catatan

Senyum

Beberapa hari yang lalu, ia mengatakan pada saya kalau salah satu hal yang mendorongnya untuk menyayangi saya ialah: senyum saya sendiri. Lalu ia mewanti-wanti saya agar tak mudah senyum dengan wanita, selain dia. Saya tahu, dia guyon. Tapi guyon yang serius. Ada ketakutan yang tersirat di sana.

Saya amat suka senyumnya yang biasa saya sebut “senyum simetris”. Mengapa demikian? Tak lain karena setengah kecantikan bulan ada di lekukan bibirnya, ditambah giginya yang berbaris rapih, dan lesung pipinya komplit dua—mirip seperti adik bungsu saya.

Ah, cukup.

Pikiran saya mengatakan, seseorang tersenyum tak mungkin lepas dari alasan-alasan tertentu. Ada yang mau senyum karena diminta, ada senyum tanpa diminta. Jangan heran juga kalau ada yang tersenyum karena paksaan.

Sekalian membuat pengakuan, saya lebih suka jika senyum tanpa diminta. Karena senyum model seperti itu, biasanya dari hati. Tidak mengada-ada dan sifatnya otentik. Senyum tanpa diminta, terpancing karena ada alasan yang membuatnya berdecak kagum.

Maka dari itu, ketimbang meminta orang agar mau tersenyum—baik secara paksa atau tidak—lebih baik membuat satu atau (jika perlu) sejuta alasan, agar orang lain mau tersenyum dengan sendirinya. Tanpa diminta.

Tapi bukan berarti, setelah membaca tulisan ini, lantas kita harus senyum melulu, sehingga menghindari kemurungan. Sesekali, murung pun tak apa. Karena semua punya masanya, habis murung, terbitlah senyum.

Standard

2 komentar pada “Senyum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *