Cina Bali

Ornamen dan arsitektur oriental menyambut kami. Tak ketinggalan, semerbak dupa yang terbawa bersama hembusan angin. Bukan hanya bau dupa menyala, angin juga menggugurkan dedaunan di halaman. Hal ini membuat pengurus Klenteng Dharmayana harus menyeret sapu lidinya, menyingkirkan dedaunan kering dari pandangan pendatang.

Melihat kami hanya disapa ornamen bisu, lantas langkah kami menuju seorang lelaki tua yang tengah duduk bersila di pendopo. Tjio Tjin Bun namanya, kami memanggilnya Koh Bun. Ia merupakan pemangku kepentingan adat dari Klenteng Dharmayana.

Seraya melempar senyum, kami segera menjabat tangannya yang keriput karena ditekuk usia. Kedatangan kami bukan tanpa sebab. Kami ingin tahu akar kehidupan etnis Cina. Bukan etnis Cina yang seluas samudera, tapi lingkup kecil saja—etnik Cina di Pulau Dewata. Tepatnya di Klenteng Dharmayana yang terdapat di Jalan Padri Nomor 10, Kabupaten Badung, Kuta, Bali.

“Kalau saya, keturunan keenam,” buka Koh Bun ketika ditanya mengenai sejarah munculnya etnis Cina di Bali.

Jika berbicara soal orang Cina, sangat luas. Pertama, populasinya telah menjajaki lebih dari setengah bola dunia. Kedua, hijrahnya orang Cina ke negeri orang bukan sebatas alasan berdagang yang dikonsentrasikan di Asia Tenggara, tapi juga untuk menghindari perang. Bahwa setahu Koh Bun, awal kedatangan etnik Cina di Bali karena munculnya perang, sehingga membuat beberapa orang asli sana berhijrah ke sini.

Koh Bun menyedot rokoknya lagi. Baru melanjutkan ceritanya.

Etnis Cina yang notabene pendatang pada masa itu, harus melakukan adaptasi budaya lokal. Mereka melakukan pendekatan pada masyarakat lokal dengan memanfaatkan kemampuan silatnya. Orang-orang Cina menjadi pengawal kerajaan Singaraja pada masa itu.

Berkat pengabdian pengawal kerajaan Singaraja, mereka mendapat upah berupa beberapa bidang tanah. Alhasil, pada 1874, komunitas Cina mulai membangun rumah dan tempat ibadah di tanah sekitar Singaraja. Dua tahun berikutnya, berdirilah Klenteng Dharmayana.

Berbicara perihal Bali, tak mungkin melupakan ke-Hindu-annya. Menjadi lebih menarik ketika klenteng berumur 138 tahun ini tetap bertahan dan justru, kata Koh Bun, membaur dengan kentalnya budaya Hindu di Bali.

Setelah kedatangannya ke Bali, banyak etnis Cina yang kemudian menikah dengan masyarakat asli Bali. Koh Bun dengan jumlah giginya yang dapat dihitung dengan jari, mengatakan, orang Cina di kawasannya toleran akan kawin lintas agama. Jika memang orang Cina yang hendak naik pelaminan harus berpindah agama dari Kong Hu Cu ke agama lainnya, baginya bukan suatu masalah. Sah-sah saja.

Keterbukaan orang Cina di Klenteng Dharmayana ini juga dinyatakan dengan akses bebas bagi siapa saja yang hendak bersembahyang di sana. Ungkapan Koh Bun bukan sekedar tong kosong. Beberapa menit setelah kedatangan kami, datang peziarah asal Wales. Ia memasuki klenteng dan melakukan ritual doa di salah satu bilik.

Keberagaman yang ditolerir klenteng ini diakui oleh Koh Bun bahwa tidak serta merta muncul begitu saja dari kesadaran. Ada sebuah proses ‘menular’ dari masyarakat sekitar klenteng. Logika sederhananya, maklumkanlah orang lain, maka kau akan dimaklumi.

Tapi hidup manusia tak selalu dimaklumkan orang lain. Ada saatnya, sisi atas pada roda berganti posisi menjadi di bawah. Demikian halnya yang diceritakan lelaki berkepala enam jelang 70 tahun ini, mengenai masa kelam perkembangan etnik Cina di bumi Dewata.

Sebelum rezim orde baru, etnik Cina di Bali tidak hanya berhak hidup berdampingan di tengah masyarakat Hindu Bali. Lebih dari itu, mereka juga disilakan mengembangkan diri lewat warisan budaya leluhur dengan membentuk Sekolah Cina.

Di sekolah itu, bahasa Mandarin diajarkan. Baik lisan maupun tulisan. Termasuk sastra berbau Tiongkok. Uniknya lagi, sekolah ini tidak hanya dibuka untuk orang Cina, ada juga beberapa muridnya yang berasal dari Kampung Arab.

Naas, semuanya sirna pada orde baru. Presiden kedua Soeharto saat itu memberi stigma pada etnik Cina sejagat Nusantara. Stigma tersebut berujung pada penutupan Sekolah Cina. Koh Bun tidak sempat mengenyam pendidikan berbasis Tiong Hoa.

Ketika salah seorang dari kami menanyakan mengenai lampion bertuliskan aksara Hanyu Pinyin yang tergantung di atas langit-langit klenteng, Koh Bun hanya berkata,”Saya tidak mengerti.”

Kami mengalihkan topik pembicaraan ketika melihat Koh Bun menitikkan air mata mengenang sejarah kelam etniknya.

Kong Hu Cu versi Bali

Ada kesempatan emas. Beberapa dari kami memanfaatkannya dengan menyempatkan diri berkeliling klenteng—memperhatikan lebih dalam patung dewa dewi dan lekukan relief pada bangunan yang terhampar di semesta klenteng. Cat serba merah, hijau, dan kuning emas memadu kasih dan menampang nyata.

Patung dewa dewi tersusun rapi. Mulai dari Dewa Langit, hingga Dewa Bermuka Empat. Terdapat juga patung dewa di setiap ruangan, tergantung fungsi dan kegunaan ruangan tersebut, salah satunya Dewa Dapur. Hal ini menarik perhatian kami karena di antara alat masak yang ada, terdapat suatu spot sakral.
Kendati begitu, Klenteng Dharmayana yang acap kali dikatakan telah mengalami proses inkulturasi dengan budaya masyarakat Hindu Bali. Benar saja, mereka masih memberi ruang bagi unsur Hindu Bali untuk masuk ke dalam perangkat ibadah Kong Hu Cu.

Pernah seorang pengunjung bertanya mengapa ada canang (sejenis sesajen yang biasa digunakan umat Hindu di Bali) di klenteng tersebut. “Itu kan persembahan Buddha, cuma ditata sedemikian rupa. Kalau di Jawa kan ada kembang telor, karena di sini susah carinya, jadi pakai canang,” jelas Koh Bun.

Cina versi Bali atau lebih khususnya umat Kong Hu Cu di Vihara Dharmayana juga beribadah tak begitu pakem seperti umat Kong Hu Cu di luar Bali. Hanya beberapa ibadah saja yang mereka jalankan. Pertimbangan ini didasarkan atas nama keterbatasan alat-alat ibadah, seperti dupa yang harus ‘diimpor’ terlebih dulu dari Pulau Jawa. Tak heran jika Koh Bun menyebutkan bahwa lampion bertuliskan aksara Hanyu Pinyin itu berasal dari beragam donatur. Baik dari penjuru Bali, pun luar pulau.

Koh Bun memaparkan bahwa masyarakat Cina di Bali juga toleran dengan umat Hindu ketika perayaan Nyepi. Seperti tidak menyalakan lampu dan turut Nyepi. Namun jika ada keperluan tertentu seperti umat Kong Hu Cu meninggal dunia dan harus menyalakan lampu walau kecil, maka para pemeluk Hindu memakluminya. Kembali lagi ke logika sederhana di atas. Decak kagum kami tak terhindarkan.

Penulis: Arya Adikristya

Membenci itu mudah. Lebih mudah lagi kalau tidak benci.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *