cerpen

Tutupku Malam Ini

Aku ingin mengakhiri hidupku sejenak untuk malam ini. Kubaringan badanku di kasur tua yang sudah usang, lalu kucoba mengisi pikiranku dengan segala isi sia-sia dan kosong, ah, sama saja kosong.
Kupejamkan mata, melihat dalam kegelapan. Sesaat warna kusam dan keruh kenangan itu kembali. Kenangan-kenangan bersama sahabat karibku dulu. Namanya Radit, panggilannya Adit; Berdasarkan cerita yang aku tahu dari orang-orang disekitar kami, aku dan Adit sudah bersahabat sejak bayi. Ah, masa? Entah kenapa, aku begitu lemah malam ini hingga terhanyut buaian untuk menelusuri kenangan itu, hingga akhirnya terbawa ke dalam mimpiku malam ini.

***

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun kami jalani bersama-sama dengan kompak dan gagah, tak terasa kami sudah kelas 1 SMA. Ya, katanya pendahulu kami sih, masa SMA itu masa-masa paling indah bagi kawula muda, masa sih? Nyatanya, setengah tahun di kelas 1 SMA bersama Adit membuatku berubah menjadi semakin sering menghindar dan menjauh dari Adit, entah kenapa sekarang aku menjadi risih dengan tingkah laku Adit yang berubah drastis semenjak cintanya ditolak Si Intan, Norris, Saramita, dan Kartika. Yah, emang ngenes banget perjalanan cinta Si Adit.Yang aku takutkan, apabila perasaan Adit terus-menerus tersakiti, kemungkinan dia bisa menjadi seorang gay. Aduh. Semakin parah. Setiap ada waktu untuk merenung, aku pasti merenung. Setiap aku merenung, kusempatkan diri untuk merenungi perubahan sahabatku itu: Adit. “Apa salah dia ya TUHAN hingga harus mengalami semua perubahan ini? ” tanyaku kepada Sang Khalik setiap malam.

Dulu, kehebatan kami berdua dalam bersahabat tersohor sampai seluruh komplek wilayah sekolah kami. Tetapi pagi itu, Pak Iwan bertemu denganku di parkiran motor sambil memarkirkan ‘Vixion’-nya, beliau dengan percaya diri bertanya “Hei nak, dimana brother kau yang setia itu? Kok bapak sudah lama tak lihat kalian beraksi bersama-sama ya? Mbok ya beraksi sana lho…”
“Ehhmm, gimana ya pak, susah njelasinnya, kami lagi ada persoalan pak, dan itu sangat privasi, maaf ya pak…saya langsung masuk kelas dulu,” kutulikan pendengaranku dan kutumpulkan perhatianku guna mengacuhkan apa yang ada di sekitarku. Sementara.

Aku lebih suka menyebutkan kata ‘persoalan’ ketimbang ‘permasalahan’, karena bagiku, ‘persoalan’ tidak selalu mengandung ‘permasalahan’. Semoga saja ini bukanlah sebuah permasalahan. Aneh. Beberapa hari dalam minggu ke 2 bulan Februari ini, Adit tidak pernah kelihatan batang hidungnya di sekolahan. “Ada apa dengan dia ya TUHAN?”

Kartika Nofianti Permadani. Ya, gadisku itu lama-lama juga tidak tahan melihat aku buta akan titik terang persoalanku dengan Adit, lebih tepatnya, sepertinya kami sama-sama tidak memperjuangkan titik terang persoalan ini. Pagi itu, aku mendekatkan diri kepada Tika di kelasnya: X-A, meminta pengertian dan dukungannya agar selama seminggu ke depan aku mau fokus pada penyelesaian persoalanku ini. Oh sungguh, ini bukanlah sebuah keberuntungan memiliki Tika, melainkan sebuah keajaiban dimana aku dan Tika bisa saling bertemu, memiliki, dan melengkapi. Dia mau mengerti keadaanku sekarang ini.
“Sungguh ajaib aku bisa bertemu dan bersatu denganmu, Tika…” tuturku kepada gadis itu. Tanpa satu suku kata pun, gadis itu hanya melempar 1 senyum dan 2 lesung pipinya. Oh Tuhan! Sungguh manis.

***

Bersenandung di atas genteng dengan gitar punya Almarhum bapakku sudah jadi kebiasaan rutinku menjelang sore ungu Adzan Maghrib, tiba-tiba senandungku berhenti tuk sejenak lalu terbesit sebuah pikiran aneh menurutku, “Apa Adit sekarang jadi gay ya?” batinku saat itu
“Ah, nggak mungkin kalau Adit sekarang jadi gay, dia kan cowok normal..tapi, bisa jadi lho…dia kan bolak-balik ditolak cewek…ah, masa sih? Enggak ah…” bantahku atas batinku tadi. Kusudahi perdebatan konyol itu lalu kusenandungkan lagi lagu ‘Untitled’ dari ‘Maliq & d’essentials’. Ya, itu lagu favoritku. Hingga selesai.
“Artha! Artha! Ada telpon dari Adit nih! Cepetan!” teriak Bunda dari bawah genteng dapur. Duh, beribu pikiran dan tafsiran langsung meracuni otak dan perasaanku yang tadi sudah tenang.

Dalam percakapan telepon:
“Halo? Artha?”
“Iya? Adit ya?”
“Iya…ehm…”
“………………”
“………………”
“Halo? Artha?”
“Ya? Kenapa?”
“Ehm…gimana ya ngomongnya?”
“Hah? Apa sih?”
“Begini…besok kamu ada waktu? Aku mau ngomong sesuatu ke kamu, tha…bisa?”
“Liat aja deh besok, di mana ketemuannya?”
“Tempat biasa…jam 12 siang…”
“Iya”
“Sampai ketemu ya…”
“………………..”
“………………..”
Sambungan telepon kuputus. (Nampaknya Adit menunggu balasanku, ah, siapa peduli? Jelas, dia peduli. Dalam hati, jelas aku juga peduli. Intinya, kami sama-sama peduli.)

***

Masih tenang dan nyaman. Ya, inilah tempat dimana kami terbiasa berjaya, tapi itu dulu sebelum Si Adit berubah. Awalnya kuurungkan niatku untuk datang kemari, tapi, tak apalah jika akan jadi baik adanya, kenapa tidak?
“Ya Tuhan! Ini sudah jam 5 sore! Pake acara ketiduran lagi! Ahhh! Dimana juga Si Adit itu?!” kejutku seketika. Saat aku sedang berhura-hura dengan penyesalan karena tertidur, tiba-tiba tampak dari kejauhan Adit melangkah menuju ke arahku. Ya, dari paras dan perawakannya saja sudah berbeda dari sebelumnya: Lebih kurus dan nampak tak terurus penampilannya. Wow, mengapa aku merasa sedikit grogi? Entahlah, siapa peduli? Jelas, aku peduli.

“Hai…” sapanya dengan suara serak-serak basah diikuti dengan bau mulutnya, ah, entah bau apa ini.
“Hai juga…” balasku sigap. Suasana hening sesaat hingga kami selesai menata sudut pandang berbicara yang pas dan nyaman untuk kami berdua. Selesai sudah.
“Gimana kabarmu, tha?”
“Ya, Haleluya…sampai saat ini aku masih baik-baik aja. Eh, iya…mau ngomong apa sih?”
“Begini, aku merasa kayak aku ini bukan aku lagi…aku merasa berbeda dan aku menikmati perbedaan ini…Aku bukanlah aku lagi…Dan aku kepengen kamu seperti aku…jika kamu mengiyakan perkataanku, sewaktu-waktu kamu bisa hubungi aku…” “Terus?”
“Ya enggakpapa, aku cuma mau curhat sedikit aja tentang ini…hehehe…iseng sih…”. Aku merasa terancam disini, terancam akan hasutan busuk Si Adit. Dia tahu betul apa kelemahanku: ‘Obat penenang’. Sudah lama aku tidak menyentuh barang itu, berkat kebersamaanku dengan Tika yang sangat berarti, aku berhasil melepas barang-barang tersebut. Sial. Kami menutup pertemuan hari itu dengan bermaaf-maafan lalu bersalaman diikuti dengan sebungkus ‘obat penenang’ yang diberikan kepadaku. Sempat terpikir untuk memakai barang itu, maka kuambil dari tangan Si Adit. Kami saling melempar senyum setan.

***
Aku terbaring di kasur baru ini dengan keringat dingin. Tak tahan melihat setan yang berhura-hura di dalam bungkus obat itu. Ajaib. Sesaat bayangan senyum Si Tika menguatkanku, reaksi cepat langsung kuambil dengan membakar abu dari bakaran obat itu. Kembali malam itu menjadi sangat khusyuk dan aku merenungkan Si Adit kembali. Batinku: Jelas, itu bukan alasan yang masuk akal apabila dia membuat sebuah pertemuan yang sama sekali TIDAK BERARTI seperti tadi! Mungkinkah dia sudah hilang kendali dan gila? Mungkin saja. Siapa peduli? Jelas, aku peduli.

Kuceritakan segala pergumulanku kepada Tika, tidak banyak yang bisa dia lakukan selain mendukung dan tetap memberi senyum itu, meskipun melalui telepon saja, aku masih bisa merasakan bagaimana manisnya senyum milik Tika. Ini baru obat penenang, Tuhan.

***

“Plek!” tepuk Si Adit dari belakang ke arah pundak kananku.
“Gimana obatnya? Manteb?” tanyanya sambil tersenyum kecut.
“Sudah jadi abu tau!” bantahku agak keras.
“Yah, sayang banget deh, eh tha, nanti malem main ke rumahku ya, diskusi kayak biasanya ya? Mau enggak?” harapnya.
“Engghhh, ya udahlah gakpapa, aku juga lagi bosen di rumah…jam 6 sore aku ke rumahmu”
“Oke!” balas kami berbarengan. Kami berpisah di lorong sekolah itu. Semoga ini bukan pilihan yang salah lagi. Semoga.

***

“Dit, kok rumahmu sepi banget, enggak ada orang lain ya di rumahmu?” “Enggggggaaaakkkk…”. Cara menjawab Adit barusan membuat aku merinding, entah kenapa rasanya seperti jawaban itu disertai dengan maksud negatif yang tersembunyi. Siapa peduli? Jelas, aku peduli. Kami berdua memasuki kamar Si Adit, tempat biasa untuk melakukan diskusi. Keadaan lampu padam biasanya lebih membantu kami untuk berpikir lebih jernih dan lebih dalam. Awalnya diskusi berjalan seperti biasanya dan aku sangat menikmati perjalanan diskusi tersebut, selagi aku melepas kacamata sambil mengucek kedua mata, tiba-tiba!

SIAL! Si Adit meloncat ke arahku dengan keadaan telanjang badan dan hendak bercinta denganku. Aku memberontak dengan segenap kekuatan dan segera meninggalkan rumah…arrggh! Entahlah! Aku sendiri bingung mau menyebut rumah apa itu! Sungguh, itu semua sudah direncanakan Adit sejak sebelum kami bertemu siang tadi di sekolah. Sejak awal, aku hendak menghapus pikiran negatifku mengenai kelainan dari Si Adit, tetapi pada kenyataannya, apa yang terjadi ya terjadilah. Jadilah Si Adit yang gay.

Serasa hati dan pikiranku ini dilumat habis-habisan, kesedihanku berlarut hingga 1 bulan lamanya. Hampir gila? Iya, aku hampir gila. Tidak bisa berpikir? Iya, aku tidak bisa berpikir sama sekali. Tidak bisa merasakan? Iya, perasaanku tumpul kala itu. Tetapi lagi-lagi, Tika. Karena dia, aku mau menjadi pribadi yang bisa mengendalikan diri agar tak larut dalam kesedihan ini. Aku masih sangat ingat dengan jelas perkataan Tika,
“Artha, kamu adalah kamu. Masalahmu adalah masalahmu. Kamu dan masalahmu itu berbeda. Ketika masalah itu menghantam kamu, tetap tegar dan kendalikan diri KAMU. Hanya KAMU, Artha. Aku sayang KAMU, Artha.” diikuti dengan pelukannya.

***

Tangisanku membangunkanku dari mimpi yang mengenang masa itu. Tika pun terbangun dan senantiasa berusaha menenangkan aku dari gejolak itu, hampir setiap malam di minggu kedua bulan Februari. Sungguh setia.

Tenang. Sesaat setelah Tika tertidur pulas kembali. Aku pun membaringkan badanku kembali di samping Tika. Kupejamkan mata lalu melayang-layangkan pikiran dan perasaan. Semenjak kejadian buruk di tahun 2006 itu, aku tidak pernah melihat batang hidung Si Adit kembali, bahkan tanpa saling bermaaf-maafan. Menurut bibir kabar yang ada, dia merantau ke Perancis untuk mencari haknya sebagai gay yang dihargai. Siapa peduli? Jelas, dia peduli. “Tuhan, jaga sahabatku itu. Terima kasih.” tutupku malam itu dalam doa singkat sambil memeluk hangat istriku: Tika.

Arya Adikristya Nonoputra
Sidoarjo – 22 Februari 2012

Standard

2 komentar pada “Tutupku Malam Ini

  1. reuben says:

    saya suka dengan jalan ceritanya. sanagt menarik dan cukup memotifasi. apalagi gambaran Tika yang merupakan pacar Artha dimana dengan tenang bisa meyakinkanArtha untuk mampu menyelesaikan masalah itu. selain itu Artha cukup tegar untuk menyelesaikan persoalannya mesikup dia menghadapi pergulatan diri yang sangat kuat dan masih bisa mendoakan temannya yang sudah berubah.

    salut….. (y)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *