catatan

Seperti Kambing

Konon katanya kalau jadi anak kos itu harus serba mandiri. Entah itu kata siapa, kata orang-orang tua biasanya. Katanya harus bisa cari makan sendiri, bisa cuci baju sendiri, bisa rawat diri sendiri pas sakit, bisa bisa bisa. Pokok serba bisa. Tapi itu saya cuma kutip kata orang-orang. Selebihnya, di tangan masing-masing.

Dulu sekali rumah saya di Surabaya sepaket jadi satu dengan usaha Wartel milik bapak saya. Sebelah kanan rumah ada kosan laki-laki, jadi kalau pas hari-hari libur atau jam malam, rumah saya pasti ramai dan sesak anak kosan sebelah. Ditambah lagi teman-teman bapak saya di area komplek. Cangkruk sampek matek!

Tapi saya tak pernah mempermasalahkan kalau rumah saya jadi pusat cangkrukan di komplek itu. Justru saya malah belajar banyak soal bersosialisasi, sedikit demi sedikit juga belajar sekitaran tentang anak kos.

Namun sempat ada skandal dari salah satu anak kos yang tinggal. Namanya Parlin, rambutnya dicat pirang dan ada beberapa tindik melekat pada telinganya. Yang dipermasalahkan waktu itu sih kalau tidak salah, Parlin nekat mengaburkan cewek orang ke dalam kosannya. Seketika setelah masalah itu kelar, dia keluar.

Ada perasaaan-perasaan senang dan bangga yang meliputi saya ketika mengetahui dalam dua minggu ke depan akan resmi menjadi anak kosan. Saya merasa lebih beruntung ketimbang teman-teman saya yang melanjutkan studinya di Surabaya lagi. Perasaan bangga yang telah menjamur itu perlahan terkikis rasa takut. Takut kalau nanti homesick, takut jatuh sakit, takut kehabisan uang, takut nanti kalau bernasib sama seperti Parlin, takut takut takut, seperti kambing. Pokoknya takut. Apalagi bapak ibu mewanti-wanti macam-macam hal, ribet, semakin takut. Seperti kambing.

Sepanjang September hingga awal November, saya habiskan waktu untuk melawan imajinasi-imajinasi yang seringkali kita salah gunakan, namanya: ketakutan.

Teman pertama saya di kosan, Ivan Vartha Rizza, layak mendapat kursi di catatan saya. Sepanjang bulan itu ia membantu banyak membentuk kepercayaan saya menatap kota mungil Salatiga.

Ketakutan-ketakutan itu tak serta merta hilang begitu saja. Terutama takut kehabisan uang, lalu takut tidak bisa makan. Takut takut takut, seperti kambing. Cok!

Tapi lalu saya memutuskan ikatan dengan ketakutan-ketakutan macam begitu, merugikan, pikir saya. Toh, saya punya teman banyak.

Tidak lagi seperti kambing.

***

Seminggu yang lalu saya baru saja menyantap rame-rame gule kambing masakan ibunya Hendro , teman kosan saya. Selain rasa kuah dan dagingnya yang lezat, tidak perlu keluar uang ternyata menambah cita rasa dan kepuasan yang tiada duanya kala malam itu.

Maklum, semenjak awal bulan Januari, menuju tanggal-tanggal tua, saya mulai kehabisan uang dan mulai menginap di kampus. Tepatnya di kantor Scientiarum. Dengan harapan bisa tetap dapat asupan (tanpa uang) buat perut yang kadang-kadang sukanya cemberut. Kebetulan juga malam itu saya berencana tidur di kos (semacam sudah bosan), setelah hampir sebulan saya menginap di kantor.

Kepulangan saya ke kos disambut begitu saja dengan masakan gule kambing yang kuahnya memberi lebih dari sekadar kehangatan. Angkat sendok dan piring! Sikat!

Rasanya seperti terlempar ke dimensi lampau ketika teringat perkataan seorang seniman dalam diskusi kecil di kantor Scientiarum. Saya lupa tepatnya seperti apa, tapi intinya ia berkata kalau semua yang kita butuhkan sudah disediakan oleh semesta, jadi tidak perlu takut berkekurangan. Tidak lagi seperi kambing, justru sebaliknya, makan kambing!

Tuhan saja pelihara bunga bakung di padang dan burung-burung di udara, apalagi saya yang anak kos.

Standard

2 komentar pada “Seperti Kambing

  1. andreas reuben says:

    tulisan yang anda buat sangat menarik sekali. apa lagi menyangkut tentang anak kos. dan juga tulisan memberikan gambaran bahwa hidup anak kos tidak serta merta susah untuk hidup, melainkan pasti ada “tangan dermawan” yang membantu kita.
    tetapi yang ingin saya tanyakan anda memberikan judul dengan seperti kambing. filosofi apa yang anda ambil tentang kambing terhadap tulisan anda.

    thanks.

Tinggalkan Balasan ke Arya Adikristya Nonoputra Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *