Suka Mengulang dari Nol

18 April 2015, bisa disebut salah satu hari besar UKSW. Tak lain karena ada acara pembukaan dari Indonesian International Culture Festival 2015, disingkat IICF 2015. Saya tahu pembukaan dan sekilas bentuk acara ini gegara mengikuti informasinya lewat akun Instagram: @iicf2015 dan halaman Facebook IICF 2015. Tapi sejujurnya, kehadiran akun medsos IICF 2015 ini menyebalkan sekali.

Bertepatan dengan hari itu juga, saya sengaja tidak menonton pawai beragam etnis yang terdaftar dalam IICF 2015. Saya sudah kadung bikin janji mau silaturahmi dengan Owot, seorang aktivis teater, di Muncul, Banyubiru.

Siang itu, kami di ruang tamu. Kepala dan ketiak agak basah, usai berendam dan mandi di sungai Muncul. Menunggu kering, dalam bincang-bincang ringan saya dengan Owot, dia berseloroh, “Aku ditelpon sutradaraku, Yak. Aku ditakoni, ‘kenopo kok seneng ngulang soko nol?’ (Aku ditanyai, kenapa kok suka mengulang dari nol?)”

Owot memang kelahiran Solo. Sebelum hijrahnya ke Salatiga, dia aktif menggeluti dunia teater bersama Teater Ruang. Selain teater, Owot juga pecinta anak-anak. Bukan pedofil maksud saya. Owot memang gemar bergaul dan mendalami dunia anak-anak. Saking uletnya, Owot berulangkali menjadi sorotan pemberitaan di Solo dan sekitarnya, karena berhasil membentuk taman baca di beberapa tempat di Solo. Karya-karyanya masih menggaung di Solo.

“Tapi lha dunia seni ning Solotigo ki wagu (Tapi, dunia seni di Salatiga nanggung), Yak,” ungkap Owot, agak menyesalkan.

Sutradara yang dimaksud Owot, tak lain ialah Joko Bibit Santoso. Siang itu, sembari saya menggaruk kulit kepala yang masih basah, Owot bercerita bahwa Bibit tahu banyak perihal jatuh-bangun Owot ketika bergeliat di Salatiga dan Muncul. Tahu demikian, Bibit berulangkali menawarkan Owot agar segera beranjak ke Solo, menawarkan pekerjaan.

“Aku nek meh kerjo ning kono bakal digaji, Yak,” tukas Owot mantap, seolah ada harapan lebih di tanah kelahirannya. Namun hingga kini, Owot masih kukuh ingin bertahan di Muncul karena ingin membantu masyarakat desa, meski ia mengakui memang dirinya punya penyakit “suka mengulang dari nol”.

.

Tapi saya tak bermaksud cerita lebih lanjut soal Owot dan lika-liku hidupnya. Itu semacam pengantar saja.

Dari belasan kisah yang Owot ceritakan pada saya hari itu, yang paling menancap ya ketika dia ditanya Bibit, “Kenopo kok kowe seneng ngulang soko nol?” Pertanyaan itu lantas melayangkan ingatan saya akan beberapa akun media sosial (medsos) acara kepanitiaan di UKSW, yang cenderung suka mengulang dari nol. Dan saya dongkol akan kebiasaan ‘miring’ itu.

Nol apanya? Nol penyukanya di fan page Facebook. Nol pengikut di Twitter. Sebentar lagi mungkin nol pengikut di Instagram, karena medsos kepanitiaan sudah merambah salah satu produk peranakan Facebook ini. Ini sudah jadi kebiasaan ‘miring’ kepanitiaan di UKSW. Bukan begitu?

Tilik lagi, jika tahun 2014 ada PSBII alias Pekan Seni Budaya Indonesia Internasional, maka 2015 ini ada IICF. Dengan dua acara yang serupa tapi hanya beda nama, lantas akun medsos pun dibedakan. Pantauan terakhir saya, halaman Facebook PSBII sudah mencapai 1.219 penyuka, sedangkan IICF 2015 hanya punya 268 penyuka. Beda lagi dengan Twitter. Pada tempat cuap-cuap maksimal 140 karakter ini, akun @PSBII2014 memperoleh 32 pengikut, sedangkan @iicf2015 melejit agak jauh hingga 309 pengikut. Yang paling kentara bedanya, jika PSBII 2014 tidak punya akun Instagram, IICF 2015 sedia, dan telah diikuti 181 pengikut. Inovasi baru, pikir saya—mengingat Instagram kian laris di dunia maya.

Lalu apa masalahnya dari fakta angka di atas? Pertanyaan seperti itu bisa dijawab dengan balik bertanya: masalahnya, untuk konsep acara yang serupa dan merupakan agenda tahunan kampus, mengapa tidak pakai akun medsos yang sudah ada saja? Mengapa tidak diteruskan saja PSBII 2014 dengan berganti nama IICF 2015? Bukankah faktanya, PSBII 2014 sudah punya penyuka jauh lebih banyak ketimbang IICF 2015? Bukannya hal tersebut akan lebih memudahkan panitia dalam merangkul sasaran? Mengapa sukanya mengulang dari nol?

Apa masih ada yang berkilah kesusahan cara mengganti nama? Tinggal menuju ke menu konfigurasi, ubah nama sesuai kebutuhan, selesai. Usai mengubah nama akun atau halaman, targetkan tenggat waktu sebulan atau lebih, untuk menyebar nama baru dan materi-materi promosi yang sudah dibikin. Apa susahnya kepanitiaan UKSW zaman sekarang menguasai pula peran dan fungsi social media strategist? Mbok ya kalau mau bikin kepanitiaan, jangan wagu. Sumber dari internet tak kurang-kurang buat belajar otodidak. Kita bisa belajar dari orang dalam negeri yang paham soal pemanfaatan medsos secara efektif, macam Ainun Chomsun (asli Salatiga) dan Max Manroe.

Mumpung saya masih bisa bertanya, pertanyaan lain muncul lagi: mengapa Senat Mahasiswa Universitas tidak melakukan estafet kepemilikan akun dari panitia lama, kepada panitia baru di tahun mendatang? Bukankah lewat acara-acara sekaliber IICF 2015, SMU juga bisa menyebar budaya estafet akun kepada unit-unit seantero kampus? Sehingga akun medsos yang sudah ada, tidak lantas dibuang, diinjak orang, dan sesegera mungkin digantikan yang juga cepat usang.

Penulis: Arya Adikristya

Membenci itu mudah. Lebih mudah lagi kalau tidak benci.

5 thoughts on “Suka Mengulang dari Nol”

  1. Kowe ndak y ngerti neg fanspage ora iso diubah lebih dr 2 kali? Kowe ndak y mudeng neg fanspage ora iso diganti jenenge neg luweh soko 200 sing like??? Punya kenalan anak TI ra? Sing gaptek jan2e sampean opo sopo y??

  2. Buat AAAAAAAAAAAAAAA yang gak jelas (atau mungkin namanya Ratih Chandra?),

    Cermati lagi. Ini sumbernya: https://www.facebook.com/help/271607792873806

    How do I change my Page’s name?

    If less than 200 people like your Page, you must be an admin or editor to change your Page’s name. To change your Page’s name:

    Click About below your Page’s cover photo.
    Click Page Info in the left column.
    Hover over the Name section and click Edit.
    Enter a new name and click Save Changes.
    If 200 or more people like your Page, you must be an admin to submit a request to change your Page’s name. If your request is approved, you won’t be able to change your Page’s name again. You can only change your Page’s name once. To submit a request:

    Click About below your Page’s cover photo.
    Click Page Info in the left column.
    Hover over the Name section and click Edit.
    Click Request Change.
    Fill out the form and click Send.
    If you don’t see the option to submit a request, it might mean:

    You’re not an admin. Learn how to see your Page role.
    You or another admin recently submitted a request.
    This option isn’t currently available in your location.

    Sampean bisa bilang kalo nama page gak bisa diubah setelah dua kali itu sumbernya dari mana?

Tinggalkan Balasan ke For Guides Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *