Seakan-akan Sudah Ada Rekonsiliasi

Sejumlah orang yang pernah terlibat dalam kemelut UKSW, pernah mencurigai bahwa perpecahan itu adalah hasil kerja suatu konspirasi eksternal atau intervensi militer secara langsung. Namun Ariel Heryanto
menepis kecurigaan tersebut.

Pada tulisannya Intelektual Publik, Media, dan Demokratisasi dalam buku “Menggugat Otoriterisme di Asia Tenggara” (tersedia di perpustakaan UKSW), Ariel justru mengurai ragam penyebab secara struktural kemelut UKSW, hingga dampak-dampak yang tak terhindarkan. Baginya, kemelut di Satya Wacana bukan semata-mata konflik internal, melainkan dapat dipahami dalam lanskap yang lebih luas.

Ariel Heryanto, 62 tahun, kini professor di sebuah universitas terkemuka di Australia, adalah mantan dosen pascasarjana UKSW sewaktu kemelut meledak. Selama kemelut berlangsung, ilmuwan sosial ini tergabung
dalam KPD. Beberapa kali tulisan opini dan hasil wawancara dengannya perihal kemelut terbit di media massa. Sebagai imbasnya, beberapa kali pula ia mendapat teguran dan surat panggilan dari pejabat kampus.

Pada 1996, Ariel dan Pimpinan UKSW tidak bersepakat melanjutkan kontrak kerja. “Saya merasa suasana kampus tidak memungkinkan saya menjalankan tugas dan kewajiban yang sudah dijalankan belasan tahun
sebelumnya. Sedang Pimpinan UKSW merasa tidak dapat menghargai apa yang sebelumnya sudah saya kerjakan, dan menghentikan gaji saya,” terang Ariel kepada Scientiarum, 16 Oktober 2016.

Cuplikan korespondensi Ariel dengan Scientiarum seputar kemelut UKSW bisa klik tautan ini: Seakan-akan Sudah Ada Rekonsiliasi – Wawancara dengan Ariel Heryanto – Majalah Scientiarum November 2016

Penulis: Arya Adikristya

Membenci itu mudah. Lebih mudah lagi kalau tidak benci.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *