puisi

Seolah Damai Manusia Cuma Dalam Minyak

Dari tiap sudut perangkat teknologi terkini,
tersiar kabar bahwa minyak dalam negeri
beranjak sejumput Rupiah.
Ternyata bukan tong kosong!

Hampir menginjak tengah malam,
baru saja kulihat ada lelaki paruh baya
kebut-kebutan dengan motornya.
Ia lesat melewati pemandangan penuh manusia cemas–seolah besok tidak ada tetes lagi untuk mereka bepergian.

Lautan manusia cemas, menciptakan lapisan lemas.
Kerap buat beberapa orang gemas!
Hingga pernah suatu kali terjadi,
pendatang yang gemas, didepak kawanan insan yang mengatasnamakan dirinya setia pada Yogyakarta.
Bukan salah fosil mengandung minyak,
tapi kita(?)

Satu gemas, hilang dua emas. Pikirkan!
Ketika minyak bumi melangka, damai manusia justru lebih langka.

Tapi aku segan dengan lelaki kebut-kebutan tadi.
Kesimpulannya, ia damai. Pikirkan.
Pret.

November 2014, 13 menit setelah kenaikan bahan bakar minyak dalam negeri

Standard

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *