puisi

Tai yang Merenggut Bahagia

Maaf, nang.
Tapi perutku sakitnya pelik
Empat jam yang lalu
meneguk anggur dan makan tubuh Tuhan,
Perjamuan kudus, katanya

WC-nya kupinjam dulu, nang.
Toh, ini buat kas masuk ibumu
Suatu saat kamu mengerti,
bermain di pantai, jauh lebih menyenangkan
ketimbang di WC,
tempatmu mengolah imaji
menjadi pelipur benci terhadap ibumu

Tak usah menangis terus, nang.
Aku di dalam WC,
setengah salah
setengah peduli setan
persetan, meski tai ini merenggut mainanmu

21 September 2014

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *