catatan

Surat Cinta No. 88

Tidak ada bunga yang tak ‘kan mati. Dan tidak ada coklat yang tak jadi tai. Begitu juga dengan cap jay goreng yang kami makan tadi. Namun semua yang kita beri dan terima, tentunya punya nilai tersendiri apabila bisa dibekukan menjadi memori.

Ini cuma soal beda nilai yang disangkutkan dengan nama besar budaya Nusantara. Pertanyaannya, budaya “nusantara” yang mana dan seperti apa? Seorang di sana bernama SriKanti Kupu Hitam, pernah mengatakan begini: “Budaya dari sana begitu ramainya bertengkar berebut tempat dengan budaya dari situ, di tengah-tengah budayaku yang mendengarkan dengan damai sambil ngopi di teras rumah yang teduh…¬†Meskipun begitu, budayaku sedang mati-matian bertahan hidup.”

Hidup ini yang penting enak. Dan yang enak, harus diusahakan. Namun segala yang diusahakan, tidak semua dapat membuahkan hasil. Begitu juga dengan budaya. Semuanya mau cari posisi enak, hingga kadang tak sadar sedang tumpang-tindih, bunuh sana-sini. Hidup tak lagi jadi enak.

Berbudaya semestinya berangkat dari cerewet pada diri. Dan dipilih orangnya sendiri. Apa yang hendak didapat dari mengenyam suatu budaya? Bagaimana cara mengenyamnya? Setelah mendapat, apa yang ingin dilakukan selanjutnya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak bisa dijawab, jika kita tidak cerewet dengan diri sendiri. Antara cerewet dengan mengeluh, apalagi menghujat, jelas beda jauh.

Tapi soal budaya-budaya yang rebutan tempat ini, aku cuma tahu ada satu budaya yang agaknya lebih pas buat manusia, ketimbang budaya lainnya: cinta. Kasih sayang.

Maka dari itu, Tuhan, berkatilah mereka yang tengah merayakan hari kasih sayang, pun bagi mereka yang tidak merayakannya. Tak ketinggalan juga, bagi mereka yang menolak atau mengutuki hari ini. Semoga logika dan rasa sehat senantiasa.

Salatiga, 14-15 Februari 2015

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *