catatan

Tuhan, Saya, Laptop

Doa saya minggu-minggu ini: “Bunga bakung di padang dan burung pipit yang kecil saja dipelihara Tuhan. Terlebih diriku yang butuh laptop (agar lebih produktif menulis, pikir saya), tapi belum punya.”

Karena Tuhan balasnya agak lama, mungkin lebih baik saya mulai mengumpulkan helai demi helai petunjuk–yang bisa saya pakai saat ini juga. Seperti: Menulis satu puisi sama dengan berdoa sepuluh kali. Lalu mengirim satu cerpen, esai, atau puisi ke beberapa kantor redaksi, tak cukup dilakukan cuma sekali. Catatan tambahan, jangan lelah bekerja menjadi “spammer” surel redaksi yang dituju.

Ada juga kawan yang mengatakan kalau membaca satu bacaan (wujud apapun), juga tentu kurang untuk kurun waktu sebulan ini. Yang satu ini agaknya aneh bagi mereka yang menganggap aneh, karena saya tengah mengumpulkan dan memilah barang tak digunakan untuk menambah pemasukan kantong nantinya.

Mungkin, cara-cara di atas bisa menghantar doa sampai ke Dia. Seperti iklan komersil rokok pernah bersabda: “Maybe yes, maybe no.” Urusan saya cuma mengukuhkan niat dan laku.

Setelahnya, saya cukup percaya. Sebagaimana pernah dikatakan hati saya sendiri, ketika berdoa agar bisa punya pacar (dan nyatanya sekarang terwujud. Huehehe): “Percayailah dirimu sendiri, seperti dirimu memercayai puisi-puisimu.”

Standard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *