KTM Bukan Kartu Jaminan Sewa Motor

Sore 30 Juni 2015, saya hendak membayar jus alpukat pesanan pada salah satu penjual di Kafe Satya. Pada saat yang sama, Nino Alfia Silas juga berada di situ. Lantas kami terlibat obrolan singkat soal raibnya dua motor sewaan berkedok Kartu Tanda Mahasiswa palsu.

“Sik to, aku tak tuku es teh sik,” kata Nino ketika saya minta kesediaannya diwawancara. Hingga akhirnya kami duduk di bangku panjang berwarna coklat temaram.

Nino bercerita bahwa 29 Juni 2015 kemarin, ia didatangi empat orang penjaga rental motor. Dua dari persewaan Smile Rent Car, dua lainnya dari AA Rent. Mereka membawa dua KTM yang sama dan beratasnamakan Nino Alfia Silas.

Maksud kedatangan mereka berempat ingin mengkonfirmasi apakah Nino benar pernah menyewa motor Honda Beat di Smile Rent Car dan Yamaha Mio di AA Rent. Bukannya mendapati armada motor mereka baik-baik saja, malahan mereka bingung karena KTM yang dibawa ternyata KTM palsu.

“’Mas, atas nama Nino ya?’” ucap Nino menirukan perkataan salah satu penjaga rental motor.

“’Iya mas,’” timpal Nino yang waktu itu sedang ngabuburit.

Penjaga rental motor itu lantas kaget melihat foto pada KTM yang dipegangnya. Foto pada KTM tersebut, berbeda dengan wajah Nino.

“’Ini ndak bener mas, NIM-nya sampeyan?’” tanya penjaga rental motor lagi. “’Ndak bener fakultasnya sampeyan?’” Nino melanjutkan ceritanya dengan sesekali meneguk es tehnya.

Dua KTM ini bukan milik Nino Alfia. Foto telah dipalsukan. Foto ini didapat dari akun Facebook Ivan Vartha Rizza, salah satu teman Nino yang mengunggahnya dan menghimbau netizen agar tidak terulang lagi kejadian demikian.
Dua KTM ini bukan milik Nino Alfia. Foto diri telah dipalsukan. Jepretan ini didapat dari akun Facebook Ivan Vartha Rizza, salah satu teman Nino yang mengunggahnya dan menghimbau netizen agar waspada kejadian demikian.

Saat ditanya demikian, Nino mengaku bahwa namanya memang Nino Alfia Silas dari prodi Desain Komunikasi Visual FTI UKSW, sesuai dengan yang tertulis di KTM. Namun Nino tidak mengiyakan kalau foto pada KTM adalah foto dirinya, karena KTM asli Nino sudah hilang sekitar dua minggu lalu setelah pulang dari pameran seni di Yogyakarta.

“’Iya, saya tahu mas,’” kata Nino, mengulang perkataan penjaga rental motor yang mendatanginya.

Setelah mendapati bahwa ada peminjaman motor oleh oknum tak dikenal, akhirnya mereka dan Nino sepakat untuk mengurus kasus pelarian dua unit motor itu ke Polres Salatiga. Tercatat dalam Surat Tanda Terima Laporan Polisi dengan nomor STTLP/B/339/VI/2015/JATENG/RES SLTG bahwa mereka mengajukan laporan kehilangan pada pukul 18.30 WIB.

Dua Tempat Persewaan Baru Jadi Sasaran

30 Juni 2015, belum genap pukul 21.00, Aditya Ardi Sanjaya dengan dua orang lainnya tampak sedang menonton salah satu program tayangan televisi. Saya masuk dan langsung bertanya soal raibnya motor dengan KTM palsu, Aditya langsung menggeret kursi hijau toska ke arah saya. Tanda dipersilakan duduk. Pada saat yang sama, salah satu temannya yang berbaju merah mematikan televisi.

“Ini kan KTM yang palsu kayak gini,” ucap Aditya, pemilik motor sekaligus pengurus Smile Rent Car, sambil menyodorkan KTM palsu atas nama Nino. Aditya melanjutkan, “Ini orangnya yang bawa kayak gini,” sambil menunjuk foto yang sudah dipalsukan.

“Kebetulan yang pas jaga kan, temenku belum lama. Jadi belum pengalaman banget,” tutur Aditya, sambil menunjuk temannya yang berbaju merah. Setelahnya, saya baru tahu kalau penjaga Smile Rent Car yang melayani oknum ini bernama Angga Saputra Aditianto.

Mengacu pada keterangan dari Angga, Scientiarum menemukan bahwa oknum tersebut datang ke Smile Rent Car untuk menyewa Honda Beat bernopol H 4011 TT dengan durasi 12 jam pada 25 Juni 2015, kisaran pukul 09.30 WIB. Namun sejak 26 Juni 2015 hingga kini, motor tersebut tidak kembali.

“Wah, aku udah tahu kalo ini KTM palsu. Tapi aku tunggu satu dua hari, siapa tahu balik gitu lho. Ternyata kok enggak,” kesal Aditya.

Air mukanya agak kesal. Aditya mengatakan bahwa dirinya berniat bekerjasama dengan pihak kampus terkait tingkat keamanan dan validitas KTM UKSW. “Aku pengen ketemu karo pihak kampus ngobrol soal kayak gini,” ungkap Aditya.

Beda tempat, sama kasus. Penjaga AA Rent yang juga teman Aditya bercerita kalau mereka punya KTM yang sama dengan yang disimpan di Smile Rent Car.

Haryo Jati, pegawai AA Rent yang ditemui Adi, rekan peliputan saya, memberi keterangan bahwa oknum tersebut datang sekitar pukul 20.00, pada 24 Juni 2015. Saat itu oknum dilayani oleh Yoshua, pegawai AA Rent yang sedang bertugas.

“Dia (Yoshua-red) udah tanya kok KTM-nya lain?” ucap Jati mengulang cerita Yoshua. “Ya hampir mirip sih, tapi fotonya agak putihan di KTM. Tapi langsung dikasih aja sama dia,” lanjut Jati.

Oknum yang belum diketahui identitasnya ini menyewa motor Yamaha Mio M3 merah yang umurnya baru tiga minggu untuk 12 jam ke depan. Tetapi dua jam kemudian, oknum menghubungi kembali Yoshua, meminta agar durasi sewanya diperpanjang menjadi 24 jam. Dan Yoshua mengiyakan.

“Kan saya sering main sana to, ke rental sana (Smile Rent Car-red). Yang jaga bilang ‘ini ada motor udah gak kembali tiga hari’ Tak lihat, namanya sama. Tak ambil KTM-nya, kok sama,” papar Jati soal proses dia menemukan kalau oknum yang sama juga menggelapkan motor di Smile Rent Car.

Jati membandingkan antara KTM palsu dengan KTM asli yang sedang ada di buku peminjaman motor AA Rent. Kedua KTM itu dicetak dengan desain lama, sebelum pergantian desain pada 2013. Semestinya, KTM asli berwarna dasar agak kecoklatan, sedangkan KTM palsu cenderung lebih putih terang.

“Bahannya itu lain,” tukas Jati. “Ciri-ciri orangnya mirip sama yang ada di foto, cuman agak item,” tambah Jati ketika ditanya soal ciri-ciri fisik oknum.

Pengecekan Ganda

Pembuatan KTM yang merupakan tugas Bagian Administrasi dan Registrasi sudah menetapkan beberapa ketentuan penggunaan kartu. Ketentuan itu sudah tertera di bagian belakang kartu, yang salah satunya menyebutkan bahwa kartu tidak dapat digunakan sebagai kartu jaminan, selain urusan akademik dan berobat ke Poliklinik UKSW.

“Di sini sudah ada ketentuannya bahwa KTM ini tidak bisa digunakan sebagai jaminan,” tukas Suharyadi, Kepala Biro Administrasi Akademik (BAA), sambil menunjuk bagian belakang kartu.

Lebih lanjut Suharyadi mengatakan agar pihak penyedia jasa melakukan pengecekan ganda, yakni juga dengan meminta KTP sebagai jaminan, atau memotret penyewa sebelum mengambil mobil atau motor. Ketika disinggung apakah UKSW akan memberi anjuran kepada para penyedia jasa terkait penggunaan KTM, Suharyadi mengungkapkan bahwa belum ada rencana seperti itu.

Suharyadi dari meja kerjanya, mengatakan bahwa apabila ada kasus penduplikatan dan pemalsuan KTM seperti ini, tentu ada di luar kendali pihak kampus. Suharyadi menambahkan, bahwa pihaknya dapat membantu penyedia jasa sewa mobil dan motor untuk memberi konfirmasi serta informasi terkait validitas KTM si peminjam.

“Itu yang bisa kami berikan,” kata orang nomor satu di BAA.

Penulis: Arya Adikristya

Membenci itu mudah. Lebih mudah lagi kalau tidak benci.

4 thoughts on “KTM Bukan Kartu Jaminan Sewa Motor”

  1. jangan menggampangkan untuk bikin KTM baru kalo KTM hilang….emang gak mahal-mahal amat sih bkin KTM baru, gak sampe jual diri kok bkin KTM baru itu…..
    cuma kalo ada kasus yg kyak ginian aja….haddeh, efeknya bisa bikin jual diri kali…. :3

  2. maksudnya gini loh bang arya…. biaya untuk buat KTM itu gak sampai bikin jual diri, cuma Rp 35.000,00 sja. tapi kalo udah kena pemalsuan, efeknya bisa bikin “jual diri kali” sampai di datengin orang rental, yah walaupun apes aja data2nya yang kepake tapi bukan dia yang pake.
    mahasiswa sama pemilik rental sama2 jadi korban, ruginya juga gede..

Tinggalkan Balasan ke Evan Sar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *