catatan

Ultah

Mamak, seorang tokoh dalam filem dokumenter “Senyap: The Look of Silence” garapan Joshua Oppenheimer, pernah bercerita kalau dirinya menolak merayakan ulang tahun. Kendati umurnya lewat 100 tahun, ia tetap menolak merayakannya. Mengapa? Alasannya, perayaan ulang tahun hanya bikin ketagihan. Dan di manapun jua, ketagihan hanyalah “proses nikmat” dari “menggerogoti” diri sendiri. Bukan begitu?

Saya tak tahu pasti, mengapa ulang tahun dirayakan? Apa yang diharapkan dari peringatan hari kelahiran itu? Mengapa ada beberapa orang yang merayakannya hingga harus merogoh kocek cukup besar, demi perayaan ulang tahun? Banyak alasannya jika mau ditelusuri satu-satu. Namun, orang seperti Mamak, barangkali menolak merayakan ulang tahun, karena duit yang dipunya cuma cukup buat makan dan memenuhi kebutuhan primer sehari-hari. Dan memang begitulah fondasi ekonomi keluarga Mamak yang tergambar dalam Senyap. Sing penting iso mangan.

Jika demikian, lantas apakah perayaan ulang tahun adalah sesuatu yang sekunder atau malahan tersier? Tidak juga. Tergantung orangnya saja. Tapi bagi saya, perayaan tetap mungkin masuk dalam kategori kebutuhan primer. Memperingati perut kerucukan, saya merayakannya dengan makan sekenyang-kenyangnya, dengan biaya seminimal mungkin. Bukankah itu juga perayaan?

Mari kembali ke laptop. Sejak SD, saya sudah kenal dengan yang namanya perayaan hari ulang tahun. Undangan perayaan ulang tahun dari teman-teman satu sekolah, bertubi-tubi datang. Perayaannya bukan di rumah teman, tapi restoran-restoran siap saji yang kala itu saya anggap mewah, macam McDonald dan Texas Chicken. Barang sudah sebesar ini, restoran sekaliber McDonald pun tak bisa mengalahkan nikmatnya makan murah nan mak nyus di Warung Bu Tri atau Warung Bu Ning.

Begini-begini, saya juga pernah merayakan pesta ulang tahun sendiri. Hanya saja caranya yang berbeda. Menginjak umur 17, Ibu menyarankan saya agar menggelar pesta kecil-kecilan di rumah. Ada satu gerobak soto langganan, es buah bikinan Ibu, dan hingar bingar teman-teman SMA yang saya undang. Hal ini agak bertolakbelakang dari kedua kakak saya yang—seingat saya—tak pernah merayakan ulang tahun ketujuhbelas (paling banter yang merayakannya justru teman-teman SMA dengan telur, tepung dan sebangsanya). Dan  tahun kemarin, si bungsu juga berulang tahun ketujuhbelas (dan mungkin juga tanpa perayaan, karena saya jauh dari rumah saat itu).

Selain ulang tahun ketujuhbelas saya, ada tradisi rutin jikalau ada yang berulang tahun di rumah. Ibu biasanya memasak sup merah yang terdiri dari potongan daging ayam, sosis Bernard, wortel, bumbu-bumbu “rahasia” Ibu, lalu warna merah pada sup yang didapat dari tomat. Agar sup tidak terlalu encer—agak kental, Ibu biasanya menambahkan satu hingga tiga sendok makan air larutan tepung maizena. Enak? Tentu. Dan saking enaknya, saya tak rela bagi-bagi. Tapi yang selanjutnya mau saya ceritakan, bahwa duit nampaknya menentukan seberapa “mewah” sup merah buatan Ibu (meskipun “mewah” itu relatif).

Jika duit agak banyak, Ibu biasanya juga membeli Sari Roti tawar sebagai teman makan sup merah dalam panci besar—pengganti nasi putih. Atau bisa juga keduanya dihidangkan. Jadi, nanti tergantung yang makan sup merah: mau dibarengi nasi putih atau Sari Roti, atau jika perut cukup bernyali, keduanya kena sikat. Kalau duit sedang tidak banyak, Ibu pakai panci ukuran tanggung yang biasanya dihabiskan sehari saja (karena panci besar akan bertahan hingga besoknya). Tidak pakai roti, cukup nasi. Kemungkinan ketiga, jika ada yang ultah di rumah, namun kondisi duit keluarga agak-agak mirip punya Mamak, ya tidak ada sup merah sama sekali. Paling banter cari menu pengganti sup merah yang lebih murah, tapi di perut tetap meriah atau sekedar mengucapkan “selamat ulang tahun”. Apabila kami terpisahkan oleh jarak, kami membuat status Facebook seunik mungkin untuk mengucapkan “selamat ulang tahun”. Kalau Bapak yang berultah, bikin statusnya macam: “Happy Father’s Day” atau “Selamat Hari Bapak”. Berlaku juga buat lainnya. Tidak melulu mengikuti arus utama (mainstream), itu prinsip. Itu keluargaku, mana keluargamu?

Bicara lebih lanjut soal ucapan “selamat ulang tahun”, memangnya seberapa penting ucapan ini dicurahkan ke orang yang berulang tahun? Ada yang mengganggap penting. Ada juga yang sebaliknya. Orang seperti Mamak, biar tidak suka merayakan ulang tahun, tapi mungkin tetap saja meleleh jika diberi ucapan “selamat ulang tahun” ditambah peluk hangat bagi umurnya yang sudah lewat 100 tahun.

Saya pernah bertanya-tanya sendiri, apa yang akan terjadi bila seseorang berultah, tapi tidak mendapat ucapan dari orang-orang terdekat (yang mana diharapkannya memberi ucapan)? Pertanyaan ini berujung pada eksperimen pribadi. Beberapa orang yang akrab dengan saya tetap biasa saja, meski saya tidak mengucapkan “selamat ulang tahun”. Tapi ada juga yang gemas menggigit jari karena saya tidak mengucapkan selamat ulang tahun pada harinya. Dianggapnya saya lupa sama keberadaannya, padahal saya ingat kalau hari itu ialah hari penting baginya, dan saya sengaja tidak mengucapi.

Dari kedua tradisi ini: perayaan dan ucapan selamat ulang tahun, saya jadi ingin bertanya lagi, “Apa betul kedua tradisi ini hanyalah usaha menghimpun pengakuan orang lain akan eksistensi seorang individu?” Jika ya, ya sudahlah.

Salatiga, 1 Juni 2015

Standard

One thought on “Ultah

  1. Pingback: David yang Se-David-Davidnya | Arya Adikristya Nonoputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *