prosa

Wanti-wanti

Tanganku ada bukan untuk menguasai tanganmu. Begitu juga sebaliknya. Ketika kurengkuh tanganmu, bukan berarti dirimu tak boleh beranjak ke mana pun.

Aku punya bebasku. Kau punya bebasmu. Aku punya bengisku. Kau punya bengismu. Sesekali, aku tidak ingin mencintaimu dengan sederhana. Aku hendak mencintaimu dengan bebas dan bengis. Berandal dan haus seperti orang barbar. Sedangkan kau? Bebas gunakan perasaanmu. Bebas gunakan kebengisanmu, jika perlu. Tapi ingat, ada yang bernilai di balik tempurung kepalamu.

Perasaan lebih liar ketimbang kuda liar. Ia binal dan buas. Menerkam secara barbar bagi siapa saja yang lupa atau kesepian. Selain menuntut untuk didengarkan, ia juga ingin diberi pengertian: mengapa tak selamanya perasaan bisa dituruti?

Itulah mengapa kita harus kenal baik dengan harapan yang kerap melintas di benak. Karena tiapnya punya cara eksekusi yang berbeda.

Maka sayangku, sungguh, kita tidak perlu menguasai satu sama lain. Seperti kuda dengan tuan. Cukup berbagi cinta dan bertahta atas diri sendiri. Karena bagiku, kehilangan diri sendiri adalah kerugian terbesar. Benar aku ‘kan lebih rugi apabila kehilangan diri, yang mencintaimu.

Lantas seekor burung sriti hitam legam melesat ke arahku dan meninggalkan tai di depan kamarku, seolah meninggalkan tanya: mengapa demikian? Mudah saja, ketika aku kehilangan diriku, yang kucintai akan juga terseret tanpa jejak. Pertanyaan yang lebih besar datang dari kawanan kumulus mendung: bagaimana jika yang hilang adalah yang kau cintai? Sedangkan dirimu utuh tak tersentuh. Memangnya, apalagi yang dapat kulakukan selain: memperjuangkannya agar dapat duduk kembali di pangkuan atau cukup mengikhlaskannya?

Salatiga, 11 Januari 2015

Standard

2 thoughts on “Wanti-wanti

Leave a Reply to deden Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *