jurnalistik

Selain Lotek, Atien Menjual Keramahan

Pada dasarnya, manusia bergerak karena ingin memenuhi kebutuhannya. Dan salah satu kebutuhan manusia ialah makan.

Makanan manusia pun beragam. Mulai dari nama, jenis, dan rasanya, semua berbeda. Hal ini mungkin dipengaruhi kondisi geografis yang berbeda tiap daerahnya. Seperti perbedaan antara soto Jawa Timur dengan soto Jawa Tengah. Soto Jawa Timur menggunakan mangkok yang lebih besar ketimbang soto Jawa Tengah, otomatis porsinya beda. Soto Jawa Tengah berkuah bening. Berbeda sekali dengan soto Jawa Timur yang warnanya kuning karena kunyit.

Tapi kita tidak berbicara lanjut soal soto. Melainkan, lotek.

Jam 9 pagi, aktivitas Pedagang Kaki Lima (PKL) mulai terlihat di sepanjang trotoar jalan Diponegoro depan UKSW. Di sana, beragam makanan dan minuman dijual. Salah satunya yang paling memikat hati saya, ialah Warung Lotek Bu Atien. Saya sebagai mahasiswa pendatang dari Surabaya, tentunya akan susah menemukan pecel dan gado-gado yang notabene makanan khas Surabaya. Hanya saja, lotek terasa lebih manis ketimbang pecel, pun gado-gado.

Maka, saya pikir, lotek ialah tombo kangen.

Pagi itu saya sengaja menunggu Atien selesai menata warung. Setelah menata warung dan siap melayani pelanggan, saya disambut dengan senyum dan dipersilahkan duduk. Jika Atien belum begitu mengenal pelanggannya, ia pasti akan menawarkan opsi. Antara lotek lontong atau lotek nasi. Namun, jika ia menghadapi pelanggan yang tak asing baginya, ia tak perlu repot-repot menanyai pesananan pelanggan. Ia sudah hafal.

Dari rutinitas tersebut, Atien jelas mengutamakan keramahan dalam pelayanannya. Ia begitu pandai membuat pelanggannya betah dan menyukai loteknya. Saking membludaknya pelanggan, saya pernah tidak kebagian meja dan tempat duduk.

Wanita 45 tahun ini berjualan lotek di depan UKSW sedari 1998. Namun, warung lotek ini sempat dibredel pada 2007. Pada tahun tersebut, PKL sepanjang trotoar depan UKSW memang banyak membuat sampah, demikian terang Atien. Melihat kotoran-kotoran PKL yang tak terjamah itu, pemkot segera melakukan penertiban.

PKL depan kampus mendapat surat larangan dari pemkot perihal kegiatan mereka. Kegiatan PKL sempat mati suri. Keputusan pemkot membuat PKL gelisah. Beberapa perwakilan PKL yang vokal, Atien salah satunya, menuntut hak mereka ke kantor Pemkot.

Inisiatif perwakilan PKL tersebut, sontak menggelitik Kris Herawan Timotius, rektor UKSW yang tengah menjabat saat itu, untuk memperjuangkan hak PKL. “Jadi, pihak kampus membela rakyat kecil,” gagas Atien.

Atien melanjutkan, tindakan rektor UKSW saat itu lantas membuat pemkot terenyuh. Akhirnya, pemkot memutuskan memberi kelonggaran bagi PKL di depan UKSW. PKL diizinkan kembali untuk berjualan, namun baru boleh mulai pasang tenda pukul 9 pagi.

Sebelum ada pelarangan tersebut, warung lotek bu Atien masih leluasa buka lapak sejak subuh. Tapi dengan keputusan tersebut, Atien serba terbatas hingga kini. Namun ia bertahan. Untuk mempertahankan roda usahanya, warung lotek bu Atien pernah menerima bantuan peralatan dari PDIP dan PT. Djarum. Seperti spanduk dan tiang-tiang tenda.

Warung lotek ini biasanya akan tutup tenda sekitar jam 2 siang. Jika ingin mencicipi lotek bu Atien ini, lebih baik datang sewaktu jam istirahat. Dan kini, saya menjadi pelanggan tetap warung lotek bu Atien. Karena dalam seminggu saya bisa 3-4 kali makan di warung lotek ini. Saat saya tanya apakah ada resep rahasia yang dipakai, “tidak ada,” katanya. “Yang penting saya ramah sama pelanggan mas,” terang Atien.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *