Mahasiswa Magang Penuh Cinta

Siang itu saya maju tak gentar meninggalkan peron di Stasiun Manggarai. Sambil jalan, dalam hati saya meyakini hari-hari magang di Jakarta tak akan begitu sulit.

Dengan mantap saya bertanya: memang apa susahnya magang di industri media di Jakarta? Saya punya pengalaman ikut pers mahasiswa. Jam terbang liputan di lapangan juga terbilang lebih dari cukup. Jaringan bertebaran di beberapa penjuru kota. Punya cukup duit (kiriman ibuk) buat memenuhi kebutuhan beberapa lama. Segudang petunjuk seputar Jakarta dengan mudahnya bisa diakses lewat hape. Amunisi lengkap. Kurang apalagi?

Saya juga sengaja menyempatkan dua hari di Jakarta sebelum hari pertama magang tiba. Hitung-hitung sebagai hari adaptasi dengan riuh rendah ibukota. Menjajal transportasi yang ada, kunjung ke sana-sini, observasi ini-itu. Betapa sempurnanya persiapan saya.

Hingga tiba hari pertama magang, kesehatan saya ambruk. Saya cuma bisa mengeluh meriang sambil tetap memantapkan hati untuk berangkat ke kantor media tempat saya magang. Setengah hari habis dengan mengenal kulit luar media ini, sambil dengar beberapa desas-desus buruknya. Saya pulang dan terjebak macet sepanjang jalan. Meriang menjadi-jadi. Saya mulai ragu.

Hari kedua magang, meriang, batuk, dan pilek tak bisa diajak kompromi. Seharian terbujur lemas sampai hari ketiga. Izin tidak masuk.

Saya mulai menyesali mengapa saya milih magang di Jakarta. Kenapa tidak di Bali saja? Atau di Surabaya yang dekat dengan rumah? Saya mulai menyalahkan cuaca, polusi dan lalu lintas macet di Jakarta. Keraguan meningkat. Ingin rasanya mundur saja.

Sejak hari penyesalan itu, berangsur kesehatan saya membaik. Saya mulai bisa liputan dan ikut kerja tim. Tapi tetap saja niat magang tak kembali seperti semula. Tidak bersemangat seperti saat meninggalkan peron kereta di Manggarai. Kadang malah mikir, lebih baik sakit daripada ikut kegiatan magang meski bayarannya relatif lebih tinggi dari media lain. Kenapa? Ternyata tidak cinta.

Di luar keterampilan teknis, syarat jadi mahasiswa magang cuma satu: cinta. Kalo cinta sudah bersemayam di dalam diri anak magang, maka magang 2-3 bulan itu cuma terhitung sebagai foreplay.

Beda cerita kalo magangnya dengan berat hati — ndak cinta. Jangankan 2-3 bulan, seminggu saja rasanya sudah seperti di neraka. Belum lagi kalau magangnya di Jakarta. Di industri media pula. Jam kerjanya nggak tentu. Belum tentu dibayar juga. Boro-boro dibayar, dikasih uang makan siang saja tidak.

Namun, soal cinta, orang sering berpikiran kalau itu urusan terbiasa atau tidak. Witing tresna jalaran saka kulina. Kulina matamu! Jadi, mereka ini berpikiran kalau orang bisa membiasakan diri untuk mencintai. Padahal, kita tidak bisa membiasakan sesuatu agar kelak kita mencintainya. Kalau cinta bisa dibiasakan, dirutinkan, maka keterpaksaan juga bisa dibiasakan, dirutinkan, dan dicintai. Kalau sudah begitu, kita bisa membiasakan diri juga untuk mencintai pemaksaan, perbudakan, dan sejenisnya. Karena semuanya terbiasa!

Albert Camus memang pernah bilang kalau pada akhirnya manusia hanya akan terbiasa akan sesuatu hal yang mula-mula asing baginya. Aneh jadi biasa. Semua terasa salah karena tidak terbiasa. Semua terasa benar karena sudah terbiasa. Tapi mencintai magang — dengan segala kegiatan dan tempatnya — adalah hal lain. Cinta datang bukan karena terbiasa. Tapi cinta datang karena orang memang sudah siap menerimanya. Selamanya begitu. Cinta penuh misteri, tapi tidak ada yang menakutkan di sana.

Bagi mahasiswa yang mencintai magang, tentu kegiatan magang adalah mainan serius baginya. Istilah —lembur— berganti —bulan madu— baginya. Susah-senang, tapi cinta. Bahkan, kalau orang sudah cinta, dibayar atau tidak dibayar bukan jadi masalah. Bukankah begitu? Bukan.

Teman saya yang kebetulan juga magang di Jakarta, tapi berlainan media, mengeluh karena tidak dibayar sepeser pun. Bahkan pesangon harian saja tidak. Duit kiriman ibuknya cepat lenyap dimakan kebutuhan sehari-hari. Beberapa kali ngutang sana-sini, hingga hari di mana ibuknya transfer uang bulanan lagi.

Bukankah idealnya dibayar, meski cuma mahasiswa magang? Media macam apa yang tega tidak membayar ganti ongkos kendaraan, tenaga, dan pikiran semulia mahasiswa magang? Ini bukan soal cinta berbayar. Cinta memang tidak bisa dibeli, dibayar dengan apapun. Cinta bisanya diberi dan diterima. Pertanyaannya, jika cinta sudah diberi oleh mahasiswa magang, dapatkah industri media menerima? Belum tentu.

Ada tempat magang yang sudah diberikan cinta, tapi masih memperlakukan mahasiswa magang seperti lebih rendah dari karyawan tetap. Padahal sama-sama manusia. Mahasiswa magang lalu diberi porsi kerja yang tinggi, kerja serabutan ketimbang karyawan tetap. Itupun, lagi-lagi, tidak dibayar. Tempat magang seperti ini gagap menerima cinta mahasiswa magang.

Ini bukan soal pamrih. Cinta mahasiswa magang tidak pernah pamrih. Cinta memang tidak pernah pamrih. Ia tidak pernah menuntut. Tapi cinta bisa meminta, tapi tidak dengan memaksa. Makanya, kalau kebijakan suatu tempat magang dirasa terlalu memberatkan, tidak manusiawi, mahasiswa magang wajib memberi usul! Wajib mengutarakan keluhan, lalu membicarakan penyelesaiannya secara bertanggungjawab. Kalau perlu, bentuk perserikatan magang. Ini bentuk cinta mahasiswa magang. Ini semata-mata untuk memenuhi kecukupan finansial mahasiswa magang.

Sampai titik ini, mestinya kita tahu kalo cinta mahasiswa magang tidak bisa dikaitkan dengan urusan uang atau apapun yang terikat di luar. Semisal, kalau bayarannya tinggi, cintanya makin tinggi. Jika merendah, cintanya juga surut. Atau porsi kerjanya sedikit, maka cintanya bertambah dan juga sebaliknya. Itu othak-athik gathuk namanya.

Padahal, cinta itu tidak tergantung apapun. Ialah yang konstan dan abadi — penuh misteri dan selalu jauh dari rasio manusia. Ia juga tidak sama dengan perasaan manusia yang bisa pasang surut. Perasaan harus dicek berkali-kali kebenarannya, karena bisa saja perasaan meleset. Tapi di dalam cinta, benar-salah sudah tidak lagi penting. Di dalam cinta hanya ada cinta itu sendiri. Penuh hening dan gaduh. Penuh paradoks.

Saya memang tidak mencintai magang industri media di Jakarta. Tapi bukan berarti saya benci juga. Kalo benci, saya sudah keluar dari sekarang. Biasa saja tepatnya. Sejauh ini yang terpikirkan adalah membiasakan diri dengan suasana Ibukota yang jauh berbeda dengan Salatiga. Macet ya sudah. Dapat agenda liputan ya sudah. Pingin liputan inisiatif ya sudah. Kalo berhalangan liputan (karena sakit lagi atau males), ya sudah. Main keliling Jakarta, ya sudah. Jalani saja, sambil tidak menutup kemungkinan suatu hari tiba-tiba saya cinta atau benci, bukan karena terbiasa.

Tulisan ini sebelumnya terbit di siksakampus.com

Paten-isasi Drumblek Salatiga

Drumblek asli mana? Pertanyaan ini beberapa kali muncul dalam forum diskusi gelaran Salatiga Diskusi Intelektual (SDI), pada Kamis sore, 24 November 2016.

Diskusi publik yang bertempat di Kafetaria UKSW ini mengangkat tema “Fenomena Drumblek di Kota Salatiga”. Selain puluhan peserta diskusi, hadir juga tiga narasumber: Dwi “Kimpul” Kukuh, praktisi drumblek; Arief Sadjiarto, Pembantu Rektor III; dan Djarwadi, wakil Dinas Perhubungan, Komunikasi, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dishubkombudpar) Salatiga.

Pembahasan dalam forum bergulir dari asal mula drumblek, dinamika drumblek di Salatiga, hingga rencana Dishubkompudpar Salatiga mempatenkan drumblek sebagai warisan budaya tak benda ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Pengertian lebih lanjut mengenai hak paten, dapat dilihat pada tautan ini.

Suasana diskusi. Ketiga pembicara duduk di depan sebelah kanan: Djarwadi (kiri), Kimpul (tengah), Arief (kanan). | Dok.scientiarum.com/Arya Adikristya
Suasana diskusi. Ketiga pembicara duduk di depan sebelah kanan: Djarwadi (kiri), Kimpul (tengah), Arief (kanan). | Dok.scientiarum.com/Arya Adikristya

Moderator diskusi menunjuk Djarwadi untuk memaparkan gambaran drumlek di mata dinas. Djarwadi angkat bicara. Menurutnya, pada 2011 ada 15 kelompok drumblek yang terdaftar di dinasnya. Namun sekarang, jumlahnya berlipat hingga 52 kelompok. “Artinya memang ada antusiasme tersendiri dari masyarakat,” klaimnya.

Djarwadi setuju dengan usulan agar drumblek dijadikan salah satu ikon budaya Salatiga. Tapi terkait mempatenkan sebagai milik Salatiga, Djarwadi mengatakan kalau pihaknya harus bicara lebih lanjut dengan warga Pancuran yang disebut-sebut sebagai pelopor drumblek di Salatiga sejak 1986. “Sejarah drumblek lebih baik diperjelas lebih dulu sebelum mematenkan,” ucap Djarwadi.

Termaktub dalam buku Salatiga Sketsa Kota Lama yang ditulis Eddy Supangkat, drumblek di Salatiga terpengaruh dari drumband Belanda. Tiap tahun, Belanda dengan korps drumband-nya mengadakan parade musik. Biasanya, rombongan parade yang berkumpul di lapangan Tamansari akan keliling kota setelahnya.

Setelah kepemerintahan Belanda hengkang dari Salatiga, alih-alih punah, drumband ala londo malah jadi tren di Salatiga. Hanya saja, wujudnya yang berbeda. Drumblek cenderung memanfaatkan peralatan bekas untuk menghasilkan musik seperti blek (kaleng –red) bekas sebagai snare drum, jerigen sebagai penghasil bunyi tennor, tong bekas besar sebagai bass drum, kentongan bambu, dan belira (xilofon –red) sebagai melodi pendukung.

Tapi di dalam forum itu, tidak ada orang Pancuran yang hadir sehingga diskusi soal kesejarahan tidak begitu dalam. Moderator lalu bertanya, “Apakah dinasnya pak Djarwadi berani menjadwalkan diskusi publik yang lebih besar untuk membahas drumblek?” Djarwadi mengiyakan. Menurutnya, diskusi lebih lanjut mengenai pematenan, ikon-isasi drumblek akan jatuh sekitar pertengahan 2017.

UKSW Kebagian Peran

Enam tahun terakhir ini, drumblek sudah beberapa kali tampil. Hampir di setiap pagelaran lokal, kelompok-kelompok drumblek di Salatiga dilibatkan.

Menyoal pawai, ada satu pawai drumblek “terbesar” di Salatiga. Pawai setahun sekali ini adalah pawai Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) UKSW. Sekitar enam tahun yang lalu, UKSW melalui CS Marchingblek ikut menggugu drumblek. Dalam pawai itu CS Marchingblek melibatkan ribuan maba untuk main bersama kelompok-kelompok drumblek lokal.

CS Marchingblek 2013.
CS Marchingblek 2013.

Meski 2014 lalu pawai drumblek sempat ditiadakan oleh pihak kampus, kini Arief Sadjiarto mendukung agar drumblek di UKSW tetap ada, paling tidak hingga masa jabatannya habis tahun ajaran 2017//2018. Lebih lanjut Arief mengatakan kalau pihaknya sedang mengupayakan ada anggaran khusus untuk drumblek pada Mei 2017. “Pokoknya kalau saya, drumblek tetap ada di UKSW,” tegas laki-laki yang rambut hitamnya jarang. (Baca juga: Pawai OMB 2014, Semarak Tanpa Marching Blek UKSW)

Dwi “Kimpul” Kukuh, sebagai praktisi sekaligus jebolan CS Marchingblek juga mendukung peng-ikon-nan drumblek sebagai salah satu budaya Salatiga. Dirinya setuju jika drumblek segera dipatenkan, namun dengan satu catatan kepada Djarwadi.

Kimpul menilai Djarwadi, dkk masih kurang matang dalam mempersiapkan kelompok-kelompok drumblek yang dikirim ke luar kota. “Dinas masih sering ndadak kalo ngabari jadwal tampil,” ujar laki-laki yang suka main jimbe ini.

Lebih lanjut, Kimpul menepis salah satu argumen peserta diskusi yang mencap kalau drumblek itu monoton alias “lagunya begitu-gitu saja tiap tahun”. “Perkembangan drumblek justru pesat. Beberapa aliran musik sekarang sudah masuk. Mulai rock, reggae, dan jazz. Selain itu kostum drumblek juga sangat variatif,” jawab Kimpul kepada salah satu peserta diskusi.

Yesaya Sandang, akademisi dari Destinasi Pariwisata FTI UKSW, juga angkat bicara. Bagi Yesaya, drumblek adalah modal pariwisata bagi Salatiga. “Tinggal bagaimana mengemasnya lebih menarik saja,” ujarnya.

Yesaya melihat bahwa drumblek di Salatiga perlu “dikawinkan” dengan festival di bidang lain. Dinas Pariwisata di Salatiga, menurut laki-laki penyuka filsafat ini, mestinya tinggal mengkompakkan tujuan bersama dari kelompok-kelompok drumblek di Salatiga. Lebih-lebih, jika itu menyangkut dengan ikon-isasi dan pematenan drumblek sebagai warisan budaya tak benda dari Salatiga.

Selain ide-ide segar, Yesaya mengatakan, kesejarahaan drumblek di Salatiga juga perlu digali. Penggalian historis itu bisa dilakukan sembari mempersiapkan persyaratan hak paten. Bagi Yesaya alasannya jelas, ketika mempatenkan dan ikon-isasi drumblek, ada pijakannya.

 

Jujur Saja Kalau Memang Waria

Kata orang, “Tak ada pesta yang tak usai.” Tapi orang-orang itu salah. Nyatanya, Puthut EA justru menggambarkan ada ‘pesta’ yang tak kunjung usai, khususnya di kalangan waria.

Pertama-tama, buku ini bukan novel atau antologi cerpen, melainkan berisi dua naskah drama yang sudah pernah dipentaskan di Yogyakarta pada 2007: “Jam 9 Kita Bertemu” dan “Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta”. Namun karena naskah pertama kurang relevan dengan dunia waria, maka saya akan membahas yang kedua saja.

Rosiana, Happy, dan Luna adalah tiga serangkai waria. Seperti waria pada umumnya, dalam naskah itu, diceritakan mereka bertiga pernah berkelindan di jalanan sebagai cebongan (“pelacuran” dalam kamus waria). Tapi mereka bertiga memang lebih menonjol tinimbang waria lainnya. Suara memikat dan gerak tubuh yang piawai, mampu mengantarkan mereka ke panggung hiburan di Metro Nite Club – kelab paling kondang seantero kota.

Deleilah, begitu nama grup musik mereka bertiga. Berkawan kemampuan manajerial dari Dedi, Deleilah meraup sukses. Naik daunnya Deleilah tentu juga tak luput dari dukungan Brian, pemilik Metro. Kehadiran Deleilah dan Metro tak ubahnya seperti simbiosis mutualisme: sama-sama saling menguntungkan. Deleilah mendapat pengakuan sosial sebagai waria sekaligus meraup penghasilan lebih ketimbang nyebong, di satu sisi, Metro juga kian populer.

Deleilah punya jadwal manggung seminggu sekali. Di sela-sela waktu sebelum manggung, selain latihan, para personil Deleilah punya kehidupannya masing-masing. Rosiana tiap-tiap harinya mulai resah dengan umurnya yang kian tua, yang menurutnya akan berdampak pada redupnya karir di panggung hiburan. Sedangkan Luna, punya ambisi lebih untuk menjadi bintang dunia hiburan. Happy? Sama seperti seleb Tanah Air lainnya, ia sedang kegandrungan menjadi politikus dengan dalih memperjuangkan hak-hak waria. Diam-diam juga, Happy dan Luna terlibat perang dingin karena sama-sama naksir Dedi. Di sinilah percikan konflik.

Penerbit: INSISTPress, 2009
Penerbit: INSISTPress, 2009

Membaca buku ini tidak usah kuatir tersesat. Puthut tampaknya sadar bahwa – barangkali – dunia waria tidak sebegitu populer dengan dunia yang terbagi dalam laki-laki atau perempuan, maka ia mencoba membangun pemahaman akan dunia waria.

Mula-mula, ia mengkritik kekeliruan umum menyangkut arti waria dengan gay, lesbian, transgender, dan hermaprodit. Kekeliruan ini lantas cenderung mengkotak-kotakkan struktur sosial secara tertutup – seolah-olah manusia ada tiga jenis kelamin: perempuan, laki-laki, dan tidak normal. Makanya, Puthut berpendapat bahwa di antara hitam-putih, selalu ada abu-abu. Selain itu, memang tidak ada yang hitam benar atau putih benar. Pada titik inilah, sudut pandang waria coba dileburkan bersama paham masyarakat umum. Di sinilah konsep tentang waria terbentuk.

Bicara soal waria, tentu tak bisa lepas dari sejarah personal tiap pelaku. Yang melatarbelakangi seseorang menegaskan dirinya sebagai waria, bisa berbeda satu dengan yang lain. Seperti Rosiana yang punya kekaguman kepada ibunya yang mana seorang penari tayub dan ketakutan pada bapaknya yang kasar. Atau Luna yang pada masa lampaunya mengalami kekerasan seksual dan juga Happy yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Sejarah personal itulah yang membentuk mereka seperti sekarang. Bukankah pola seperti itu juga terjadi pada kita yang (sok) merasa ‘normal’? Di sinilah konsep sejarah personal terbentuk.

Sementara itu, kegagalan harmonisnya kelompok waria dengan masyarakat umum adalah persoalan lain. Kegagalan ini akhirnya berdampak pada minimnya pengakuan, ruang sosial, hingga lahan pekerjaan bagi para waria. Keterasingan terbentuk. Ujung-ujungnya, waria ingin selalu ‘pesta’, yang artinya adalah mendapat pengakuan dari sesama waria, segelintir orang yang minat mendalami ke-waria-an, pun pelanggan di cebongan. Bagi mereka, tidak ada yang lebih membahagiakan selain diakui sama-sama manusia – terlepas dari orientasi seksualnya. Di sinilah konsep pengakuan waria terbentuk.

Hadirnya tiga konsep itu lantas membuat Puthut menyikapinya dengan membagi tiga panggung: Panggung Pesta (tempat Deleilah bekerja dan dapat pengakuan), Panggung Waria (tempat cebongan dan interaksi antar waria, lintas pelanggan), dan Panggung Ingatan (tempat Rosiana, Happy, dan Luna bergumul dengan dirinya sendiri). Selesai urusan panggung, Puthut juga menyodorkan sejumlah istilah khas waria – tentunya tidak tercantum dalam KBBI yang kaku itu – yang terselip dalam dialog jenaka antar waria.

Lebih dari pada itu, konflik dalam “Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta” kian meruncing tatkala Metro hendak ditutup. Rosiana makin bingung dengan karirnya, Happy dan Luna makin sengit, ‘pesta-pesta’ Deleilah terancam usai. Bagaimana mereka mempertahankan kejujuran diri sebagai waria, di tengah gerusan zaman?

Jangan Buru-buru Bubarkan Diskusi Pulau Buru!

Lampu proyektor menyorot ke layar putih yang berada di tengah dinding. Pada sisi kiri layar putih itu, ada pintu rumah joglo yang tertutup. Begitu juga sisi kanan dibentangkan spanduk penghalang cahaya, agar jelas gambar yang berpendar dari proyektor.

Sore, Sabtu, 4 Juni 2016, di rumah joglo itu akan ada nonton bareng “Pulau Buru Tanah Air Beta” – filem yang bulan lalu bikin geger Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta dengan polda setempat, plus ormas yang tak jelas rimbanya. Puluhan orang menunggu jam tayang dimulai, sambil ditemani lagu “Hukum Rimba”-nya Marjinal.

Lembaga Pers Mahasiswa Lentera-lah yang punya hajat. Namun undangannya terbatas pada beberapa mahasiswa Fiskom, pers mahasiswa di Salatiga, pegiat seni dan lingkungan di Salatiga, dan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Semarang. Bisa dilihat dari jumlah orang dan tidak ada hingar bingar undangan nobar di Sekretariat LPM Lentera, Celong, Salatiga.

“Sore ini kita akan nonton ‘Pulau Buru Tanah Air Beta’. Setelah nonton nanti akan diskusi,” buka Galih Agus, staf Litbang Lentera. Filem dimulai.

“Pulau Buru Tanah Air Beta” berkisar pada kisah Hersri Setiawan dan Tedjabayu Sudjojono yang mengunjungi pulau Buru. Pulau itu tidak asing bagi mereka. Terang saja, Hersri dan Tedjabayu adalah penyintas tragedi kemanusiaan 1965. Penahanan itu tak ubahnya karena geliat mereka dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) sejak 1953 hingga pecah G30S.

Nobar dan diskusi filem "Pulau Buru Tanah Air Beta" berjalan lancar. | Dok.scientiarum.com/Pandita Novella
Nobar dan diskusi filem “Pulau Buru Tanah Air Beta” berjalan lancar. | Dok.scientiarum.com/Pandita Novella

Dengan ingatan yang kuat, Hersri dan Tedjabayu mencari rimba teman-temannya yang masih menetap di Buru. Dalam perjalanannya, Hersri mengajak istri dan anaknya juga – hitung-hitung menjembatani kisah pedih orang-orang tua ini kepada generasi setelahnya. Hersri enggan Pulau Buru dilupakan begitu saja.

Sampai di satu tempat, Hersri dan Tedjabayu reuni kecil-kecilan dengan beberapa temannya. Santer kabarnya, dari ribuan ekstapol, kini yang masih hidup tinggal 70 orang. Belakangan, sebelum Hersri menginjakkan kaki di Buru lagi, ada empat orang rekannya yang tutup usia.

Ceceran memoar Hersri berlanjut pada gedung kesenian yang pernah dibangun tapol di desa Savanajaya, kuburan sahabat karibnya, gereja mangkrak yang dulu dibangun tapol juga, hingga pembebasan lahan untuk kawasan pertanian di kabupaten Buru. Hampir di setiap tempat itu, Hersri membacakan puisi pedih tapi pantang tertindih. Filem berdurasi 53 menit itu selesai.

Di Belakang Layar

Whisnu Yonar, produser filem “Pulau Buru Tanah Air Beta”, membuka diskusi sore itu dengan paparan perihal di belakang layar filem. Rupanya, semua bermula di Pengadilan Rakyat Internasional 1965, Den Haag. Di pengadilan itu, Whisnu mengaku bertemu dengan istri Hersri dan mengobrol sedikit tentang penyelesaian tragedi 1965. “Istrinya Hersri tanya, ‘kok selama ini belum ada yang pernah membahas lebih detil soal pulau Buru?’” ucap Whisnu mengenang pertemuan 2015 itu.

Mengajak Rahung Nasution dan Dolorosa Sinaga, Whisnu memulai produksi filem itu dengan waktu pengerjaan kurang dari setahun dan riset berumur tiga bulan. Whisnu mengaku, tingkat kedalaman informasi seputar pulau pengasingan ini masihlah sejumput, karena hanya berangkat dari buku “Memoar Pulau Buru” karya Hersri dan ANRI.

Dari riset, Whisnu dkk menemukan satu kebiasaan “lumrah” para pejabat. Dari beberapa kali kunjungan Jokowi ke Buru, tak sepatah kata ia menyinggung pelanggaran HAM oleh negara semasa ‘65. Justru, pembahasan melulu soal pulau Buru sebagai lumbung padi di provinsi Maluku, karena memiliki luas persawahan lebih dari 5.000 hektar. Menurut Whisnu, sore itu, hal ini bersebrangan dengan iming-iming Jokowi akan penyelesaian pelanggaran HAM di masa lampau, yang termaktub dalam Nawacita. Seolah-olah pulau Buru adalah pulau tanpa sejarah kebangsaan.

Lebih lanjut, Whisnu, yang merupakan alumni Fakultas Bahasa dan Sastra UKSW ini, mengatakan, “Pulau Buru Tanah Air Beta” adalah asupan sejarah alternatif, utamanya, bagi generasi muda. “Mereka ini (generasi puluhan tahun sesudah 1965 –red) korban sistem pendidikan yang tak pernah menyatakan kebenaran,” tutur laki-laki yang rambut hitamnya mulai jarang.

Erik Darmawan, pegiat seni kerakyatan dan lingkungan di Salatiga, turut angkat suara. Ia mengapresiasi dokumentasi sejarah, bahwa dulu di pulau Buru para tapol tetap berkarya meski dibui.  “Pulau Buru Tanah Air Beta” mengingatkan Erik bahwa sebenarnya para ekstapol macam Hersri dkk – meski sudah bebas sejak 80-an – mereka masih “di-tapol-kan” oleh beberapa kalangan masyarakat. Meski begitu, ia acung jempol untuk orang-orang macam Hersri.

Galih menggilir kesempatan bicara. “Mengapa distribusinya dibuat agak tertutup?” sambar Bima Satria Putra, Pemimpin Redaksi LPM Lentera, kepada Whisnu.

Bima menyayangkan tim produksi filem karena membatasi persebaran secara masif. Menurut Bima, kalau “Pulau Buru Tanah Air Beta” hendak disajikan bagi generasi muda, mengapa tidak dibagikan saja seperti “Jagal” dan “Senyap”-nya Joshua Oppenheimer?

Memang, tim produksi filem saat ini menggandeng Button Ijo, rumah produksi dan distribusi filem alternatif. Button Ijo adalah ruang bagi filem-filem indie yang tidak mendapat ruang di layar lebar. Informasi dari Whisnu, “Pulau Buru Tanah Air Beta” bisa diakses secara bebas laiknya “Jagal” dan “Senyap” baru tiga tahun mendatang. Sementara ini, calon penonton harus membeli di Button Ijo untuk mengadakan nobar dan diskusi filem. “Jadi esensi dari pembatasan akses akan filem ini ada pada nobar, diskusi, dan pertukaran wacana secara kolektif. Sayang sekali bila satu orang nonton sendiri dan tanpa ada diskusi,” jawab Whisnu kepada Bima.

Tapi, Yunantyo Adi Setiawan, pegiat HAM dari Semarang, tidak puas dengan jawaban Whisnu. Menurut Yas – demikian sapaan akrabnya – justru dengan orang menonton sendiri di kamar, bukan berarti tidak menimbulkan percikan hasrat diskusi. Yas justru menyayangkan panjang kontrak selama tiga tahun. Menurutnya, kontrak itu terlampau lama. “Saya pikir esensi dari pembatasan akses akan filem itu, hanya pada persoalan kontrak saja. Bukan pada pertukaran wacana secara kolektif,” ujar Yas yang “lolos” dari Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer UKSW. Whisnu angguk-angguk.

Sedangkan saya? Duduk-duduk mengamati, sambil menenggak nikmat secangkir wedang jahe, karena tak ada gangguan ormas dan aparat.