puisi

Segan Duri Ketimbang Hati

Katakan padaku,
Katakan padaku siapa yang tega membuatmu menangis semalaman seperti ini?

Katakan padaku,
Katakan padaku siapa yang mencecarmu hingga habis dayamu menatap genangan air?

Katakan padaku!
Ka-ta-kan padaku siapa yang merampas kasih yang biasa tergurat dalam lekuk senyummu?

Katakan padaku!
Katakan padaku siapa yang telah menelanjangi dirimu
Dan melelehkan tebing peranakanmu tanpa meninggalkan bintang kejora atau kalungan pelangi di atas lapangan keningmu?

Katakan padaku!
Katakan padaku mengapa kau memilih duri ketimbang aku–yang benar-benar meresapi hati?

Lihat dirimu! Lihat cerminmu!
Lihat dunia sekelilingmu!

Li-hat-lah a-ku!
Beku melihatmu membeku!
Redup melihatmu meredup!
Geram melihatmu geram!
Mendoa melihatmu bahagia!
Berpendar melihatmu bersinar!

Li-hat-lah aku!
Bukan dirimu!
Bukan cerminmu!
Bukan sekitaran ragamu!
Bukan pajangan kasurmu
Bukan padanan di sampingmu
Bukan lembah pemisah dirimu
Bukan rindu yang mencokok pada kisah lamamu
Bukan lelehan mani pada emas tubuhmu
Bukan juga bapak ibumu

Tapi a-ku

(Puisi imajiner-ku)

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *