catatan

Sejarah Berdarah

Mengapa sejarah harus dijaga sedemikian rupa, sehingga didirikan museum lengkap dengan koleksi yang tiada duanya? Jika koleksinya berbentuk buku atau manuskrip yang umurnya ribuan tahun, mau dikemanakan semua catatan tua itu? Diarsipkan di perpustakaan? Lalu, jika wujudnya artefak atau arca-arca kuno, museum seperti apa yang cocok untuk menampung saksi-saksi bisu yang kian digerus waktu? Mengapa juga kita perlu belajar sejarah?

Agar tak lapuk digerus waktu, apalagi dilupakan seperti angin lalu, maka harus ada alat bantu. Museum dan perpustakaan dijadikan alat bantu untuk mempertahankan dan mewartakan sejarah.

Di Indonesia, museum sudah menjamur di banyak tempat. Kian kemari, kian menjamur karena segmentasi museum semakin beragam. Mungkin, agar orang-orang dengan mudah mendapat informasi yang menjadi kebutuhannya secara tepat, cepat. Praktis.

***

Pagi itu, saat saya masih duduk di bangku kelas 5 SD, seluruh siswa kelas 5 di sekolah saya akan melakukan kunjungan ke Monumen Tugu Pahlawan Surabaya dan Monumen Kapal Selam (Monkasel).

Setelah menempuh beberapa waktu yang cukup lama karena macetnya kota Surabaya, semuanya terbayarkan ketika hasrat belajar saya dapat tersalurkan. Belajar sejarah.

Saya dengan dua teman Cina saya yang kebetulan sama-sama menyukai pelajaran sejarah, lebih suka melakukan penjelajahan sendiri di sekitaran museum, ketimbang harus mendengar penjelasan pemandu dalam romobongan. Kami mengamati.

Namun tidak cukup pada pengamatan objek-objek ilustrasi di ruangan museum bawah tanah yang bercat putih bersih itu, untuk belajar sejarah juga butuh pengarahan. Butuh pemandu. Butuh alat bantu. Agar tidak mudah terpeleset karena sikap egosentris.

Demikian setelah kunjungan ke museum itu, kami lebih rajin membaca buku sejarah di perpustakaan sekolah.

Kami belajar.

***

Markant Gebouw, Oosterpark, Amsterdam — 1 Agustus 2013, Perpustakaan Institut Tropen resmi ditutup. Penutupan perpustakaan yang berdiri 1864 ini, merupakan dampak kebijakan Kabinet Rutte yang menghentikan subsidi tahunan sebesar 20 juta euro (per 1 Januari 2013) untuk bidang seni kebudayaan di Belanda. Perdana Menteri Mark Rutte sengaja memotong dana tersebut lantaran penghematan anggaran sejumlah 350 juta euro.

Penghematan besar-besaran ini membawa dampak buruk bagi beberapa lembaga seni budaya di Belanda, termasuk Institut Tropen.

Setelah perpustakaan yang dibawahi Institut Kerajaan Tropen (Koninklijk Instituut voor de Tropen/KIT) ini ditutup, ratusan orang datang berbondong-bondong dan rela antre panjang. Tak lain yang mereka incar adalah buku-buku koleksi Perpustakaan Institut Tropen yang dibagikan secara gratis. Tak hanya Perpustakaan Tropen yang gulung tikar, Museum Tropen yang juga dibawahi KIT, pun terancam runtuh per 2017 mendatang.

Jika Institutnya amburadul, pegawainya juga ikut amburadul. 90 dari 260 lapangan pekerjaan di KIT dihanguskan. Memasuki 2014, 23 dari 52 karyawan KIT diminta angkat kaki dari Markant Gebouw. Pengangguran.

Pelik.

Pelik.

Pelik.

Mengapa peliknya persoalan KIT begitu penting untuk disimak?

Sebab musabab, banyak sekali buku koleksi Perpustakaan Tropen yang memuat data perihal Indonesia. Dari 900 ribu koleksinya, yakni sekitar 500 ribu buku terbitan tahun 1950 ke atas dan sekitar 400 ribu warisan Belanda berwujud peta kolonial. Dan Indonesia hanya mendapat hibah sekitar 13 ribu buku. Ditambah belum diketahui pasti di mana buku-buku itu akan didudukkan. Bagaimana?

Yang lebih aneh lagi adalah penolakan puluhan buku tua dan naskah-naskah kuno tawaran Perpustakaan Tropen kepada Indonesia. Perpustakaan Tropen sengaja meminjamkan beberapa koleksi eksklusif-nya untuk dipamerkan di museum-museum dalam negeri.

“Namun, dengan pertimbangan bahwa ini sangat riskan dan punya konsekuensi berat, kami menolak,” ungkap Bambang Hari Wibisono, Kepala Bidang Pers dan Publikasi KBRI Den Haag, seperti yang tertulis dalam Majalah Tempo 2 Februari 2014.

Di sisi lain, Museum Tropen juga menyimpan arca kuno macam Sri Bhatara Anusapati, raja kedua kerajaan Singosari, Pustaha yang merupakan buku pendeta dari Batak, dan De Kris van Knaud, keris pemberian Paku Alam V kepada Charles Knaud (1840)–anak tuan tanah sekaligus pemilik perkebunan, kelahiran Jawa Tengah. Namun Museum Tropen sedikit lebih beruntung dari saudaranya, Perpustakaan Tropen. Museum yang dulunya bernama Museum Kolonial ini dijanjikan oleh pemerintah Belanda akan terus mendapat asupan subsidi hingga 2016, setelahnya, pemerintah lepas tangan.

Di tangan para pro seni kebudayaan di Belanda, kampanye dan festival penolakan program kerja Kabinet Rutte mencuat di mana-mana dan ternyata membuahkan hasil. Lewat petisi online yang menyatakan keberatan mengenai pemberhentian subsidi bidang seni kebudayaan di Belanda, ternyata cukup membuat pemerintah sedikit berlapang dada. Keputusan alternatif yang ditawarkan pemerintah, sebagian koleksi Museum Tropen akan dipindahkan ke Museum Nasional Etnologi dan Museum Afrika. Mirisnya lagi, ruang-ruang Markant Gebouw yang dulunya penuh dengan ornamen pemuas mata itu, kini disewakan kepada beberapa perusahaan. Untuk acara seminar misalnya.

“Kami sudah lama merasa diremehkan oleh Kabinet Rutte yang neo-kapitalis dan pragmatis ini. Bidan seni dan budaya mereka sebut sebagai hobi kiri,” ungkap Justus van den Bergh, 23 tahun, mahasiswa Universitas Leiden, tulis Majalah Tempo 2 Februari 2014.

Kabinet Rutte.

Neo-kapitalis.

Dimana lagi tempat belajar sejarah jika seperti ini terus? Dimana lagi tempat membaca buku-buku tua yang dulunya merupakan koleksi Perpustakaan Tropen? Rumah kerabat yang ikutan mengantre buku gratis?

Bagaimana respons pemerintah Indonesia soal arca Sri Bhatara Anusapati yang terpisah sejauh 12 ribu kilometer dari kota Malang ke Amsterdam? Bagaimana bisa arca yang semestinya berada di Candi Kidal, Desa Rejokidal tersebut dapat duduk manis di Amsterdam? Bagaimana dengan arca lainnya?

Bagaimana respons pemerintah? Jangankan mengurus arca dan prasasti Nusantara kuno di Belanda, menempatkan 13 ribu buku hibah dari Perpustakaan Tropen saja masih kelabakan.

***

Saya jadi bertanya-tanya mengapa seni kebudayaan dipandang sebelah mata? Jika seni kebudayaan masa lampau mempengaruhi dunia yang kita tinggali sekarang ini, mengapa macam Institut Tropen harus distop lajunya?
Kemana lagi ilmu sejarah akan dicari jika kasus seperti Institut Tropen kian merajalela? Di tempat mana lagi sejarah akan dijaga dan diwartakan? Perpustakaan? Museum?

Ataukah sejarah hanya akan menjadi sekadar wacana berdarah, dilupakan seperti angin lalu, dan kelak habis digerus waktu?

Pikirkan itu.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *