya membumbung ke mana-mana.
Dilihat mata lainnya.
Segenap semesta menyambut hadirnya.

Ketahuilah,
menulis puisi sama dengan berdoa.
Dan Tuhan tak pilih doa.
Asal kita sungguh-sungguh menjalaninya.

Denpasar, 20 November 2014

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *