catatan

Tat Twam Asi

Apa yang terpenting dalam sebuah hubungan? Jawabannya, kebebasan. Tanpa kebebasan, hubungan tak lebih dari sekedar kedok. Banyak maunya, banyak nuntutnya – ego namanya. Kebebasan jadi tai kucing rasa coklat, kata Gombloh.

Padahal sudah jelas, bila sebuah hubungan tidak didasari kebebasan, maka namanya jadi penguasaan – yang banyak aturan. Kalau sudah ada tumpang tindih kuasa, terbagilah kita ke dalam dua kelas berbeda: aku dan kamu – tak lagi kita.

Hubungan kita adalah manifestasi kesalingan – bukan penguasaan yang sifatnya dominan satu arah. Tanpa kesalingan, kita tak dapat berhubungan – jenis apapun.

Hubungan – dengan bermacam bahasa lumrahnya – memiliki label. Lantas label ini digunakan untuk menamai keterikatan siapa aku dan siapa dia. Dia temanku, aku temannya. Aku kekasihnya, dia kekasihku. Dia anakku, aku anaknya. Aku musuhnya, dia musuhku. Dia orang asing bagiku, aku orang asing baginya.

Dengan bahasa lumrah juga, aku sedang berhubungan asmara dengan Indrika – pacaran. Malam 15 November 2014, beberapa menit jelang kosnya tutup, waktu aku masih cupu, kutembak dia. Tapi ia tak mati. Karena pistolnya mulutku dan pelurunya adalah sebuah kalimat mengajak. Dia mau. Dengan segala keluguan saat itu, kami senang.

Kupikir, sejak mendapat label pacar darinya, maka akan banyak hal baru dalam hubungan asmara kami. Itu betul. Baru-baru ini, aku malah sadar kalau malam itu sama saja dengan malam-malam biasanya. Tak ada spesialnya.

Banyak orang yang berpikiran kalau label adalah sumber penguasaan – hilangnya kebebasan. Lantas mereka berbondong-bondong berhubungan tanpa ada label, atau jika masih mau label, maka mereka melatih kesabaran untuk memahami satu sama lain. Padahal, dalam berhubungan tidak butuh kesabaran, karena kesabaran hanyalah seni menahan diri, menekan amuk ke alam bawah sadar. Tinggal tunggu waktu meledak saja. Selama mereka masih terikat pada konsep “hubungan tanpa label dapat membebaskan dari penguasaan”, jerih payahnya percuma.

Hubungan yang sejati tak terikat pada label. Hubungan letaknya ada di dalam. Tidak dapat dialami sebatas indrawi dan isi kepala orang bodoh. Sedangkan label, letaknya ada di dalam pikiran. Semu. Indrawi. Terikat. Tidak bebas.

Tanpa dibebas-bebaskan, hubungan itu sudah pasti bebas dan berkesalingan. Kamu bisa saja mendapat label pacar dari kekasihmu, atau bayi yang keluar dari rahimmu boleh kamu sebut anakmu, dan sah-sah saja untuk menyebut orang itu temanmu, tapi yang harus diingat, siapapun itu, dia bukan milikmu. Hidup boleh satu atap, boleh juga meluangkan kesempatan dan berbagi bersama, tapi hidup adalah seni melakoni diri sendiri. Kalau sudah mantap secara pribadi, baru bagikan secara kolektif.

Penguasaan tidak lahir dari rahim label. Label hanyalah kata-kata, bukan kenyataan. “Dia kekasihku”, “aku cinta kamu”, dan “aku orang tuanya” adalah kata-kata yang asalnya dari pikiran. Sedangkan kata-kata adalah reduksi makna. Ia hanyalah kenyataan berbulu kebenaran. Tapi kebenaran bukanlah keniscayaan, karena ia mudah dibengkokkan sesuai keinginan. Tapi hubungan yang bebas dan berkesalingan adalah kenyataan, karena kenyataan selalu niscaya.

Hubungan yang bebas dan berkesalingan juga tidak sama dengan perselingkuhan. Karena perselingkuhan adalah pengkhianatan – permainan. Melahirkan kebencian. Sedangkan dalam hubungan, tidak ada kebencian. Hubungan selalu penuh dengan cinta. Dan cinta bukanlah kebalikan dari benci. “Hate cannot be true,” kata seorang mistikus di Wisma Tropodo, Sidoarjo.

Dalam hubungan tidak dibutuhkan pengorbanan, karena semuanya harus dilakukan dengan keikhlasan. Kalau sampai jatuh korban, namanya pembunuhan.

1-tat-tvam-asi

Penulisan larik “tat twam asi” dalam bahasa Sansekerta.

Kalau sudah terbunuh, kita tak bisa saling mengasihi lagi. Tak ada kita. Terpecah menjadi aku dan kamu. Hubungan tak lagi otentik. Gde Aryantha Soethama bilang, di Bali ada istilah tat twam asi. Artinya, aku adalah kamu. Dengan kata lain, tat twam asi adalah pegangan hidup untuk saling mengasihi sesama, karena menyakiti, merusak, dan menikam orang lain, sama dengan membacok diri sendiri. Kalau hubungan kita tak lagi jujur, penuh pemaksaan dan penguasaan, maka tat twam asi jadi tai kucing rasa coklat. Ego merajai.

Untuk mengasihi orang lain, kita tidak perlu mempedulikan label. Kalau tidak mau mengasihi (lagi), ya sudahi saja. Setidaknya jujur sama diri sendiri.

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *