Berdiri Untuk Lentera

Sampul muka di sebelah ini adalah majalah edisi ketiga dari Lentera, pers mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom) UKSW. Dari sampulnya sudah jelas kalau yang diulas perihal PKI dan tragedi kemanusiaan pada 1965. Secara geografis, majalah ini fokus di seputaran Salatiga dan Sekitarnya. Setelah terbit, ternyata dipermasalahkan.

Malam 16 Oktober 2015, sekitaran pukul 20.00, Lentera ditelpon Flavianus Der Melsasail, Koorbidkem Fiskom, agar datang ke Gedung Administrasi Pusat. Tidak ada pemberitahuan yang begitu jelas mengenai pertemuan tersebut.

Empat orang Lentera datang ke GAP. Menghadap Daru Purnomo, Dekan Fiskom dan John Titaley, Rektor UKSW.

“Waktu itu, Pak rektor ngomong kalau majalah kami dipermasalahkan oleh beberapa pihak,” tukas Arista Ayu Nanda, Pemimpin Umum Lentera.

Malam itu rektor meminta seluruh majalah yang dijual di luar kampus, alias yang ada di agen-agen, untuk ditarik seluruhnya. Menurut Arista, rektor mewanti-wanti bahwa penarikan majalah tersebut didasari pada pencegahan adanya ormas yang akan mempermasalahkan “Salatiga Kota Merah”. Memang, pada poster-poster promosi majalah yang tersebar, Lentera membuka dua tempat penjualan di luar kampus. Yang pertama di Ababil Agency dan di Kafe Godhong Pring. Namun belakangan SA baru mendapat informasi langsung dari Bima Satria Putra, Pemimpin Redaksi Lentera, bahwa Ababil Agency menolak menjualkan “Salatiga Kota Merah” karena takut dikira menyebarkan ajaran komunisme.

Menurut data himpunan SA, distribusi majalah Lentera dibagikan dalam dua lingkup. Dalam kampus dan luar kampus. Khusus di luar kampus, Lentera telah mengirim majalahnya ke Humas Wali Kota, Persipda, Kampoeng Percik, Godhong Pring dan penjual buku online Salatiga.

Setelah pertemuan dengan orang nomor satu di UKSW itu, Lentera langsung menghubungi Godhong Pring agar menyimpankan majalahnya, untuk diambil esoknya.

17 Oktober 2015 pagi, Daru meminta Lentera agar datang ke kampus membawa sisa majalah yang ada di Godhong Pring. Lentera mengiyakan. Tapi ternyata majalah yang sedianya ada di  Godhong Pring, sudah berpindah tangan. “Ternyata sudah diambil oleh Polres Salatiga,” ujar Arista yang mengenakan parka hijau gelap khas angkatan darat.

Mengetahui tumpukan majalah Lentera di Godhong Pring sudah ‘lenyap’, Daru lantas membuat pertemuan pukul 15.00 dengan anggota Lentera. Dengan satu catatan: seluruh sisa majalah harus dikumpulkan. Pada pertemuan tatap muka antara Daru dengan Lentera, yang mana mestinya sudah ada pengumpulan seluruh sisa majalah, ternyata Lentera mengumpulkan 20 dari 500 eksemplar majalah.

Lebih lanjut, Arista menceritakan bahwa pada malamnya, Lentera kembali dihubungi fakultas. Pesannya jelas: besok 18 Oktober 2015, diminta perwakilan Lentera datang ke Kantor Polres Salatiga pukul 08.00.

18 Oktober 2015, Arista, Bima dan Septi, Bendahara Lentera, hadir di Kantor Polres Salatiga untuk memberi keterangan pada aparat. Di lokasi juga ada Daru, Teguh Wahyono PR II, Arief Sadjiarto PR III, dan Neil Rupidara PR V yang mendampingi proses hingga berakhir siang tadi.

Pertemuan di Kantor Polres Salatiga itu membuahkan kesepakatan agar distribusi majalah Lentera dihentikan dan seluruh sisa majalah segera ditarik, karena rencananya akan segera dibakar. Teguran lisan juga disampaikan kepada UKSW.

Ketika SA menyinggung soal penarikan dan penghangusan majalah, mimik Arista menyeringai lebih lebar. “Di satu sisi kami tetap mau mempertahankan majalah yang ada di tangan kami, ya karena itu hak kami,” aku Arista.

Majalah Tidak akan Dibakar

Malam pukul 18.00, SA menghubungi Daru Purnomo. “Nomor yang anda tuju sedang sibuk,” terdengar lirih dari pengeras suara ponsel selular.

Setelah mengulanginya dua kali, tepat pukul 18.27 baru ada nada tunggu. Diangkat. Samar-samar terdengar suara agak berat.

Dalam percakapan telepon tersebut, Dekan Fiskom ini mengiyakan bahwa pertemuan hari ini bertujuan mencari penyelesaian terbaik, terkait dengan usaha kepolisian dalam mencegah reaksi ormas pada pemberitaan “Salatiga Kota Merah”. Maka dari itu diminta penarikan majalah dan pemberhentian distribusi.

“Penarikan dan pemberhentian distribusi itu adalah kesepakatan bersama,” tukas Daru. Lebih lanjut, Daru menegaskan bahwa kesepakatan tersebut termaktub secara tertulis antara UKSW dengan Polres Salatiga.

Mengacu pada pernyataan dari Lentera bahwa majalah yang nantinya dikumpulkan akan dihanguskan, Daru menepisnya. “Hanya ditarik dan dikumpulkan di fakultas. Tidak akan dibakar,” ujar Daru. Kali ini suaranya putus-putus gegara sinyal lemah, keluhnya.

Di sela-sela percakapan soal pengumpulan majalah, Daru menegaskan dirinya akan berdiri buat Lentera. “Karena Lentera ada di bawah UKSW, maka kami pimpinan fakultas dan universitas juga turut mendampingi proses pemanggilan ini,” tegas Daru.

Selain dukungan dari fakultas, menilik dari Tempo.co pada rubrik Nasional, kasus penarikan majalah ini mengundang sorotan media dan beragam lembaga eksternal UKSW. Pada berita “Beritakan Kasus 1965, Majalah Lentera Ditarik kemudian Dibakar” oleh Abdul Azis, tertulis bahwa Lentera mendapat tawaran advokasi dari Lembaga Bantuan Hukum Pers di Jakarta, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Nasional. (Baca juga: Beritakan Kasus 1965, Majalah Lentera Ditarik lalu Dibakar)

KTM Bukan Kartu Jaminan Sewa Motor

Sore 30 Juni 2015, saya hendak membayar jus alpukat pesanan pada salah satu penjual di Kafe Satya. Pada saat yang sama, Nino Alfia Silas juga berada di situ. Lantas kami terlibat obrolan singkat soal raibnya dua motor sewaan berkedok Kartu Tanda Mahasiswa palsu.

“Sik to, aku tak tuku es teh sik,” kata Nino ketika saya minta kesediaannya diwawancara. Hingga akhirnya kami duduk di bangku panjang berwarna coklat temaram.

Nino bercerita bahwa 29 Juni 2015 kemarin, ia didatangi empat orang penjaga rental motor. Dua dari persewaan Smile Rent Car, dua lainnya dari AA Rent. Mereka membawa dua KTM yang sama dan beratasnamakan Nino Alfia Silas.

Maksud kedatangan mereka berempat ingin mengkonfirmasi apakah Nino benar pernah menyewa motor Honda Beat di Smile Rent Car dan Yamaha Mio di AA Rent. Bukannya mendapati armada motor mereka baik-baik saja, malahan mereka bingung karena KTM yang dibawa ternyata KTM palsu.

“’Mas, atas nama Nino ya?’” ucap Nino menirukan perkataan salah satu penjaga rental motor.

“’Iya mas,’” timpal Nino yang waktu itu sedang ngabuburit.

Penjaga rental motor itu lantas kaget melihat foto pada KTM yang dipegangnya. Foto pada KTM tersebut, berbeda dengan wajah Nino.

“’Ini ndak bener mas, NIM-nya sampeyan?’” tanya penjaga rental motor lagi. “’Ndak bener fakultasnya sampeyan?’” Nino melanjutkan ceritanya dengan sesekali meneguk es tehnya.

Dua KTM ini bukan milik Nino Alfia. Foto telah dipalsukan. Foto ini didapat dari akun Facebook Ivan Vartha Rizza, salah satu teman Nino yang mengunggahnya dan menghimbau netizen agar tidak terulang lagi kejadian demikian.
Dua KTM ini bukan milik Nino Alfia. Foto diri telah dipalsukan. Jepretan ini didapat dari akun Facebook Ivan Vartha Rizza, salah satu teman Nino yang mengunggahnya dan menghimbau netizen agar waspada kejadian demikian.

Saat ditanya demikian, Nino mengaku bahwa namanya memang Nino Alfia Silas dari prodi Desain Komunikasi Visual FTI UKSW, sesuai dengan yang tertulis di KTM. Namun Nino tidak mengiyakan kalau foto pada KTM adalah foto dirinya, karena KTM asli Nino sudah hilang sekitar dua minggu lalu setelah pulang dari pameran seni di Yogyakarta.

“’Iya, saya tahu mas,’” kata Nino, mengulang perkataan penjaga rental motor yang mendatanginya.

Setelah mendapati bahwa ada peminjaman motor oleh oknum tak dikenal, akhirnya mereka dan Nino sepakat untuk mengurus kasus pelarian dua unit motor itu ke Polres Salatiga. Tercatat dalam Surat Tanda Terima Laporan Polisi dengan nomor STTLP/B/339/VI/2015/JATENG/RES SLTG bahwa mereka mengajukan laporan kehilangan pada pukul 18.30 WIB.

Dua Tempat Persewaan Baru Jadi Sasaran

30 Juni 2015, belum genap pukul 21.00, Aditya Ardi Sanjaya dengan dua orang lainnya tampak sedang menonton salah satu program tayangan televisi. Saya masuk dan langsung bertanya soal raibnya motor dengan KTM palsu, Aditya langsung menggeret kursi hijau toska ke arah saya. Tanda dipersilakan duduk. Pada saat yang sama, salah satu temannya yang berbaju merah mematikan televisi.

“Ini kan KTM yang palsu kayak gini,” ucap Aditya, pemilik motor sekaligus pengurus Smile Rent Car, sambil menyodorkan KTM palsu atas nama Nino. Aditya melanjutkan, “Ini orangnya yang bawa kayak gini,” sambil menunjuk foto yang sudah dipalsukan.

“Kebetulan yang pas jaga kan, temenku belum lama. Jadi belum pengalaman banget,” tutur Aditya, sambil menunjuk temannya yang berbaju merah. Setelahnya, saya baru tahu kalau penjaga Smile Rent Car yang melayani oknum ini bernama Angga Saputra Aditianto.

Mengacu pada keterangan dari Angga, Scientiarum menemukan bahwa oknum tersebut datang ke Smile Rent Car untuk menyewa Honda Beat bernopol H 4011 TT dengan durasi 12 jam pada 25 Juni 2015, kisaran pukul 09.30 WIB. Namun sejak 26 Juni 2015 hingga kini, motor tersebut tidak kembali.

“Wah, aku udah tahu kalo ini KTM palsu. Tapi aku tunggu satu dua hari, siapa tahu balik gitu lho. Ternyata kok enggak,” kesal Aditya.

Air mukanya agak kesal. Aditya mengatakan bahwa dirinya berniat bekerjasama dengan pihak kampus terkait tingkat keamanan dan validitas KTM UKSW. “Aku pengen ketemu karo pihak kampus ngobrol soal kayak gini,” ungkap Aditya.

Beda tempat, sama kasus. Penjaga AA Rent yang juga teman Aditya bercerita kalau mereka punya KTM yang sama dengan yang disimpan di Smile Rent Car.

Haryo Jati, pegawai AA Rent yang ditemui Adi, rekan peliputan saya, memberi keterangan bahwa oknum tersebut datang sekitar pukul 20.00, pada 24 Juni 2015. Saat itu oknum dilayani oleh Yoshua, pegawai AA Rent yang sedang bertugas.

“Dia (Yoshua-red) udah tanya kok KTM-nya lain?” ucap Jati mengulang cerita Yoshua. “Ya hampir mirip sih, tapi fotonya agak putihan di KTM. Tapi langsung dikasih aja sama dia,” lanjut Jati.

Oknum yang belum diketahui identitasnya ini menyewa motor Yamaha Mio M3 merah yang umurnya baru tiga minggu untuk 12 jam ke depan. Tetapi dua jam kemudian, oknum menghubungi kembali Yoshua, meminta agar durasi sewanya diperpanjang menjadi 24 jam. Dan Yoshua mengiyakan.

“Kan saya sering main sana to, ke rental sana (Smile Rent Car-red). Yang jaga bilang ‘ini ada motor udah gak kembali tiga hari’ Tak lihat, namanya sama. Tak ambil KTM-nya, kok sama,” papar Jati soal proses dia menemukan kalau oknum yang sama juga menggelapkan motor di Smile Rent Car.

Jati membandingkan antara KTM palsu dengan KTM asli yang sedang ada di buku peminjaman motor AA Rent. Kedua KTM itu dicetak dengan desain lama, sebelum pergantian desain pada 2013. Semestinya, KTM asli berwarna dasar agak kecoklatan, sedangkan KTM palsu cenderung lebih putih terang.

“Bahannya itu lain,” tukas Jati. “Ciri-ciri orangnya mirip sama yang ada di foto, cuman agak item,” tambah Jati ketika ditanya soal ciri-ciri fisik oknum.

Pengecekan Ganda

Pembuatan KTM yang merupakan tugas Bagian Administrasi dan Registrasi sudah menetapkan beberapa ketentuan penggunaan kartu. Ketentuan itu sudah tertera di bagian belakang kartu, yang salah satunya menyebutkan bahwa kartu tidak dapat digunakan sebagai kartu jaminan, selain urusan akademik dan berobat ke Poliklinik UKSW.

“Di sini sudah ada ketentuannya bahwa KTM ini tidak bisa digunakan sebagai jaminan,” tukas Suharyadi, Kepala Biro Administrasi Akademik (BAA), sambil menunjuk bagian belakang kartu.

Lebih lanjut Suharyadi mengatakan agar pihak penyedia jasa melakukan pengecekan ganda, yakni juga dengan meminta KTP sebagai jaminan, atau memotret penyewa sebelum mengambil mobil atau motor. Ketika disinggung apakah UKSW akan memberi anjuran kepada para penyedia jasa terkait penggunaan KTM, Suharyadi mengungkapkan bahwa belum ada rencana seperti itu.

Suharyadi dari meja kerjanya, mengatakan bahwa apabila ada kasus penduplikatan dan pemalsuan KTM seperti ini, tentu ada di luar kendali pihak kampus. Suharyadi menambahkan, bahwa pihaknya dapat membantu penyedia jasa sewa mobil dan motor untuk memberi konfirmasi serta informasi terkait validitas KTM si peminjam.

“Itu yang bisa kami berikan,” kata orang nomor satu di BAA.

SalatiGanesa

Sepintas Kota Salatiga dengan latar belakang Gunung Merbabu. Foto diambil dari id.wikipedia.org
Sepintas Kota Salatiga dengan latar belakang Gunung Merbabu. Foto diambil dari id.wikipedia.org

Mendokumentasikan ide seluruh orang yang sedang atau pernah tinggal di Salatiga bukanlah tidak mungkin. Apalagi, kalau harus mengungkapkannya hanya lewat kata-kata. Memangnya orang mana yang tak bisa berkata-kata?

Tapi, berkata-kata tak harus terucap keluar dari mulut dan menghasilkan suara yang menjurus ke labirin telinga. Berkata-kata bisa juga lewat tulisan. Orang mana yang tak bisa menulis? Ada. Namun, di zaman informasi serba mudah diraih, sebenarnya mereka hanya merasa tak mampu. Tak mampu karena tak ada guru. Padahal, wujud guru tak selalu yang ada di depan kelas.

Dipikirnya, menulis itu harus selalu indah (padahal tulisan indah sendiri tidak pernah jelas seperti apa), kudu sesuai struktur yang sudah ada, penggunaan bahasanya harus sesuai kamus, kalau perlu tulisan juga panjang (agar terlihat pintar), sesak analisa, dan yang bisa menulis cuma orang-orang berbahasa tinggi. Padahal tidak juga!

Jujur saja, ketimbang menulis tulisan yang agak panjang ini, saya lebih suka menulis puisi pendek-pendek, mirip puisinya Eka Budianta. Karena menulis puisi bebasnya bukan main, meskipun ada juga struktur-struktur yang mengikat. Bukankah syarat utama ketika menulis, orang itu harus bebas lebih dulu?

Saya melihat kecenderungan manusia zaman sekarang, sukanya menulis pendek-pendek. Satu kalimat. Dua kalimat. Tiga kalimat. Empat kalimat. Mentok-mentoknya, satu paragraf. Kalau mau tahu contohnya, lihat Meme Comic, 1CAK.com, 9GAG.com atau yang serupa di media sosial.

Gejala suka menulis pendek ini mungkin salah satu pengaruh budaya baca yang minim juga. Orang-orang lebih suka kalimat kutipan dari pengarang atau inspirator terkenal, ketimbang harus membaca pemaparannya pada satu bacaan utuh. Pernah saya menyodorkan tulisan menarik ke salah seorang teman, bukannya langsung membaca, tapi yang ia lihat duluan ternyata seberapa panjang tulisan itu. Kalau menurutnya panjang dan melelahkan, ia tolak. Dan kebetulan waktu itu ia menolak untuk membaca. Berarti apa yang menurutku menarik, tidak menarik baginya.

Ya, membaca tulisan panjang memang melelahkan. Saya akui, saya sendiri tidak begitu suka membaca panjang-panjang, apalagi jika konteks tulisannya asing dan tidak memikat! Bikin capek mata. Pertanyaannya, mengapa harus panjang, jika dengan tulisan pendek, pembaca bisa memahami pesannya?

Kesukaan membaca tulisan ringkas ini mengingatkan saya akan Gde Aryantha Soethama, penulis esai yang cukup tersohor di Bali. Ia pernah bergabung dengan redaksi majalah Sarad yang kukuh dengan slogan “dari Bali, untuk Bali, oleh orang Bali”. Gde punya kewajiban mengisi rubrik Samatra dengan tulisan esai. Samatra berarti suguhan padat, ringkas dan sederhana. Singkat saja, esai Gde tak pernah lebih dari empat halaman kertas ukuran B5. Tapi, pesan yang dituju sangat jelas, ringkas, tak bertele-tele, tidak sesak analisa, bahasanya membumi, diksinya menyesuaikan konteks Bali, bisa diserap semua kalangan. Hal ini tertuang nyata dalam bukunya, Bali Tikam Bali (2004).

Makanya, saya mengapresiasi kehadiran SalatiGanesa, sebuah situs jaring yang mendokumentasikan pikiran dan perasaan orang yang pernah atau sedang tinggal di Salatiga. Topiknya bebas, asal bersinggungan dengan Salatiga. Boleh tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan akan kota Hati Beriman. “Kamu mau Salatiga seperti apa? Curahkan kata-katamu. Minimal satu kalimat,” tulis Yodie.

Ide peluncuran SalatiGanesa ini muncul dari Yodie Hardiyan, salah satu alumni Satya Wacana, yang juga pernah bergeliat di Scientiarum. Semuanya ini bermuara dari pro-kontra pembongkaran Markas Komando Distrik Militer (Makodim) di Jalan Diponegoro, Salatiga 2014 lalu. Karena banyak yang celoteh soal Bangunan Cagara Budaya (BCB) dan pembangunan mal, Yodie berinisiatif mewadahi pendapat orang. Padahal, membicarakan pembangunan mal dengan pelestarian BCB sudah dua hal yang berbeda, meski berkaitan. Tapi, wadah itu tak pernah terwujud saat topik itu memanas tahun kemarin. Karena pro-kontra pembangunan mal di atas lahan BCB telah mendingin, mungkin terlupakan, dan segera diinjak orang, topiknya diperluas oleh Yodie. Tidak melulu BCB, pokoknya soal Salatiga. Lahirlah SalatiGanesa.

Ini terobosan baru, sekaligus alternatif bagi yang tidak suka baca dan tulis panjang-panjang. Bisa jadi analisa kuat terbentuk dari satu kalimat per-orang. Layaknya puzzle, orang lainnya yang tergugah, melengkapi dengan kalimat lainnya. Begitu seterusnya. Gotong royong tulisan mungkin namanya. Bukan tidak mungkin to?

Jadi, masih merasa tak mampu menulis tentang Salatiga?

Suka Mengulang dari Nol

18 April 2015, bisa disebut salah satu hari besar UKSW. Tak lain karena ada acara pembukaan dari Indonesian International Culture Festival 2015, disingkat IICF 2015. Saya tahu pembukaan dan sekilas bentuk acara ini gegara mengikuti informasinya lewat akun Instagram: @iicf2015 dan halaman Facebook IICF 2015. Tapi sejujurnya, kehadiran akun medsos IICF 2015 ini menyebalkan sekali.

Bertepatan dengan hari itu juga, saya sengaja tidak menonton pawai beragam etnis yang terdaftar dalam IICF 2015. Saya sudah kadung bikin janji mau silaturahmi dengan Owot, seorang aktivis teater, di Muncul, Banyubiru.

Siang itu, kami di ruang tamu. Kepala dan ketiak agak basah, usai berendam dan mandi di sungai Muncul. Menunggu kering, dalam bincang-bincang ringan saya dengan Owot, dia berseloroh, “Aku ditelpon sutradaraku, Yak. Aku ditakoni, ‘kenopo kok seneng ngulang soko nol?’ (Aku ditanyai, kenapa kok suka mengulang dari nol?)”

Owot memang kelahiran Solo. Sebelum hijrahnya ke Salatiga, dia aktif menggeluti dunia teater bersama Teater Ruang. Selain teater, Owot juga pecinta anak-anak. Bukan pedofil maksud saya. Owot memang gemar bergaul dan mendalami dunia anak-anak. Saking uletnya, Owot berulangkali menjadi sorotan pemberitaan di Solo dan sekitarnya, karena berhasil membentuk taman baca di beberapa tempat di Solo. Karya-karyanya masih menggaung di Solo.

“Tapi lha dunia seni ning Solotigo ki wagu (Tapi, dunia seni di Salatiga nanggung), Yak,” ungkap Owot, agak menyesalkan.

Sutradara yang dimaksud Owot, tak lain ialah Joko Bibit Santoso. Siang itu, sembari saya menggaruk kulit kepala yang masih basah, Owot bercerita bahwa Bibit tahu banyak perihal jatuh-bangun Owot ketika bergeliat di Salatiga dan Muncul. Tahu demikian, Bibit berulangkali menawarkan Owot agar segera beranjak ke Solo, menawarkan pekerjaan.

“Aku nek meh kerjo ning kono bakal digaji, Yak,” tukas Owot mantap, seolah ada harapan lebih di tanah kelahirannya. Namun hingga kini, Owot masih kukuh ingin bertahan di Muncul karena ingin membantu masyarakat desa, meski ia mengakui memang dirinya punya penyakit “suka mengulang dari nol”.

.

Tapi saya tak bermaksud cerita lebih lanjut soal Owot dan lika-liku hidupnya. Itu semacam pengantar saja.

Dari belasan kisah yang Owot ceritakan pada saya hari itu, yang paling menancap ya ketika dia ditanya Bibit, “Kenopo kok kowe seneng ngulang soko nol?” Pertanyaan itu lantas melayangkan ingatan saya akan beberapa akun media sosial (medsos) acara kepanitiaan di UKSW, yang cenderung suka mengulang dari nol. Dan saya dongkol akan kebiasaan ‘miring’ itu.

Nol apanya? Nol penyukanya di fan page Facebook. Nol pengikut di Twitter. Sebentar lagi mungkin nol pengikut di Instagram, karena medsos kepanitiaan sudah merambah salah satu produk peranakan Facebook ini. Ini sudah jadi kebiasaan ‘miring’ kepanitiaan di UKSW. Bukan begitu?

Tilik lagi, jika tahun 2014 ada PSBII alias Pekan Seni Budaya Indonesia Internasional, maka 2015 ini ada IICF. Dengan dua acara yang serupa tapi hanya beda nama, lantas akun medsos pun dibedakan. Pantauan terakhir saya, halaman Facebook PSBII sudah mencapai 1.219 penyuka, sedangkan IICF 2015 hanya punya 268 penyuka. Beda lagi dengan Twitter. Pada tempat cuap-cuap maksimal 140 karakter ini, akun @PSBII2014 memperoleh 32 pengikut, sedangkan @iicf2015 melejit agak jauh hingga 309 pengikut. Yang paling kentara bedanya, jika PSBII 2014 tidak punya akun Instagram, IICF 2015 sedia, dan telah diikuti 181 pengikut. Inovasi baru, pikir saya—mengingat Instagram kian laris di dunia maya.

Lalu apa masalahnya dari fakta angka di atas? Pertanyaan seperti itu bisa dijawab dengan balik bertanya: masalahnya, untuk konsep acara yang serupa dan merupakan agenda tahunan kampus, mengapa tidak pakai akun medsos yang sudah ada saja? Mengapa tidak diteruskan saja PSBII 2014 dengan berganti nama IICF 2015? Bukankah faktanya, PSBII 2014 sudah punya penyuka jauh lebih banyak ketimbang IICF 2015? Bukannya hal tersebut akan lebih memudahkan panitia dalam merangkul sasaran? Mengapa sukanya mengulang dari nol?

Apa masih ada yang berkilah kesusahan cara mengganti nama? Tinggal menuju ke menu konfigurasi, ubah nama sesuai kebutuhan, selesai. Usai mengubah nama akun atau halaman, targetkan tenggat waktu sebulan atau lebih, untuk menyebar nama baru dan materi-materi promosi yang sudah dibikin. Apa susahnya kepanitiaan UKSW zaman sekarang menguasai pula peran dan fungsi social media strategist? Mbok ya kalau mau bikin kepanitiaan, jangan wagu. Sumber dari internet tak kurang-kurang buat belajar otodidak. Kita bisa belajar dari orang dalam negeri yang paham soal pemanfaatan medsos secara efektif, macam Ainun Chomsun (asli Salatiga) dan Max Manroe.

Mumpung saya masih bisa bertanya, pertanyaan lain muncul lagi: mengapa Senat Mahasiswa Universitas tidak melakukan estafet kepemilikan akun dari panitia lama, kepada panitia baru di tahun mendatang? Bukankah lewat acara-acara sekaliber IICF 2015, SMU juga bisa menyebar budaya estafet akun kepada unit-unit seantero kampus? Sehingga akun medsos yang sudah ada, tidak lantas dibuang, diinjak orang, dan sesegera mungkin digantikan yang juga cepat usang.