jurnalistik

Tjin(t)a, Cin(t)a, Chin(t)a

Ada banyak orang di jaman kini yang terlalu sibuk mempelajari berbagai bahasa asing yang dikira keren dan lebih mendunia. Sebagian ada yang sudah diajarkan sejak belia, sebagian harus keluar biaya untuk menempuh kursus, namun ada juga yang saking tidak punya duit–akhirnya mereka belajar menjadi otodidak abadi. Mulai dari bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Perancis, Spanyol, Portugis, hingga bahasa Mandarin (kelas 1 hingga 3 SD saya sempat belajar bahasa ini di sekolah), asal bahasa asing itu sesuai dengan kebutuhan, pokok dipelajari. Saya termasuk salah satu korban bahasa Inggris.

Orang-orang kita ini entah sedang sibuk apa. Tidak jelas. Alasannya ingin mendorong pembangunan negara. Memangnya mendorong pembangunan negara harus dengan mempelajari bahasa asing?
Bahasa ibu saja dewasa ini masih banyak yang tidak becus (termasuk saya), mau sok-sokan membangun negara dengan belajar bahasa asing?

Coba tengok dulu persoalan bahasa kita, sebelum melangkah keluar. Ada sepatah kata yang masih jadi pro kontra soal makna dan konotasinya: “Cina”. Bagi saya, mau “Tjina” kek, mau “Cina” kek, “Chinese”-lah, mau “China”-lah, “Tiongkok”, atau “Tionghoa”; yang penting ya makna dan sistem kebahasaan kita tidak jadi kacau. Dan saya lebih suka bicara apa adanya, sesuai dengan kebutuhan.

Sapardi Djoko Damono, sastrawan Indonesia, pernah menulis soal rancunya penggunaan kata “Cina” di kolom Bahasa medium Tempo. Esensi yang melintas di sekitaran mata saya usai membaca tulisannya, kalaupun ada sepatah kata yang dinilai mempunyai konotasi positif maupun negatif, semua itu tergantung dari konteks pembicaraannya. Semua tergantung orangnya.

“Masalahnya, apakah perubahan mengucapkan itu tidak bertentangan dengan prinsip tata ejaan dan tata bunyi bahasa Indonesia? Kalau demikian halnya, pengubahan ejaan itu telah mengganggu (kerennya:”mengintervensi”) sistem kebahasaan kita”, tulis Sapardi dalam artikelnya yang berjudul “Tjina, Cina, China”.

Tapi pembahasan soal “Cina” tidak sesimpel membalikkan telapak tangan. Salah sebut di tempat yang salah, bisa-bisa menyulut api dalam bensin. Teman kelas Bahasa Jurnalistik saya, Carin, pernah membahas soal pembedaan makna dari pengucapan “Cina” dengan “China” (baca: Chaina, cayna) di tempat tinggalnya. Ia menjelaskan lebih dalam lagi. Katanya, kalau “Cina” itu konotasinya dipahami sebagai sebuah ejekan. Beda lagi kalau dengan “China” atau “Chinese”, kata-kata ini dianggap lebih sopan dan cenderung menghindari singgung keras dengan lawan bicara (apalagi jika lawan bicaranya orang Cina).

Tapi saya tidak heran dengan cerita Carin. Sejak bersekolah di Surabaya, teman bergaul saya mayoritas memang orang Cina. Saya anak dari pasangan orang Jawa, bergaul dengan orang-orang Cino (kata lain “Cina” dalam Suroboyoan, bahasa Jawa Surabaya), juga tidak pernah bermasalah soal penyebutan “Cina” atau “Cino”. Lalu?

Malahan di setiap kesempatan bercanda, saya dengan teman-teman Cino saya sering menggunakan istilah-istilah seperti “Cino Singkek”, “Ampyang” (sebutan untuk etnis Cina campuran etnis lain), atau ada juga istilah teman-teman saya di Surabaya untuk menyebut kaum pribumi: “Hoana” (baca: hoana/huana/wana; bagi mereka, kaum pribumi adalah etnis selain Cina).

Pertanyaan yang hingga kini menancap di otak saya, keadaan seperti apa ketika seseorang disebut seorang “Hoana”?

Lalu?

Remy Sylado, sastrawan Indonesia lainnya, juga sempat melontarkan krtitik soal penggunaan istilah “China”. Penggunaan “China” yang dianjurkan Kedutaan Besar Republik Rakyat Cina di Jakarta ditentang langsung oleh Remy lantaran dinilai pemaksaan yang bersifat politis.

Pada masa Orba, masyarakat ditekankan bahwa penggunaan istilah “Cina” adalah yang paling benar dan istilah lain seperti “Tiongkok” wajib lenyap setelah Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera terbit. Padahal di dunia ini tidak ada yang benar-benar benar dan tidak ada yang benar-benar salah. Ah, namanya juga tirani, wajib dilawan, kata Widji Thukul.

Media Indonesia juga seperti keledai. Sesaat setelah rezim Soeharto tumbang, pengumuman resmi dari Kedubes Besar RRC tersebut mencuat, media-media dan figur-figur publik di Indonesia langsung gencar menggunakan istilah “China” yang ternyata tidak tertera di KBBI.

Sudah tidak tercatat di KBBI, pun pelafalan untuk “China” ini terkesan “sok Inggris”, menurut Remy. Mau dikemanakan khas pelafalan melayu kita?

Dalam sebuah diskusi pada Borobudur Writers and Cultural Festival, Oktober 2013, Remy mengemukakan satu istilah yang diharap bisa memecah masalah: “Cungkuo”. Diambil dari kata Zhongguo yang artinya sendiri merujuk pada negeri Cina.

Masalah selesai?

Ada orang-orang yang sampai sekarang masih bertahan pada penggunaan istilah “Cina”. Alasan mereka cukup rasional jika menghadap pada KBBI. Tapi jika yang dihadapi bukan KBBI, melainkan situasi lapangan yang masih menganggap “Cina” adalah sebuah hinaan? Bagaimana?

Kembali lagi, semua tergantung orangnya, situasinya, pengucapaannya, penggunaanya, dan pemaknaannya. Saya lebih suka tidak memihak penggunaan “Cina” ataupun “China”, menarik diri dari kubu-kubu memang menyenangkan. Menjadi non-blok seperti gagasan Soekarno memang menyenangkan, sekaligus mengerikan.

***

Kalau ingat-ingat lagi soal orang Cina, jadi ingat soal wanita saya dulu di Surabaya.
Ya, ia seorang Cina. Setahun lebih tua. Pemain basket. Matanya sipit, bulu matanya lentik. Kulitnya tak nampak seperti orang Cina yang lainnya–lebih eksotis dari Cina lainnya.

Saya yakin sekarang ia lebih cantik.

Namun sebagian orang menganggap saya sedang bermain api ketika bersama wanita saya. Karena saya orang Jawa dan ia Cina. Tapi saya cuek. Saya mengikuti kata hati dan semesta.

Di seperempat perjalanan, kami tersandung batu yang sampai sekarang masih tak jelas apa. Saya coba mengingat-ingat batu apa itu, tapi buat apa? Yang terpenting saya tidak kapok bergaul dengan orang Cina hingga sekarang.

Saya berpikir kalau saya juga berhutang budi kepada orang-orang Cina di sekitar saya. Saya lebih beruntung ketimbang mereka yang tidak mempunyai wawasan mengenai Cina dan tetek bengeknya.

Sedikit banyak saya mengerti soal Cina, termasuk istilah-istilahnya yang menjadi kontroversi dalam tata bahasa Indonesia. Tapi daripada repot-repot mengurus mana yang lebih etis dari istilah “Cina” maupun “China”, daripada terlalu lama menunggu keputusan Komisi Istilah Lembaga Bahasa, lebih baik buat kesepakatan dalam penggunaan istilah-istilah di sekitar kita–bukan hanya istilah “Cina”. Setelah sepakat, cintai kesepakatan itu!

Standard

5 thoughts on “Tjin(t)a, Cin(t)a, Chin(t)a

  1. Pingback: Sejarah Berdarah | Arya Adikristya Nonoputra

Tinggalkan Balasan ke Deden Anwari Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *