Nyanyian Seorang Mahasiswa Fiskom

Di kelas perkuliahan, kita menemui dosen pengajar. Tentunya ada proses formal yang terjadi di sana: proses belajar-mengajar (PBM).

Ketika mahasiswa mulai mengantuk dan kipas-kipas menghapus peluh, saya seringkali tertarik memperhatikan cara seorang dosen mengajar. Tentunya merenungkan juga.

Belajar ialah suatu usaha mencapai pemahaman. Untuk mencapai pemahaman itu harus ada yang namanya proses mengalami dan menalar. Maka tak heran ada pepatah yang mengatakan, “pengalaman adalah guru terbaik.” Akan tetapi, untuk mencapai pemahaman yang esensial tak bisa mengandalkan kelas, buku, makalah, dan diskusi saja. Semuanya itu hanya instrumen lembaga pendidikan.

Jika memang ada (banyak) cara untuk mencapai pemahaman, lalu mengapa dosen-dosen yang menggugah kantuk dan ketidaktertarikan mahasiswa tak melakukan koreksi diri, lalu mencoba metode belajar lain yang lebih komunikatif dan mencerminkan creative minority?

Perlu kita tilik juga bahwa mahasiswa itu beragam. Tidak hanya latar belakang kehidupannya saja, tapi secara personal juga. Kali ini saya akan mengerucutkan keberagaman personal tersebut menjadi: cara belajar.

Cara memahami yang berbeda, menuntut cara belajar yang berbeda. Ada yang terstruktur, ada yang acak. Ada yang teoritis, ada yang praktis – ada juga yang bukan keduanya.

Teori dan praktek itu bak warna dalam palet dan kuas. Untuk membuat lukisan yang indah, anak diajarkan untuk mengenali warna-warna itu dulu. Mulai dari sifat tiap warna dan hasil kombinasi warna. Di situ kita mengenal teori. Semakin banyak warna biru yang ditambahkan pada warna merah, maka kadar warna ungu akan meningkat. Si anak akan melukis penuh hati-hati – terkadang malah kelewat takut membuat kesalahan. Hemat saya, teori untuk mencegah hal-hal “sembrono”. Bukankah begitu?

Lalu bagaimana jika praktek didahulukan? Bayangkan saja, jika seorang anak diberi kuas dan palet penuh warna-warna mencolok. Anak itu diberi kebebasan untuk membuat lukisan semaunya dengan caranya sendiri. Bagi sebagian orang, hal itu sembrono, nihil estetika, dan si anak tidak mencapai pemahaman apa-apa. Justru tidak. Si anak praktek mendapatkan lebih daripada si anak yang diajarkan teori terlebih dahulu. Ia mendapat pengalaman melakukan kesalahan dan ujungnya mengetahui mana yang benar.

Saya sendiri tidak mencoba menunjukkan bahwa praktek jauh lebih unggul ketimbang teori. Keduanya jika dilakukan berbarengan, tentu akan menghasilkan lukisan maha karya.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya mengakomodir agar keduanya seimbang? Dengan KBM? Laboratorium Fiskom? Fasilitas akan sia-sia jika fasilitator tak mampu mengimbangi. Saya masih menghormati dosen-dosen di Fiskom.

Hal simpel seperti ini tentunya harus dipertimbangkan lanjut oleh pimpinan Fiskom. Solusi saya singkat, konten dan metode belajar-mengajar agar tepat, haruslah berorientasi pada kebutuhan mahasiswanya sendiri. Salam koreksi diri.