puisi

Sebagai Pengingat

Kita bak tai.
Baru beberapa hari jadi.
Dan mulai membiasakan diri,
saling menggamit tangan–bertukar penguatan.
Wajar, masih sehangat tai ayam. Nyata.
Senja pasti datang,
dan kita–bak tai ayam,
akan mendingin karena petang.
Di sana aral ‘kan melintang.
Dan kita berdua akan diperhatikan kata-kata yang pernah meluncur dari mulut.
Diuji kata-kata sendiri.
Saat dingin, kita perlu hangat.
Saat kita sama-sama nihil hangat, bisa jadi kita sama-sama lenggang ke tempat lain.
Tapi bukan berarti kita tak lagi saling mempertahankan.
Ini bukan doa yang mengundang agar aral segera singgah.
Amini saja sebagai tanda pengingat, kala kita sama-sama hirap ingat.

Setengah kecantikan bulan, ada pada senyummu.
Beberapa kesal juga pernah bertahta di bejana akal dan rasa.
Kendati begitu,
aku padamu.

Yogyakarta, 27 November 2014

Standard

2 komentar pada “Sebagai Pengingat

Tinggalkan Balasan ke Arya Adikristya Nonoputra Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *