catatan

Sedarlah

Kamu selalu memikirkan orang lain. Bahkan ketika mikir diri sendiri, hampir bisa dipastikan ada segenggam bayangan orang lain yang menjadi landasanmu berpikir.

Kamu mau pakai baju apa hari ini, masih mikir pendapatnya orang. Waktu kamu bersolek di depan cermin, pakai mengira-ngira apakah orang akan suka dengan penampilanmu.

Mau masuk kelas atau bolos dan keluyuran saja, mikir jerih payah kucuran uang kuliah kiriman orang tua. Setelah memutuskan keluyuran, kamu mikir lagi betapa orang tuamu berjerih. Hingga detik itu, kamu menyesal dan berpikir tidak akan bolos kelas lagi.

Saat hendak berduaan dengan kekasih di kamar, kamu menerka apa yang dipikir orang kalau melihat lawangnya tutup rapat. Setelah mempertimbangkannya, akhirnya lawang tetap kamu buka, agar orang lain tidak berpikir yang tidak-tidak, pikirmu.

Mau sekali-kali makan di restoran kondang tinimbang di warteg sederhana, takut dipikir duitnya banyak. Kalau temanmu mikir duitmu banyak, maka permintaan traktiran menyerbu, pikirmu.

Hidup menjadi rumit, ketika kamu memulainya dari pikiran.

Pikiran-pikiran seperti itu melayangkanmu ke masa depan yang penuh terkaan, dugaan, dan perkiraan, yang tidak pernah jelas juntrungannya. Kalau sudah begitu, kamu jadi lupa kalau hidupmu hanya terjadi sekarang. Bukan pada masa lalu, apalagi masa depan. Melainkan SEKARANG.

Satu dugaan, melahirkan dugaan lain. Jamaknya dugaan, membuat satu peristiwa menjadi lebih kompleks daripada yang sebenarnya. Kompleksitas inilah ladang subur bagi penulis buku atau produser filem. Makin rimbun ranting dan cabang ceritanya, makin tinggi antusias konsumen di pasar. Dan kamu salah satu konsumennya.

Dalam dugaan, diam-diam terselip harapan. Apabila harapan tidak berbanding lurus dengan kenyataan, maka lahirlah ketakutan, kekecewaan, kemarahan, kerisauan, dan –an –an yang lain. Dengan kata lain, kalau bayanganmu akan masa depan berbanding terbalik dengan keadaan, maka akan menimbulkan –an –an yang sebelumnya tidak kamu pikirkan.

Pikiran selalu mendikte kamu. Penipu. Dan kamu bangga ketika gaung kebebasan berpikir demikian lantang dalam tempurung kepalamu. Padahal itulah penjaramu!

Kamu mau makan, tapi mikirnya banyak, bercabang, kompleks. Seperti fiksi. Padahal makan tinggal makan. Setelah menentukan mau makan nasi tumpang koyor Banjaran, kamu pergi ke lokasi. Sewaktu makan, kamu tetiba ingat banyaknya piutang yang tak kunjung kembali. Nasi tumpang koyor yang semula nikmat, kini tak lagi memikat, karena kamu terlalu asyik mikir piutang. Melupakan kenikmatan makan pada masa SEKARANG. Pikiranmu jadi juru penentu hidupmu.

Apapun yang melintas di dirimu saat ini, sadarilah. Berpikir bisa nanti-nanti. Ralat. Tidak usah dipikir! Karena satu-satunya kemampuan pikiran adalah menangkap rasio. Sedangkan kesadaran dapat menangkap rasio dan yang irasio.

Yang penting sadar. Sadar kalau kamu sudah mengantuk. Sadar ketika perut mulai keroncongan. Sadar kalau kamu sedang berduaan dengan kekasih di kamar. Sadar betul kalau bajumu nyaman dikenakan. Sadar konsekuensi membolos kelas. Sadar kalau fondasi pikiranmu berasal dari beragam proyeksi. Sadar kalau kamu terpenjara konsep bebas berpikir. Sadar kalau kamu berpikir. Bukan berpikir kalau kamu sedang mikir, apalagi berpikir kalau kamu sedang sadar.

Dalam kesadaran, tidak mengenal pemisahan. Kesadaran tak pernah membikin kesenjangan makna. Tidak ada baik dan buruk. Tidak antonim. Tidak juga sinonim. Kesadaran tidak mengenal oposisi. Kesadaran adalah ketidaksadaran. Fase ketidaksadaran akan nyata bila kamu tidak lagi diperbudak pikiran. Di situlah kesadaran dan ketidaksadaran. Menangkap yang rasional dan irasional. Ada dan tiada menjadi tak berarti.

Pikiran adalah penjara, karena pikiran mempunyai batas. Sepintar-pintarnya orang, kalau pikirannya sudah mentok, di sanalah ia menemukan bahwa dirinya kurang pintar (baca: bodoh). Maka ia belajar lebih giat. Memperbarui pikirannya. Melakukan penelitian lain, hingga yang kentara adalah ketamakan intelektual. Pikiranmu serakah. Pikiranmu terbatas oleh kebodohan dan ketamakan.

Namun kesadaran adalah yang tak terbatas. Kesadaran ada di luar pikiran. Out of mind. Karena letaknya itu, kesadaran mengenal sekaligus tidak mengenal kebodohan. Konsep bodoh dan pintar hanya ada dalam pikiran, tapi dapat direngkuh kesadaran.

Kamu pintar tapi bodoh. Mengapa? Karena pikiranmu didikte penilaian orang lain, etika yang berlaku di masyarakat, dan dihantui cerita akan ganjaran bila tak menjalankan ajaran agama. Pikiranmu mendikte hidupmu. Seolah-olah dibikin sadar. Padahal kamu cuma berpikir bahwa kamu sedang sadar. Tak pernah benar-benar bangun dari tidur yang panjang.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *