Melacak Dokumen Kemelut

Ke mana kalau mau cari bacaan seputar kemelut UKSW? Apakah Perpustakaan Notohamidjojo UKSW menyediakannya?

Jawabannya datang bertahap sejak Senin, 26 September 2016. Sore itu saya menuju ke Ruang Reference di lantai dua Perpustakaan Universitas (PU) . Ini kali pertama saya masuk ke sana. Karena gagap informasi tentang ruang referensi, saya tanya salah seorang perempuan di meja resepsionis.

“Bu, kalau mau cari referensi seputar UKSW era 90-an bagaimana?” tanya saya.

“Semacam statuta dan laporan rektor?” jawab In Wiludjeng, staf Bagian Pendidikan dan Pelayanan Pemakai.

Saya mengiyakan. Setelah In membantu mencari dan memberi tumpukan buku laporan rektor dan statuta UKSW.

Laporan selengkapnya bisa diunduh melalui tautan ini: Melacak Dokumen Kemelut – LIPUTAN KHUSUS – Majalah Scientiarum November 2016

Seakan-akan Sudah Ada Rekonsiliasi

Sejumlah orang yang pernah terlibat dalam kemelut UKSW, pernah mencurigai bahwa perpecahan itu adalah hasil kerja suatu konspirasi eksternal atau intervensi militer secara langsung. Namun Ariel Heryanto
menepis kecurigaan tersebut.

Pada tulisannya Intelektual Publik, Media, dan Demokratisasi dalam buku “Menggugat Otoriterisme di Asia Tenggara” (tersedia di perpustakaan UKSW), Ariel justru mengurai ragam penyebab secara struktural kemelut UKSW, hingga dampak-dampak yang tak terhindarkan. Baginya, kemelut di Satya Wacana bukan semata-mata konflik internal, melainkan dapat dipahami dalam lanskap yang lebih luas.

Ariel Heryanto, 62 tahun, kini professor di sebuah universitas terkemuka di Australia, adalah mantan dosen pascasarjana UKSW sewaktu kemelut meledak. Selama kemelut berlangsung, ilmuwan sosial ini tergabung
dalam KPD. Beberapa kali tulisan opini dan hasil wawancara dengannya perihal kemelut terbit di media massa. Sebagai imbasnya, beberapa kali pula ia mendapat teguran dan surat panggilan dari pejabat kampus.

Pada 1996, Ariel dan Pimpinan UKSW tidak bersepakat melanjutkan kontrak kerja. “Saya merasa suasana kampus tidak memungkinkan saya menjalankan tugas dan kewajiban yang sudah dijalankan belasan tahun
sebelumnya. Sedang Pimpinan UKSW merasa tidak dapat menghargai apa yang sebelumnya sudah saya kerjakan, dan menghentikan gaji saya,” terang Ariel kepada Scientiarum, 16 Oktober 2016.

Cuplikan korespondensi Ariel dengan Scientiarum seputar kemelut UKSW bisa klik tautan ini: Seakan-akan Sudah Ada Rekonsiliasi – Wawancara dengan Ariel Heryanto – Majalah Scientiarum November 2016

Paten-isasi Drumblek Salatiga

Drumblek asli mana? Pertanyaan ini beberapa kali muncul dalam forum diskusi gelaran Salatiga Diskusi Intelektual (SDI), pada Kamis sore, 24 November 2016.

Diskusi publik yang bertempat di Kafetaria UKSW ini mengangkat tema “Fenomena Drumblek di Kota Salatiga”. Selain puluhan peserta diskusi, hadir juga tiga narasumber: Dwi “Kimpul” Kukuh, praktisi drumblek; Arief Sadjiarto, Pembantu Rektor III; dan Djarwadi, wakil Dinas Perhubungan, Komunikasi, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dishubkombudpar) Salatiga.

Pembahasan dalam forum bergulir dari asal mula drumblek, dinamika drumblek di Salatiga, hingga rencana Dishubkompudpar Salatiga mempatenkan drumblek sebagai warisan budaya tak benda ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Pengertian lebih lanjut mengenai hak paten, dapat dilihat pada tautan ini.

Suasana diskusi. Ketiga pembicara duduk di depan sebelah kanan: Djarwadi (kiri), Kimpul (tengah), Arief (kanan). | Dok.scientiarum.com/Arya Adikristya
Suasana diskusi. Ketiga pembicara duduk di depan sebelah kanan: Djarwadi (kiri), Kimpul (tengah), Arief (kanan). | Dok.scientiarum.com/Arya Adikristya

Moderator diskusi menunjuk Djarwadi untuk memaparkan gambaran drumlek di mata dinas. Djarwadi angkat bicara. Menurutnya, pada 2011 ada 15 kelompok drumblek yang terdaftar di dinasnya. Namun sekarang, jumlahnya berlipat hingga 52 kelompok. “Artinya memang ada antusiasme tersendiri dari masyarakat,” klaimnya.

Djarwadi setuju dengan usulan agar drumblek dijadikan salah satu ikon budaya Salatiga. Tapi terkait mempatenkan sebagai milik Salatiga, Djarwadi mengatakan kalau pihaknya harus bicara lebih lanjut dengan warga Pancuran yang disebut-sebut sebagai pelopor drumblek di Salatiga sejak 1986. “Sejarah drumblek lebih baik diperjelas lebih dulu sebelum mematenkan,” ucap Djarwadi.

Termaktub dalam buku Salatiga Sketsa Kota Lama yang ditulis Eddy Supangkat, drumblek di Salatiga terpengaruh dari drumband Belanda. Tiap tahun, Belanda dengan korps drumband-nya mengadakan parade musik. Biasanya, rombongan parade yang berkumpul di lapangan Tamansari akan keliling kota setelahnya.

Setelah kepemerintahan Belanda hengkang dari Salatiga, alih-alih punah, drumband ala londo malah jadi tren di Salatiga. Hanya saja, wujudnya yang berbeda. Drumblek cenderung memanfaatkan peralatan bekas untuk menghasilkan musik seperti blek (kaleng –red) bekas sebagai snare drum, jerigen sebagai penghasil bunyi tennor, tong bekas besar sebagai bass drum, kentongan bambu, dan belira (xilofon –red) sebagai melodi pendukung.

Tapi di dalam forum itu, tidak ada orang Pancuran yang hadir sehingga diskusi soal kesejarahan tidak begitu dalam. Moderator lalu bertanya, “Apakah dinasnya pak Djarwadi berani menjadwalkan diskusi publik yang lebih besar untuk membahas drumblek?” Djarwadi mengiyakan. Menurutnya, diskusi lebih lanjut mengenai pematenan, ikon-isasi drumblek akan jatuh sekitar pertengahan 2017.

UKSW Kebagian Peran

Enam tahun terakhir ini, drumblek sudah beberapa kali tampil. Hampir di setiap pagelaran lokal, kelompok-kelompok drumblek di Salatiga dilibatkan.

Menyoal pawai, ada satu pawai drumblek “terbesar” di Salatiga. Pawai setahun sekali ini adalah pawai Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) UKSW. Sekitar enam tahun yang lalu, UKSW melalui CS Marchingblek ikut menggugu drumblek. Dalam pawai itu CS Marchingblek melibatkan ribuan maba untuk main bersama kelompok-kelompok drumblek lokal.

CS Marchingblek 2013.
CS Marchingblek 2013.

Meski 2014 lalu pawai drumblek sempat ditiadakan oleh pihak kampus, kini Arief Sadjiarto mendukung agar drumblek di UKSW tetap ada, paling tidak hingga masa jabatannya habis tahun ajaran 2017//2018. Lebih lanjut Arief mengatakan kalau pihaknya sedang mengupayakan ada anggaran khusus untuk drumblek pada Mei 2017. “Pokoknya kalau saya, drumblek tetap ada di UKSW,” tegas laki-laki yang rambut hitamnya jarang. (Baca juga: Pawai OMB 2014, Semarak Tanpa Marching Blek UKSW)

Dwi “Kimpul” Kukuh, sebagai praktisi sekaligus jebolan CS Marchingblek juga mendukung peng-ikon-nan drumblek sebagai salah satu budaya Salatiga. Dirinya setuju jika drumblek segera dipatenkan, namun dengan satu catatan kepada Djarwadi.

Kimpul menilai Djarwadi, dkk masih kurang matang dalam mempersiapkan kelompok-kelompok drumblek yang dikirim ke luar kota. “Dinas masih sering ndadak kalo ngabari jadwal tampil,” ujar laki-laki yang suka main jimbe ini.

Lebih lanjut, Kimpul menepis salah satu argumen peserta diskusi yang mencap kalau drumblek itu monoton alias “lagunya begitu-gitu saja tiap tahun”. “Perkembangan drumblek justru pesat. Beberapa aliran musik sekarang sudah masuk. Mulai rock, reggae, dan jazz. Selain itu kostum drumblek juga sangat variatif,” jawab Kimpul kepada salah satu peserta diskusi.

Yesaya Sandang, akademisi dari Destinasi Pariwisata FTI UKSW, juga angkat bicara. Bagi Yesaya, drumblek adalah modal pariwisata bagi Salatiga. “Tinggal bagaimana mengemasnya lebih menarik saja,” ujarnya.

Yesaya melihat bahwa drumblek di Salatiga perlu “dikawinkan” dengan festival di bidang lain. Dinas Pariwisata di Salatiga, menurut laki-laki penyuka filsafat ini, mestinya tinggal mengkompakkan tujuan bersama dari kelompok-kelompok drumblek di Salatiga. Lebih-lebih, jika itu menyangkut dengan ikon-isasi dan pematenan drumblek sebagai warisan budaya tak benda dari Salatiga.

Selain ide-ide segar, Yesaya mengatakan, kesejarahaan drumblek di Salatiga juga perlu digali. Penggalian historis itu bisa dilakukan sembari mempersiapkan persyaratan hak paten. Bagi Yesaya alasannya jelas, ketika mempatenkan dan ikon-isasi drumblek, ada pijakannya.

 

Jujur Saja Kalau Memang Waria

Kata orang, “Tak ada pesta yang tak usai.” Tapi orang-orang itu salah. Nyatanya, Puthut EA justru menggambarkan ada ‘pesta’ yang tak kunjung usai, khususnya di kalangan waria.

Pertama-tama, buku ini bukan novel atau antologi cerpen, melainkan berisi dua naskah drama yang sudah pernah dipentaskan di Yogyakarta pada 2007: “Jam 9 Kita Bertemu” dan “Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta”. Namun karena naskah pertama kurang relevan dengan dunia waria, maka saya akan membahas yang kedua saja.

Rosiana, Happy, dan Luna adalah tiga serangkai waria. Seperti waria pada umumnya, dalam naskah itu, diceritakan mereka bertiga pernah berkelindan di jalanan sebagai cebongan (“pelacuran” dalam kamus waria). Tapi mereka bertiga memang lebih menonjol tinimbang waria lainnya. Suara memikat dan gerak tubuh yang piawai, mampu mengantarkan mereka ke panggung hiburan di Metro Nite Club – kelab paling kondang seantero kota.

Deleilah, begitu nama grup musik mereka bertiga. Berkawan kemampuan manajerial dari Dedi, Deleilah meraup sukses. Naik daunnya Deleilah tentu juga tak luput dari dukungan Brian, pemilik Metro. Kehadiran Deleilah dan Metro tak ubahnya seperti simbiosis mutualisme: sama-sama saling menguntungkan. Deleilah mendapat pengakuan sosial sebagai waria sekaligus meraup penghasilan lebih ketimbang nyebong, di satu sisi, Metro juga kian populer.

Deleilah punya jadwal manggung seminggu sekali. Di sela-sela waktu sebelum manggung, selain latihan, para personil Deleilah punya kehidupannya masing-masing. Rosiana tiap-tiap harinya mulai resah dengan umurnya yang kian tua, yang menurutnya akan berdampak pada redupnya karir di panggung hiburan. Sedangkan Luna, punya ambisi lebih untuk menjadi bintang dunia hiburan. Happy? Sama seperti seleb Tanah Air lainnya, ia sedang kegandrungan menjadi politikus dengan dalih memperjuangkan hak-hak waria. Diam-diam juga, Happy dan Luna terlibat perang dingin karena sama-sama naksir Dedi. Di sinilah percikan konflik.

Penerbit: INSISTPress, 2009
Penerbit: INSISTPress, 2009

Membaca buku ini tidak usah kuatir tersesat. Puthut tampaknya sadar bahwa – barangkali – dunia waria tidak sebegitu populer dengan dunia yang terbagi dalam laki-laki atau perempuan, maka ia mencoba membangun pemahaman akan dunia waria.

Mula-mula, ia mengkritik kekeliruan umum menyangkut arti waria dengan gay, lesbian, transgender, dan hermaprodit. Kekeliruan ini lantas cenderung mengkotak-kotakkan struktur sosial secara tertutup – seolah-olah manusia ada tiga jenis kelamin: perempuan, laki-laki, dan tidak normal. Makanya, Puthut berpendapat bahwa di antara hitam-putih, selalu ada abu-abu. Selain itu, memang tidak ada yang hitam benar atau putih benar. Pada titik inilah, sudut pandang waria coba dileburkan bersama paham masyarakat umum. Di sinilah konsep tentang waria terbentuk.

Bicara soal waria, tentu tak bisa lepas dari sejarah personal tiap pelaku. Yang melatarbelakangi seseorang menegaskan dirinya sebagai waria, bisa berbeda satu dengan yang lain. Seperti Rosiana yang punya kekaguman kepada ibunya yang mana seorang penari tayub dan ketakutan pada bapaknya yang kasar. Atau Luna yang pada masa lampaunya mengalami kekerasan seksual dan juga Happy yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Sejarah personal itulah yang membentuk mereka seperti sekarang. Bukankah pola seperti itu juga terjadi pada kita yang (sok) merasa ‘normal’? Di sinilah konsep sejarah personal terbentuk.

Sementara itu, kegagalan harmonisnya kelompok waria dengan masyarakat umum adalah persoalan lain. Kegagalan ini akhirnya berdampak pada minimnya pengakuan, ruang sosial, hingga lahan pekerjaan bagi para waria. Keterasingan terbentuk. Ujung-ujungnya, waria ingin selalu ‘pesta’, yang artinya adalah mendapat pengakuan dari sesama waria, segelintir orang yang minat mendalami ke-waria-an, pun pelanggan di cebongan. Bagi mereka, tidak ada yang lebih membahagiakan selain diakui sama-sama manusia – terlepas dari orientasi seksualnya. Di sinilah konsep pengakuan waria terbentuk.

Hadirnya tiga konsep itu lantas membuat Puthut menyikapinya dengan membagi tiga panggung: Panggung Pesta (tempat Deleilah bekerja dan dapat pengakuan), Panggung Waria (tempat cebongan dan interaksi antar waria, lintas pelanggan), dan Panggung Ingatan (tempat Rosiana, Happy, dan Luna bergumul dengan dirinya sendiri). Selesai urusan panggung, Puthut juga menyodorkan sejumlah istilah khas waria – tentunya tidak tercantum dalam KBBI yang kaku itu – yang terselip dalam dialog jenaka antar waria.

Lebih dari pada itu, konflik dalam “Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta” kian meruncing tatkala Metro hendak ditutup. Rosiana makin bingung dengan karirnya, Happy dan Luna makin sengit, ‘pesta-pesta’ Deleilah terancam usai. Bagaimana mereka mempertahankan kejujuran diri sebagai waria, di tengah gerusan zaman?