Agar Air Tetap Mengalir, Agar Perempuan Tidak Berakhir: Perempuan sebagai Liyan dalam Pembangunan Sumur Resapan di Patemon

ABSTRACT

The reduces of water discharge in Senjoyo, district Semarang, has become the representataion of lack of water management in Salatiga. Starts with water crisis in Patemon village at 2005 – which is rely on clean water consumption from Senjoyo – a local farmer community and several NGOs worked together on building catchment wells. But, men in Patemon dominates the project, so that most of women there have no equal chance for participating.

Keyword: Patemon, Women Participation, Water Crisis, Catchment Wells, Senjoyo, lack of water management

Unduh di sini: Jurnalentera_edisi 1 (2016)_halaman 9-20_arya adikristya_arista ayu nanda

Pdf utuh bisa diunduh di sini: Jurnalentera_edisi 1 (2016)_UTUH

Nyanyian Seorang Mahasiswa Fiskom

Di kelas perkuliahan, kita menemui dosen pengajar. Tentunya ada proses formal yang terjadi di sana: proses belajar-mengajar (PBM).

Ketika mahasiswa mulai mengantuk dan kipas-kipas menghapus peluh, saya seringkali tertarik memperhatikan cara seorang dosen mengajar. Tentunya merenungkan juga.

Belajar ialah suatu usaha mencapai pemahaman. Untuk mencapai pemahaman itu harus ada yang namanya proses mengalami dan menalar. Maka tak heran ada pepatah yang mengatakan, “pengalaman adalah guru terbaik.” Akan tetapi, untuk mencapai pemahaman yang esensial tak bisa mengandalkan kelas, buku, makalah, dan diskusi saja. Semuanya itu hanya instrumen lembaga pendidikan.

Jika memang ada (banyak) cara untuk mencapai pemahaman, lalu mengapa dosen-dosen yang menggugah kantuk dan ketidaktertarikan mahasiswa tak melakukan koreksi diri, lalu mencoba metode belajar lain yang lebih komunikatif dan mencerminkan creative minority?

Perlu kita tilik juga bahwa mahasiswa itu beragam. Tidak hanya latar belakang kehidupannya saja, tapi secara personal juga. Kali ini saya akan mengerucutkan keberagaman personal tersebut menjadi: cara belajar.

Cara memahami yang berbeda, menuntut cara belajar yang berbeda. Ada yang terstruktur, ada yang acak. Ada yang teoritis, ada yang praktis – ada juga yang bukan keduanya.

Teori dan praktek itu bak warna dalam palet dan kuas. Untuk membuat lukisan yang indah, anak diajarkan untuk mengenali warna-warna itu dulu. Mulai dari sifat tiap warna dan hasil kombinasi warna. Di situ kita mengenal teori. Semakin banyak warna biru yang ditambahkan pada warna merah, maka kadar warna ungu akan meningkat. Si anak akan melukis penuh hati-hati – terkadang malah kelewat takut membuat kesalahan. Hemat saya, teori untuk mencegah hal-hal “sembrono”. Bukankah begitu?

Lalu bagaimana jika praktek didahulukan? Bayangkan saja, jika seorang anak diberi kuas dan palet penuh warna-warna mencolok. Anak itu diberi kebebasan untuk membuat lukisan semaunya dengan caranya sendiri. Bagi sebagian orang, hal itu sembrono, nihil estetika, dan si anak tidak mencapai pemahaman apa-apa. Justru tidak. Si anak praktek mendapatkan lebih daripada si anak yang diajarkan teori terlebih dahulu. Ia mendapat pengalaman melakukan kesalahan dan ujungnya mengetahui mana yang benar.

Saya sendiri tidak mencoba menunjukkan bahwa praktek jauh lebih unggul ketimbang teori. Keduanya jika dilakukan berbarengan, tentu akan menghasilkan lukisan maha karya.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya mengakomodir agar keduanya seimbang? Dengan KBM? Laboratorium Fiskom? Fasilitas akan sia-sia jika fasilitator tak mampu mengimbangi. Saya masih menghormati dosen-dosen di Fiskom.

Hal simpel seperti ini tentunya harus dipertimbangkan lanjut oleh pimpinan Fiskom. Solusi saya singkat, konten dan metode belajar-mengajar agar tepat, haruslah berorientasi pada kebutuhan mahasiswanya sendiri. Salam koreksi diri.

FISKOM, Fiskom, atau FISK?

Berdiri tahun 2000, Fiskom era itu bernama FIS (Fakultas Ilmu Sosial) dengan satu program studi strata satu Sosiologi. Berjalan empat tahun, fakultas ini berganti nama menjadi Fisipol (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), seiring dengan peresmian program studi baru: Komunikasi. Lalu, Fisipol diubah lagi pada 2009 menjadi Fiskom (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi).

Selain sejarah, ada yang menarik pengetahuan saya, yaitu penulisan singkatan dan akronim kelembagaan. Setahu saya, antara akronim dengan singkatan itu mutlak beda. Singkatan ialah gabungan huruf depan (dari deretan kata) yang dicetak kapital. Di sini tidak akan membahas jenis singkatan yang lebih luas seperti penggunaan gelar dan singkatan umum. Kontras dengan akronim, singkatan sama sekali tak bisa dieja sebagai sebuah kata. Seperti DPR dan KPU, sebagaimana harus dibaca per huruf-nya.

Di sisi lain, akronim lebih hidup dan tidak kaku. Akronim wujudnya memang singkatan, tetapi berupa gabungan huruf awal dengan suku kata, atau gabungan suku kata, dan terakhir, gabungan huruf awal dicetak kapital (sama seperti singkatan). Uniknya, akronim dapat dilafalkan sebagai kata. Seperti pemilu, pilpres, dan rudal (peluru kendali).

Bagaimana dengan Fiskom? Jika FIS ialah singkatan dari Fakultas Ilmu Sosial, sudah kelihatan mata kalau FIS termasuk akronim, karena tak perlu repot membaca per huruf. Lalu, Fisipol terang-terangan memperlihatkan dirinya sebagai akronim yang notabene gabungan dari huruf depan “Fakultas”, “Ilmu”, “Sosial”, dan suku kata “pol” dari kata “politik.” Begitu juga dengan Fiskom, letak perbedaannya hanya pada embel-embel “komunikasi” saja.

Namun selama ini telah terjadi pemahaman yang keliru. Penulisan akronim gabungan antara huruf depan dengan suku kata, seperti Fisipol dan Fiskom, tak seharusnya tertulis “FISIPOL” atau “FISKOM.” Realitanya? Salah satu contohnya, cek http://www.uksw.edu dan beberapa surat atau nota yang berkenaan dengan Fiskom.

Yang disayangkan adalah karena fakultas ini sebuah lembaga pendidikan, sudah sepatutnya mengikuti kaidah pedoman penggunaan akronim dan singkatan. Sebuah organisasi resmi seperti Fiskom, harusnya menyingkat namanya dengan gabungan huruf kapital, dan tidak dilafalkan sebagai sebuah kata. Seperti UKSW.

Solusi yang ditawarkan tentu saja pengubahan nama dari Fiskom menjadi FISK, singkatan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi. Unsur-unsur “Fakultas”, “Ilmu”, “Sosial”, “Komunikasi”, tercakup semua jadi satu di FISK. Selain itu, tidak perlu boros kata “ilmu” seperti Fiskom.

Alternatif lain, apabila ada “toleransi” dari pihak yang berwenang, harus ditekankan penulisan “Fiskom” di samping penulisan “FISKOM” yang salah.

Mereka yang mengerti baik soal tata bahasa, hal ini penting untuk dibenahi, tetapi jika memang dianggap wagu, selamanya Fiskom juga akan jadi fakultas wagu.