jurnalistik

Tulisan Saya Masuk SAYA Magazine

TitipInilah resensi filem pertama saya. Ini pertama kalinya juga tulisan saya dimuat majalah psikologis dan lifestyle asal Makassar, SAYA Magazine. Sudah cukup lama saya ingin mendapat honor dari tulisan sendiri, tapi baru keturutan sekarang.

Asal muasal saya memberi kontribusi untuk SAYA Magazine Makassar, saya sebenarnya diminta kakak saya, Satria, mengisi rubrik resensi filem untuk penerbitan majalah edisi 59 April 2014. Saya turuti saja, dengan pertimbangan hitung-hitung mencari pengalaman jadi penulis kontributor.

Sebelumnya saya juga pernah diminta kakak kelas saya di SMA, untuk menulis di New Media Festival Surabaya, sebuah medium online yang menyorot kehidupan serba dijital.

Karena saya sudah mengiyakan permintaan Satria, saya tak ingin menelan ludah yang sudah dibuang. Meskipun pengumpulannya agak terlambat karena bentur dengan deadline tulisan lainnya.

Sampul majalah SAYA Magazine Edisi 59, April 2014.

Sampul majalah SAYA Magazine Edisi 59, April 2014.

Selang beberapa minggu setelahnya, saya mendapat kabar dari seorang alumni Scientiarum, El, yang ternyata juga diminta menulis di SAYA Magazine soal wawancara eksklusif dengan Ainun, pendiri Akademi Berbagi. Maklum, Satria sendiri juga menyandang status alumni Scientiarum. Untuk menekan biaya mungkin. Mungkin.

Kabar yang saya dapat, resensi filem saya terbit. Sepersekian detik setelah mendengar kabar tersebut, senyum lebar diikuti cekikikan kecil sungguh tak terhindarkan. Intinya, saya senang.

Saya kian senang karena diberi tahu oleh El, bahwa tulisan yang lolos akan mendapat honor. Jumlahnya berapa, saya sendiri juga belum tahu pasti. Yang penting bangga duluan. Terbitnya tulisan saya pada SAYA Magazine, membuat saya kian optimis untuk mengadu tulisan ke Kompas Kampus.

Rencananya, akhir bulan April ini di kampus saya, akan ada Pekan Seni Budaya Indonesia Internasional (PSBII). Saya pikir, PSBII menarik untuk diwartakan melalui Kompas Kampus, karena memang tulisan yang diutamakan ialah liputan lapangan kampus. Optimis.

Sebenarnya, saya hanya ingin menghasilkan uang dari sesuatu yang saya cintai. Satu-satunya kegiatan yang saya cintai, ialah menulis. Saya ingin menghidupi diri sendiri — terlebih keluarga — melalui tulisan. Ah, jadi kepikiran novel dan cerpen.titip2

Tapi apapun yang saya lakukan sekarang, pencapaian pertama saya di SAYA Magazine Makassar akan menjadi kaki ketiga saya, agar bisa berlari lebih kencang lagi. Berikut ialah resensi filem lawas “Original Sin”, seperti yang diterbitkan SAYA Magazine.

***

Semua Karena Cinta

Oleh ARYA ADIKRISTYA

Luis Antonio Vargas adalah pengusaha kopi kaya di Kuba yang ingin segera melepas masa lajangnya. Lewat sebuah koran di Baltimore, Amerika, Luis memasang sebuah iklan “Kau tak bisa menjauh dari cinta” untuk menggaet wanita Amerika yang mau dijadikan istrinya.

Iklannya tak sia-sia. Seorang wanita asal Delaware, Amerika, yang bernama Julia Russell, telah melayangkan surat ketertarikan beserta foto dirinya kepada Luis. Luis pun membalas hal yang sama. Meski belum pernah saling bertemu, mereka saling tertarik dan sepakat menikah di Kuba.

Pagi-pagi sekali, Luis telah menginjakkan kaki di dermaga. Setelah menempuh perjalanan darat dan laut, Julia akhirnya bertemu dengan Luis. Hanya beberapa jam setelah perjumpaan itu, tanpa pikir panjang Luis langsung menikahi Julia.

Hubungan Luis dan Julia semakin intim. Suatu hari mereka pergi menonton teater. Saat teater berlangsung, mata Julia tertancap pada satu pemain, yakni Mephisto, si antagonis berjubah merah. Luis bergegas mencari Julia ketika istrinya menghilang ke balik panggung usai babak pertama.

Luis tertegun mendapati Julia sedang bercengkrama dengan Mephisto. Ketika Luis bertanya mengapa Julia berada di balik panggung dan siapa pria yang baru saja bersamanya, Julia menjawab bahwa dirinya hanya sedang tersesat. Hanya itu, dan Luis percaya.

Luis mempercayakan seluruh rekening banknya kepada Julia. Dengan kepercayaan itu, Julia dapat leluasa mengakses seluruh rekening bank milik Luis.

Namun tak semua berjalan sesuai harapan Luis. Kakak Julia, Emily Russell, mengadu ke Luis bahwa surat terakhir yang diterimanya atas nama pengirim Julia, bukanlah tulisan tangan Julia yang ia kenal. Julia yang Luis nikahi ternyata bukanlah Julia yang asli. Mendengar ini, Luis sontak mengecek rekeningnya banknya hanya untuk mendapati bahwa seluruh depositnya telah ludes.

Untuk mengobati kepahitannya, Luis bertekad mendapatkan Julia kembali. Ia ingin balas dendam. Dengan pembunuhan.

Dalam pencariannya, Luis bertemu Walter Downs, seorang detektif yang mengaku disewa oleh Emily Russel untuk menyelidiki keberadaan Julia yang asli. Dengan segala upaya, akhirnya Luis menemukan Julia istrinya di Havana. Konflik hebat seketika mencuat.

“Apakah kamu tidak tahu? Apakah kamu tidak tahu bahwa aku tak bisa bernafas tanpamu? Aku tak bisa hidup tanpamu!” kata Luis.

Ia dekap istrinya yang diam seribu bahasa, hanya menitikkan air mata diikuti isak tangis.

Esoknya, Julia mengakui bahwa nama aslinya adalah Bonny Castle. Namun Luis tak mau peduli, ia tetap memanggil Bonny dengan nama Julia.

Lagi-lagi Luis tak berpikir panjang. Saking cintanya pada Julia, ia tak sadar bahwa selama ini ia terjebak dalam permainan Julia dan Billy. Tak lain, Billy adalah detektif Walter sekaligus Mephisto. Billy telah lama menjadi kekasih dan rekan kerja Julia.

Kelihaian Billy dan Julia dalam bermain sandiwara, menjerumuskan Luis dalam permainan cinta — demi perebutan harta. Namun cinta Luis yang teramat besar kepada Julia mampu meruntuhkan rencana mereka. Pengorbanan dan kegigihan Luis mempertahankan cintanya, melelehkan hati Julia, sehingga Billy harus berulang kali membujuk Julia agar segera membunuh Luis dan menyelesaikan permainan. Hati Julia benar-benar disudutkan pada pilihan yang dilematis.

Klimaks drama ini terletak menjelang akhir film. Luis benar-benar membuktikan bahwa demi cinta, apapun bersedia dilakukannya, termasuk menanggalkan nyawa demi Julia. Melihat itu, Julia akhirnya benar-benar menjatuhkan pilihan pada Luis. Semua karena cinta.

Saat menonton film ini saya jadi bertanya-tanya, apakah ini yang disebut buta karena cinta? Meski Luis telah berkali-kali dikhianati, ia tetap menunjukkan dirinya sungguh-sungguh mencintai Julia.
Saya sangat menikmati beberapa adegan bercinta yang tidak kebokep-bokepan dan kegigihan serta sifat pemaaf Luis. Boleh saja kita sebut Luis buta karena cinta. Tapi nyatanya, justru cinta Luis melahirkan kekuatan dan keberanian di luar ekspektasinya.

Luis menemukan hartanya yang paling berharga, justru di hatinya sendiri. Bersama Julia.

“Dan tak peduli resikonya, kau tak bisa menjauh dari cinta.”

ARYA ADIKRISTYA – Seorang penulis telanjang. Ikuti kicauannya di @adikristya.

Standard

4 thoughts on “Tulisan Saya Masuk SAYA Magazine

Tinggalkan Balasan ke erwinsantoso Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *