Samuel Prasetya: Ikasatya Bukanlah Gereja

Dalam rapat pembina Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW), 12-13 Maret 2015, di Ruang Probowinoto, muncul wacana bahwa Ikatan Alumni Satya Wacana (Ikasatya) direncanakan tidak lagi menjadi bagian dari 19 pembina YPTKSW.

Hal ini diiyakan oleh Samuel Budi Prasetya, ketua pembi­na harian YPTKSW, dalam wawancaranya, usai rapat dengan agenda pergantian pengurus dan pengawas YPTKSW (13/3). “Problematik percakapan itu dimulai dari persoalan filosofis. Sebenarnya, Satya Wacana ini didirikan oleh siapa? Dan siapa pemiliknya? Itu kan bermula dari gereja,” tutur Samuel.

Menurut sejarahnya, Satya Wacana memang didirikan oleh enam gereja, yakni Gereja Kristen Jawa (GKJ), Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ), Gereja Kristen Pasundan (GKP), Gereja Kristen Sumba (GKS), dan Gereja Kristen Indonesia Jawa Tengah (GKI-Jateng). Sedangkan pada proses perkembangannya, yayasan mendapat dukungan tambahan dari 12 sinode gereja: Gereja Isa Almasih (GIA), Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI), Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB), Gereja Kristen Injili di Tanah Papua (GKI-Papua), Gereja Toraja (GT), Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB), Gereja Protestan Maluku (GPM), Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST), Banua Niha Keriso Protestan (BNKP), Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) dan Gereja Protestan Sulawesi Tenggara (Gepsultra).

Kantor Ikasatya di Rumah Noto, UKSW | Dok.scientiarum.com/Arya Adikristya Nonoputra
Kantor Ikasatya di Rumah Noto, UKSW |
Dok.scientiarum.com/Arya Adikristya Nonoputra

Sejak 2000-an, Ikasatya mulai diberi satu kursi di pembina YPTKSW bersama 18 sinode gereja pendukung. “Namun dalam perjalanan sejarahnya, diminta satu perwakilan dari Ikasatya untuk mendukung, karena sumbangan pemikirannya sangat penting,” tandas Samuel yang juga ketua III Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI).

Berangkat dari filosofi tersebut, Samuel menekankan bahwa pemilik Satya Wacana ini ialah gereja-gereja pendiri dan pendukung. “Persoalannya sekarang, penempatan Ikasatya untuk hal ini ada di mana? Apakah itu di pembina? Sedangkan kelompok ini (Ikasatya–red) bukanlah gereja,” papar Samuel.

Kendati demikian, Samuel mengakui, peran Ikasatya masih dibutuhkan dalam pengembangan Satya Wacana. Sehingga menurutnya, tetap harus ada tempat bagi Ikasatya di YPTKSW, hanya saja bukan di tataran pembina.

Dalam rapat tersebut, keputusan menyatakan Ikasatya tetap punya perwakilan di pembina YPTKSW. Samuel mengatakan, pihaknya harus melakukan dialog lebih rinci dengan Pengurus Pusat Ikasatya perihal wacana itu.

Namun, Agus Suryono, ketua Pengurus Pusat Ikasatya, mengaku tidak ada wacana Ikasatya akan ditarik perannya dari pembina YPTKSW. “Ikasatya tetap sebagai salah satu pembina dalam rangka untuk lebih memperkuat YPTKSW dan UKSW,” jawab Agus ketika diwawancara lewat pesan seluler (17/3).

Penulis: Arya Adikristya

Membenci itu mudah. Lebih mudah lagi kalau tidak benci.

5 thoughts on “Samuel Prasetya: Ikasatya Bukanlah Gereja”

  1. Komposisi kemampuan dan kompetensi pembina YPTKSW kayaknya perlu ditinjau ulang. Mengingat ini lembaga pendidikan. Meskipun memang berdirinya dari gereja-gereja, setidaknya orang-orang yang tergabung dalam pembina ini harus punya kemampuan profesional terapan dalam dunia pendidikan inter-disipliner. Bisa pendeta merangkap orang hukum, pendeta merangkap orang ekonomi, pendeta merangkap orang pendidikan. Alasannya jelas, kampus ini berhadapan dengan disiplin ilmu yang banyak. Sedangkan pembina YPTKSW ialah pemutus suatu kebijakan yang pengaruhnya bagi semua yang ada di bawahnya secara struktural. Kalo keputusan dibikin atas dasar iman dan alkitab saja, saya rasa kurang cocok (atau memang tidak cocok). Ayo, mana otaknya?

  2. 1. Untuk 6 gereja pendukung utama berdirinya UKSW, agar tetap dipertahankan serta dikembalikan pd marwahnya kembali, sbg pembina.
    2. Untuk gereja-gereja pendukung lainya, mohon ditiadakan saja, krn skrg ini benarkah UKSW membuthkan dukungan mrk atau sebaliknya grj2 tsbt yg didukung USW ? Juga melihat perkembangan UKSW 15 tauun terakhir, gereja 2 pendukung selain 6 gereja pendukung utama, hanya dijadikan alat utk legitimasi pemilihan rektor semata.
    3. Utk IKASATYA, sbg pembina benar tdk memilik keabsahan krn tdk ada dlm AD UKSW, sehingga jika dlm AD….sbg pembina adalah gereja, mk seharusnya ditiadakan saja dan status hanya sbg mitra UKSW saja. Juga alasan yg lain IKASATY, juga dijadikan alat oleh Rektor dlm legitimasi kepemimpinannya.
    4. Jika berkenan saya juga siap utk duduk bersama dlm bentuk sharing dgn Pemgina Yayasan UKSW….

  3. Nah pertanyaan yang mendasar menurut saya, apa alasan yang menyebabkan IKASATYA dapat diberi kursi dalam pembina di YPTKSW ?
    kok dalam rapat pada bulan Maret kemarin baru diungkit mengenai kedudukan IKASATYA di pembina YPTKSW.

Tinggalkan Balasan ke marthen h.toelle Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *