puisi

Setuju?

Menulis itu senam otak dan rasa
Tiap kata punya indah dan kuatnya
Tidak ada tangga kasta,
yang main pisah kata
Tai dan nasi, setara.
Jika salah satu tak dalam rengkuh,
manusia mati sia-sia.
Otak arahkan kata untuk dibaca siapa
Sedang rasa, hantar kata agar pembaca ambil langkah
Kabar kabur berkata: perempuan dan wanita itu beda.
Apa yang tidak sama?
Mungkin kita(?)
Mungkin makna yang hidup dalam tubuh kita(?)
Manusia bebas jumpa
Ya(!)
Mungkin(?)
Kata tidak harus sederhana,
karena tergantung siapa yang membaca.

Rahim kata-kata cintaku suatu kali berkata: yang penting, bijaklah memilih kata.
Bijak bukan saja angkat kata yang dianggap alim dan baik-baik saja.
Bijak itu soal tepat di dalam tempurung kepala,
dan didukung alam rasa.
Ah, sebentar.
Soal kata,
aku tak perlu bawa kita.
Aku ogah bawa kami, mereka, dia, ini-itu.
Aku hanya bawa aku.
Kata-kataku cerminan siapa aku.
Setuju?

Denpasar, 20 November 2014

Catatan: Entah apa yang dikatakan Cok Sawitri kepada kawula muda di ruangan itu, pada malam 19 November 2014. Saya lupa. Yang jelas, ia berhasil menyuntikkan suatu pandang dan rasa kepada saya akan kata-kata. Sebisa mungkin ketika menulis, saya adalah saya.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *