Ketika Mahasiswa Fiskom Mengeluh di Belakang

“Petisi, audiensi (dengar pendapat –red), dan pemasangan spanduk kita jadikan dalam satu hari,” usul Bima Satria Putra, mahasiswa Jurnalistik 2013, sekaligus Koordinator Kelompok Mawar. Peserta konsolidasi yang hadir malam itu mengiyakan Bima.

Pada bangku besi di lantai dua gedung J, kanfak Teologi, 11 mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom) merencanakan gugatan pada fakultasnya. “Kita perlu bagi-bagi tugas, biar rapi,” ujar Bima.

Kelompok Mawar yang terdiri dari beberapa KBM seperti Cofila, Comic, Lentera dan beberapa mahasiswa dari himpunan mahasiswa (hima) tiga prodi di bawah payung Fiskom, menggugat beberapa kebijakan fakultas. Mulai persewaan kamera, penyediaan ruang sekretariat bagi beberapa organisasi mahasiswa Fiskom, hingga penjaminan keterlibatan mahasiswa dalam penentuan keputusan fakultas.

Tiga gugatan ini mereka godok bareng pada Selasa malam, 23 Maret 2016. “Lalu apa solusi yang kita tawarkan ke fakultas? Pertama, kamera,” ajak Bima merembug. (Baca juga: Mahasiswa Fiskom Tuntut Hentikan Komersialisasi Fasilitas)

Maklum, per Desember 2015 Fiskom sudah mengetok palu terhadap ketentuan sewa ini. Atas pertimbangan ngawurnya penggunaan kamera oleh mahasiswa, maka fasilitas itu jadi ladang persewaan. “Agar mereka dapat menghargai dan menjaga alat tersebut,” ujar Natalia Sukmi, Kepala Laboratorium Fiskom saat itu, pada berita Lentera: Silang Pendapat Fasilitas Berbayar.

Persewaan tersebut tidak berlaku untuk kepentingan perkuliahan. Namun tetap yang kena imbasnya adalah mereka yang hendak meminjamnya, tapi untuk kepentingan non-kuliah.

Selain itu, lewat persewaan tersebut, Fiskom hendak membuat unit usaha. Angan-angan itu muncul setelah Fiskom studi banding ke Fakultas Pertanian dan Bisnis, yang rupanya juga menerapkan sewa-menyewa. “Asumsinya, setiap KBM telah diberi uang produksi (aliran dana pengembangan lembaga kemahasiswaan dari SMF –red). Lagipula, keputusan ini adalah hasil Rapat Dinas Fiskom,” jelas Natalia.

Sejak saat itu, mahasiswa Fiskom kudu merogoh kocek tatkala hendak pinjam salah satu fasilitas fakultasnya.

Berangkat dari sana, Kelompok Mawar menolak rental fasilitas fakultas. “Gimana kalau, baik mahasiswa atau lembaga mahasiswa di Fiskom bisa pinjam, asal ada batasan waktu peminjaman,” ucap Bryan Perdana, Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom).

Ibarat billing di warnet, si peminjam punya batasan waktu meminjam sedari pukul 08.00-16.00. Bila lewat masanya, baru denda. Tapi bila rusak, ya tidak denda, karena mestinya masuk tanggungan pendidikan, menurut Bryan. Lantas bagaimana dengan mahasiswa yang butuh kameranya di atas pukul 16? “Pakek surat izin yang ditandatangani mbak Wilsa (Kepala Laboratorium yang baru –red),” imbuh Bryan.

Semua setuju.

Lantas, bagaimana soal penyediaan ruangan bagi KBM dan hima? Santernya kabar Fakultas Teknologi dan Informasi (FTI) pindah markas ke Blotongan, sampai ke telinga Bima. Lalu ia membawa isu ini ke rapat redaksi Lentera.

Hasil liputan Lentera menerangkan, kekosongan gedung FTI akan segera diisi oleh Fakultas Teologi – yang notabene kantornya sekarang ada di gedung J lantai 2. Kalau lantai 2 kosong, siapa lagi yang menempati, kalau bukan Fiskom? “Aku pikir ini kesempatan pas bagi KBM dan hima untuk minta ruangan,” ujar Bima menyakinkan rekan lainnya.

Ganti foto bersama di media sosial. | Diambil dari akun Instagram Lentera, karya David Adhyaprawira
Ganti foto bersama di media sosial. | Diambil dari akun Instagram Lentera, karya David Adhyaprawira

Kelompok Mawar hendak meminta tiga ruangan. Dua ruangan buat menaungi beberapa KBM sekaligus. Satunya lagi ruang rapat umum, yang bisa dipakai sejak pagi hingga malam. Pengelolaannya bisa jadi bahan pembicaraan selanjutnya.

“Biar kepanitaan nggak susah cari ruangan lagi kalau mau rapat,” ujar salah satu orang mendukung.

Menurut Kelompok Mawar, mahasiswa jarang tahu thethek bengek mengapa satu kebijakan fakultas bisa muncul. Tahu-tahu, ada saja. Contohnya, soal ketentuan sewa kamera fakultas. “Berarti sosialisasinya fakultas kepada mahasiswa harus ditambah lagi,” saran Bima.

Penggalakan sosialisasi dari fakultas kepada mahasiswa, menurut Bima, penting agar kebijakannya teratur. Syukur-syukur tidak ngawur, karena mahasiswa tahu dan mengikuti jalannya rumusan kebijakan fakultas.

Harum dan Berduri

Bima menjelaskan mengapa dirinya memilih nama Mawar. “Mawar itu indah, simbol damai. Damai tapi tetap runcing (waspada akan kesewenang-wenangan –red),” ungkap mahasiswa gondrong ini.

Kelompok Mawar yang bergerak mulai 18 Maret 2016 ini tengah menggalang partisipasi massa Fiskom untuk tanda tangan petisi, yang nantinya sampai di meja Daru Purnomo, Dekan Fiskom. Petisi itu adalah salah satu bukti advokasi dari Kelompok Mawar. “Karena mahasiswa yang tahu duduk permasalahannya cuma bisa mengeluh di belakang, dan LK (Lembaga Kemahasiswaan Fiskom –red) tidak dapat diandalkan,” jelas Bima.

Keluhan mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Mawar tersebut, tersiar hingga telinga orang-orang Komisi D BPM Fiskom. Berhubung Kom D dan Kelompok Mawar punya satu kemiripan: advokasi, Kom D hendak melobi Daru agar segera memberi keputusan atas tuntutan Kelompok Mawar. “Agar pada saat audiensi (antara Kelompok Mawar dengan dekan –red), dekan sudah bisa mengumumkan keputusannya atas masalah ini,” tulis Yulian Dwi, Ketua Komisi D BPM Fiskom, dalam wawancara lewat pesan cepat.

Penulis: Arya Adikristya

Membenci itu mudah. Lebih mudah lagi kalau tidak benci.

4 thoughts on “Ketika Mahasiswa Fiskom Mengeluh di Belakang”

  1. Kelompok mawar sebaiknya masuk ke jalur LKF FISKOM. Sebab, kelompok ini tidak punya legal standing selama Statuta mengatur seluruh kegiatan mahasiswa berada di bawah naungan LK.

    Apabila tak puas dengan kinerja LK, maka masuklah ke sana ambil alih dengan cars menjadi fungsionaris. Cara lain, ada mekanisme Rapat Angkatan dan/atau HMP untuk menegaskan tupoksi LKF FISKOM melalui para wakil mahasisws yang terhormat yang di duduk di BPMF.

    Upaya ber-telos baik tetap saja akan melahirkan masalah baru jika dilakukan tak sesuai regulasi.

    Saran saja,
    Salam

Tinggalkan Balasan ke Josua Maliogha Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *