Telanjangi Diri Dari Jas Almamater

Akhir Agustus 2014, ada diskusi kecil-kecilan di grup Blackberry Messenger (BBM) Scientiarum. Topiknya klasik, alumni bertanya mengenai perkembangan SA (Scientiarum – red) pada pengurus sekarang. Lantas saya jawab kalau SA dalam waktu dekat ini, mau cetak koran dan majalah (seperti dulu lagi). Maklum, sudah empat tahun penerbitan cetak SA mati suri.

Satu jawaban, langsung diikuti dengan tanggapan dari alumni lain yang tergabung di grup. Ada yang menjawab tidak usah cetak koran – fokus pada jurnalistik dengan medium situs web saja. Lebih ekonomis, katanya. Kacamata lain bilang, SA harus tahu profil pembaca lebih dulu, supaya tahu lebih efektif mana antara pemberitaan koran atau web. Lagu-lagu lama dikumandangkan beberapa saat. Yang muda mendengarkan, yang tua bernyanyi.

Namun ada satu gagasan yang menarik, sekaligus menyentil. Slamet Haryono mengingatkan kalau mau cetak koran atau fokus web, itu sudah jadi fitrahnya SA. Semua sama-sama punya posisi tawar. Bukankah yang terpenting ruh jurnalistiknya?

Saya pikir, gagasan Slamet ada benarnya juga. Malahan banyak benarnya. Alumni Fakultas Biologi angkatan 2000 itu mewanti-wanti fokus pada isi. Kalau konten bagus, dibungkus koran atau web, ya hasilnya tetap bagus. “Jangan sudah habis tenaga cari duit buat cetak koran, malah lupa konten,” kata Slamet.

Belakangan ini saya memang suka putar otak soal isi dan kulit. Seperti kacang dengan kulitnya, atau orang dengan dalamannya. Banyak kata-kata bijak bilang kalau isi lebih penting dari pada sampulnya, kalau jadi kacang jangan lupa kulitnya. Namun lebih banyak lagi orang yang membicarakannya dari satu mulut ke mulut. Diwariskan dari satu zaman ke zaman lainnya, tapi naas, tak semua memahami topik yang meluncur dari mulut.

Soal isi dan kulit, saya jadi ingat paper “Setipis Tinta Terhadap Almamater yang Kucinta” yang ditulis Hardiono Arron, Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas yang baru saja terpilih. Isinya membahas langkah mewujudkan Lembaga Kemahasiswaan (LK) UKSW yang kritis dalam konsep dan sikap. Gagasan dan implementasi yang dibumbui semangat creative minority, dalam konteks Satya Wacana.

Landasan konsep yang ingin diimplentasikan Arron tertuang di kitab suci LK : Ketentuan Umum Keluarga Mahasiswa (KUKM) UKSW 2011. Tepatnya yang dituju Arron adalah bab 2, pasal 7 ayat 2J dan pasal 8 ayat 6. Keduanya menyinggung soal kewajiban menggunakan jas almamater secara bertanggungjawab. Tapi, saya tidak akan melulu membahas soal KUKM, karena jujur saja, membosankan.

Dalam paper-nya, Arron bercerita bahwa di universitas lain, mahasiswa tidak diperkenankan makan, merokok, berkendara sembari mengenakan jas almamater. Sekadar menggulung lengan saja tidak boleh. Pun penggunaan jas almamater, kudu dibarengi dengan baju berkerah dan celana panjang. Jas almamater diperlakukan “mulia”.

Pengalaman seperti itu Arron dapat saat LK Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) studi banding di tiga universitas lain, dalam kurun waktu 2012-2014. Alhasil, ketika Arron menjabat Ketua Senat Mahasiswa FEB 2013-2014, lahirlah Nota Ketua Perihal Penggunaan Jas Almamater di FEB.

***

Konsep mengenai jas almamater UKSW bersifat abstrak absolut. Secara konsep, jas almamater mulanya tak berarti apa-apa, kosong, hanya simbol yang bebas dan tak terbebani makna. Hingga kemudian dikonkretkan dalam wujud jas berwarna putih gading. Tak ketinggalan, jas itu diberi makna. Lalu rasanya mengenakan jas almamater menjadi punya beban (yang cukup berat).

Dalam semiotika, pemberian makna pada tanda (dalam hal ini,“tanda” ialah “jas almamater”) bersifat arbitrer, alias diberi semena-mena dan subyektif. Antara saya dengan Arron, mungkin berbeda memaknai jas almamater tersebut. Bagi saya, jas warna putih gading itu hanya identitas yang menunjukkan bahwa si pemakai adalah sivitas UKSW. Tidak lebih, tidak kurang.

Namun, jika ada nota yang mengatur penggunaan jas almamater – tidak boleh inilah, tidak boleh itulah – saya amat tidak setuju. Aturan memang penting, tapi tak perlu “didewakan”. Memangnya, seberapa kuat nilai hukum peraturan itu dipertanggungjawabkan? Apakah di kampus ini tak lagi mengenal hal ihwal toleransi?

Nota itu dibuat seolah-olah cara mencintai Satya Wacana hanya dengan tidak makan dan merokok sembari mengenakan jas almamater. Justru ketika nota tersebut keluar, bejana kekerasan simbolik meluap. Mengapa? Ketika pemahaman bahwa “yang makan, merokok menggunakan jas almamater, adalah eror” meluap dan merasuk ke elemen-elemen kampus, dari sanalah lahir “kekerasan simbolik yang sah”. Seolah-olah kata “sah” ialah legitimasi sebuah kebenaran. Padahal, kebenaran sejatinya bersifat personal. Manusia saja yang memang suka menyeragamkan kebenaran. Atau mau memperlihatkan siapa yang lebih benar? Bukankah yang terpenting dari LK adalah ruh pelayanannya?

Penyeragaman makna untuk urusan simbol tak semestinya diatur dan disahkan. Bukankah indah ketika perbedaan makna bisa diakomodir? Lagipula, di mana letak nilai creative minority dalam konteks Satya Wacana yang dimaksud Arron pada implementasi nota itu?

“Mendingan dihimbau aja, ketimbang diharuskan atas dasar peraturan,” ucap Adi, salah satu rekan saya di SA, saat obrolan malam. Argumen Adi lalu diiyakan dua kolega lainnya. “Lagipula, jika itu mau dijadikan peraturan, sistem kontrolnya bagaimana? Bukannya aturan harus diikuti perangkatnya berupa sistem kontrol?” lanjut Adi.

Ketimbang mengurus jas almamater, lebih baik LK ajak mahasiswa membuat ruang-ruang hijau di kampus, atau saya kerucutkan saja: bersih-bersih Gedung O. Belakangan saya sedih melihat barang-barang-barang Senat Mahasiwa Universitas yang mangkrak, seolah tak bertuan. Jika anda bertanya barang-barang yang mana, cek koridor samping kanan Gedung O, dekat mesin ATM, dan koridor dalam yang ruang geraknya sesak. Lebih baik lagi, tempat petugas kebersihan Gedung O juga ditata, biar mereka nyaman.

Sudah tiga bulan terakhir ini saya memang suka ajak orang buat bersih-bersih. Kalau ada yang bilang, “ketika mendaki gunung, sebagian besar karakter orang akan kelihatan”, saya pikir tidak juga. Pikiran saya mengatakan, dengan cara bersih-bersih – selain hemat di biaya dan tenaga – karakter seseorang akan terlihat juga. Sama halnya dengan mereka yang susah payah naik gunung.

Dengan cara-cara sederhana seperti itu, LK tak hanya mencintai almamater Satya Wacana, tapi juga mencapai slogan yang notabene periode ini jadi tumpuan: “Kami datang untuk melayani.”

Jangan tanya sisi akademiknya bersih-bersih di mana, karena ke-akademik-an pun berangkat dari hal-hal yang tidak akademis. Dari cabut-cabut ilalang, orang akan mudah capek dan berpikir dua kali bagaimana caranya menghemat tenaga dan waktu. Lahirlah mesin pemotong rumput. Bukankah mesin pemotong rumput adalah hasil ke-akademik-an?

Minoritas berdaya cipta munculnya dari bersih-bersih diri. Bukan dari peraturan pembatas ekspresi yang scientia sacra. Sudahlah, bersih-bersih diri sendiri lebih penting ketimbang menjaga kebersihan jas almamater.

Perbaiki Citra Melalui Kejuaraan Menembak

Pengurus cabang (Pengcab) Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin) Salatiga resmi berdiri Sabtu (1/3). Setelah pelantikan Pengcab di Gedung DPRD kota Salatiga, Perbakin Salatiga membuka kejuaraan menembak “Plumpungan Cup 2014” yang bertempat di lapangan SMP Negeri 2 Salatiga.

“Perbakin Salatiga sudah dikukuhkan oleh pengurus daerah Perbakin Semarang. Dulu kami masih ikut Perbakin Ungaran, namun sekarang kami sudah mandiri,” ungkap Yuliartono, ketua panitia sekaligus ketua bidang buru Perbakin Salatiga.

Ajang perebutan Piala Plumpungan membatasi tempat untuk 12 klub lokal dan 8 klub luar Salatiga. Masing-masing klub wajib mengirimkan 5 personilnya. Kejuaraan ini juga menghadirkan beberapa pejabat kota Salatiga untuk berkompetisi, seperti Wali Kota Salatiga, Ketua KONI Salatiga, dan Ketua DPRD kota Salatiga.

Adi Setyarso, Sekretaris Perbakin Salatiga, menegaskan bahwa Perbakin Salatiga ingin memperbaiki citra tembak menembak melalui “Plumpungan Cup 2014”. Menurutnya, masyarakat lokal masih memahami kegiatan tembak menembak sebagai tindakan negatif. Ia menambahkan bahwa Agustus 2014 akan diagendakan acara serupa di Salatiga.

Seorang peserta sedang bersiap mengarahkan senapan anginnya ke sasaran dalam kejuaraan menembak "Plumpungan Cup Tahun 2014" (Foto: Guntur Segara).
Seorang peserta sedang bersiap mengarahkan senapan anginnya ke sasaran dalam kejuaraan menembak “Plumpungan Cup Tahun 2014” (Foto: Guntur Segara).

“Selama ini kami hanya terarah pada kegiatan berburu saja, namun dengan berdirinya Perbakin Salatiga, kami berkeinginan fokus berprestasi pada tingkat lokal maupun nasional,” ujar Adi.

Salah satu peserta dari Batalyon Arhanudse 15 Bhaladika Semarang, Yusuf Wibawa, mengungkapkan manfaat kejuaraan ini sebagai tempat mengasah mental penembak pemula di Salatiga. “Semoga semakin banyak klub yang dibawahi Pengcab dan kedepannya banyak event persahabatan agar mempererat Perbakin sendiri,” terangnya.

Yulianto, Wali Kota Salatiga sekaligus juara pertama untuk kelas menembak senapan gas, mengharapkan kegiatan Perbakin Salatiga kedepannya semakin berkembang dan dapat memeriahkan acara-acara tahunan kota Salatiga.

“Diharapkan dengan adanya kegiatan ini akan memunculkan prestasi-prestasi baru penembak dari Salatiga,” terang Yulianto.

Abu Vulkanis Gunung Kelud Selimuti UKSW

Tampak akses jalan masuk kampus terselimuti abu vulkanis kiriman Gunung Kelud. (Foto: Arya Adikristya Nonoputra)
Tampak akses jalan masuk kampus terselimuti abu vulkanis kiriman Gunung Kelud. (Foto: Arya Adikristya Nonoputra)

Jumat (14/2) – Sejak sekitar pukul 05.00 WIB hujan abu mengguyur kota Salatiga dan sekitarnya, termasuk lingkungan Universitas Kristen Satya Wacana. Hujan abu vulkanis kiriman Gunung Kelud ini sempat menyelimuti lingkungan kampus sekitar 2-3 jam.

“Erupsi Gunung Merapi tahun 2010 saja tidak sampai seperti ini lho mas, mungkin ini anginnya lebih condong ke arah Barat, jadinya Salatiga sampai Yogyakarta kena semua mas,” ujar Sugiyono, petugas Kamtibpus (Keamanan dan Ketertiban Kampus) yang tengah bertugas.

Sugiyono juga mengungkapkan bahwa tingkat ketebalan abu vulkanis Gunung Kelud, berkisaran satu sentimeter lebih tebal dari abu vulkanis Gunung Merapi tahun 2010 lalu.

Beberapa orang di dalam kampus tampak mengenakan masker, payung, dan jas hujan untuk melindungi diri dari abu vulkanis. Meskipun hujan abu masih mengguyur kampus, aktivitas kampus tetap berjalan seperti biasanya.

Melihat Sisi Lain Merapi dari Ketep Pass

Siapa yang tidak kenal Gunung Merapi? Ya, gunung api yang terkenal akan kengerian Wedhus Gembel-nya (Awan Panas — Red) ternyata tidak sepenuhnya mengerikan seperti pada saat erupsi. Melalui Ketep Pass, kita dapat menyaksikan sekaligus menikmati hamparan keindahan alam Gunung Merapi.

Sabtu subuh (11/1) tepat pukul 03.00 WIB kami para staf dan beberapa alumni Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Scientiarum menyempatkan waktu singgah ke Ketep Pass yang terletak di Ketep, Sawangan, Magelang, Jawa Tengah. Jarak yang kami tempuh sekitar 32 kilometer dari Kota Salatiga menuju lokasi utama Ketep Pass. Lokasi wisata ini termasuk mudah untuk dijangkau karena dapat ditempuh baik menggunakan sepeda motor, mobil, maupun angkutan kota lainnya. Kami memilih bermotoran.

Sabtu (11/01) Pintu masuk menuju Gardu Pandang Ketep Pass (Foto oleh : Jessica Moranggi Lumbantobing).
Sabtu (11/01) Pintu masuk menuju Gardu Pandang Ketep Pass (Foto oleh : Jessica Moranggi Lumbantobing).

Pihak Ketep Pass juga telah mengatur tarif parkir dari jenis-jenis kendaraan yang masuk. Seperti mobil akan dikenakan tarif parkir sejumlah Rp 5.000/unit, mini bus Rp 7.000/unit, bus besar Rp 12.000/unit, dan sepeda motor Rp 2.000/unit.

Ada beberapa jalur yang dapat ditempuh seperti: Ketep Pass ini berjarak 17 km dari Desa Blabak ke arah timur dan 21 km dari Mungkid, keduanya kira-kira hanya menghabiskan waktu 45 menit dalam perjalanan, tergantung kepadatan lalu lintas. Tiga puluh km dari Kota Magelang, 35 km dari Kota Boyolali, dan 30 km dari Candi Borobudur juga menghabiskan waktu sebanyak 1 jam setengah untuk mencapai lokasi utama. Ketep Pass ini juga dapat dicapai melalui Kopeng dan Desa Kaponan.

Kami sengaja berangkat subuh karena ingin mengejar momen sunrise. Apabila teman-teman ingin berkunjung ke Ketep Pass, sangat dianjurkan (terutama bagi yang bermotoran) untuk membawa jaket yang cukup hangat dan kondisikan performa kendaraan sedang optimal karena lokasi wisata ini terletak pada 1200 meter dpl. Bukankah itu dingin dan cukup tinggi? Harus ekstra hati-hati karena terkadang, kabut cukup tebal menghalangi jarak pandang dan ada beberapa lubang di sepanjang jalanan menanjak berkelok menuju Ketep.

Kami tiba di lokasi sekitar pukul 04.00 WIB. Saat itu masih sangat sepi dan senyap. Hanya ada 2 warung singgah yang tetap buka 24 jam di pinggiran lokasi wisata dan beberapa kendaraan besar yang melintas dengan kecepatan tinggi.

Wisata Ketep Pass sebenarnya tidak hanya menawarkan pemandangan langsung menghadap Gunung Merapi dan Merbabu, namun ada juga beberapa fasilitas di Ketep Pass ini yang cukup lengkap dan menarik, seperti: Museum Vulkanologi, Bioskop Mini, Teropong, Gardu Pandang, dan Pelataran Panca Arga.

Tempat pertama yang biasanya langsung dituju oleh para pengunjung biasanya adalah Gardu Pandang. Dari Gardu Pandang, para pengunjung dapat melihat secara langsung keelokan Gunung Merapi dan Merbabu sekaligus juga hamparan pertanian yang terletak di kaki kedua gunung tersebut.

Kita juga dapat menonton film pendek berdurasi 25 menit di Bioskop Mini. Dalam film pendek itu kita dapat menyaksikan bermacam histori mengenai Gunung Merapi. Mulai dari sejarah terbentuknya Merapi, hasil-hasil penelitian di Puncak Garuda yang merupakan sebutan untuk puncak Merapi, jalur-jalur pendakian yang biasa dilewati, hingga kejadian-kejadian yang pernah terjadi di Merapi dan semuanya direntet secara kronologis.

Sabtu (11/01) "Ketep Volcano Theatre" salah satu hiburan yang ditawarkan didalam Gardu Pandang Ketep Pass (Foto oleh : Jessica Moranggi Lumbantobing).
Sabtu (11/01) “Ketep Volcano Theatre” salah satu hiburan yang ditawarkan didalam Gardu Pandang Ketep Pass (Foto oleh : Jessica Moranggi Lumbantobing).

Museum Vulkanologi yang memiliki luas kurang lebih 550 meter persegi ini memamerkan seperti beberapa contoh batu-batuan
erupsi, poster puncak Garuda, poster peringatan dini lahar Gunung Merapi, dan juga beberapa hasil dokumentasi dari aktivitas Gunung Merapi lainnya.

Ketep Pass juga menyediakan sarana edukasi mengenal sejarah Gunung Merapi melalui film dokumenter dan alat-alat peraga yang telah tersedia di Volcano Centre. Lokasi wisata Ketep Pass yang luasnya kurang lebih 8000 meter persegi ini hanya menyediakan 2 teropong dimana satu teropong terletak di Gardu Pandang dan yang lainnya di Pelataran Panca Arga. Namun kedua teropong tersebut tidaklah gratis, jika ingin menggunakan teropong kita diwajibkan membayar Rp 3.000 terlebih dahulu.

Ternyata fasilitas Pelataran Panca Arga juga tak kalah dalam menyajikan pemandangan alam. Cukup berdiri dari tempat Pelataran Panca Arga, kita sudah dapat memandang 5 gunung sekaligus diantaranya: Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan Slamet.

Sabtu (11/01) Pemandangan terbitnya matahari dibalik Gunung Merapi dilihat dari Gardu Pandang Ketep Pass dini hari (Foto oleh : Jessica Moranggi Lumbantobing).
Sabtu (11/01) Pemandangan terbitnya matahari dibalik Gunung Merapi dilihat dari Gardu Pandang Ketep Pass dini hari (Foto oleh : Jessica Moranggi Lumbantobing).

Nah, untuk memasuki area Ketep Pass sendiri akan dipungut biaya Rp 7.300/orang sebagai tiket masuk. Namun untuk memasuki area seperti Bioskop Mini dan Museum Vulkanologi akan dikenakan biaya lagi sejumlah Rp 7.000/orang.

Fasilitas pendukung lainnya seperti toilet, musholla, taman bermain anak-anak, area parkir, dan rentetan warung makanan juga tersedia di sekitar area Ketep Pass. Namun sangat disayangkan, di mana ada manusia, di situ selalu ada sampah yang berserakan, hampir di setiap sudut lokasi wisata ada saja sampah plastik yang berserakan. Selain sampah yang berserakan, cukup banyak fasilitas yang sudah menua dan tak terawat sehingga menimbulkan kesan kumuh.

Akhirnya yang kami nanti-nanti sudah datang, sekitar pukul 05.00 WIB matahari mulai muncul dari balik punggung Gunung Merapi. Namun sayang sekali karena langit berawan cukup tebal, kami kesulitan mengabadikan momen sunrise. Sebelum kami meninggalkan tempat sekitaran pukul 08.00 WIB, kami ditagih lagi biaya parkir sejumlah Rp 2.000/motor. Yang mengejutkan bagi kami walaupun matahari sudah meranah hingga di atas kening, hawa sejuk Ketep pun masih bisa menusuk tulang.