Abu Vulkanis Gunung Kelud Selimuti UKSW

Tampak akses jalan masuk kampus terselimuti abu vulkanis kiriman Gunung Kelud. (Foto: Arya Adikristya Nonoputra)
Tampak akses jalan masuk kampus terselimuti abu vulkanis kiriman Gunung Kelud. (Foto: Arya Adikristya Nonoputra)

Jumat (14/2) – Sejak sekitar pukul 05.00 WIB hujan abu mengguyur kota Salatiga dan sekitarnya, termasuk lingkungan Universitas Kristen Satya Wacana. Hujan abu vulkanis kiriman Gunung Kelud ini sempat menyelimuti lingkungan kampus sekitar 2-3 jam.

“Erupsi Gunung Merapi tahun 2010 saja tidak sampai seperti ini lho mas, mungkin ini anginnya lebih condong ke arah Barat, jadinya Salatiga sampai Yogyakarta kena semua mas,” ujar Sugiyono, petugas Kamtibpus (Keamanan dan Ketertiban Kampus) yang tengah bertugas.

Sugiyono juga mengungkapkan bahwa tingkat ketebalan abu vulkanis Gunung Kelud, berkisaran satu sentimeter lebih tebal dari abu vulkanis Gunung Merapi tahun 2010 lalu.

Beberapa orang di dalam kampus tampak mengenakan masker, payung, dan jas hujan untuk melindungi diri dari abu vulkanis. Meskipun hujan abu masih mengguyur kampus, aktivitas kampus tetap berjalan seperti biasanya.

Melihat Sisi Lain Merapi dari Ketep Pass

Siapa yang tidak kenal Gunung Merapi? Ya, gunung api yang terkenal akan kengerian Wedhus Gembel-nya (Awan Panas — Red) ternyata tidak sepenuhnya mengerikan seperti pada saat erupsi. Melalui Ketep Pass, kita dapat menyaksikan sekaligus menikmati hamparan keindahan alam Gunung Merapi.

Sabtu subuh (11/1) tepat pukul 03.00 WIB kami para staf dan beberapa alumni Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Scientiarum menyempatkan waktu singgah ke Ketep Pass yang terletak di Ketep, Sawangan, Magelang, Jawa Tengah. Jarak yang kami tempuh sekitar 32 kilometer dari Kota Salatiga menuju lokasi utama Ketep Pass. Lokasi wisata ini termasuk mudah untuk dijangkau karena dapat ditempuh baik menggunakan sepeda motor, mobil, maupun angkutan kota lainnya. Kami memilih bermotoran.

Sabtu (11/01) Pintu masuk menuju Gardu Pandang Ketep Pass (Foto oleh : Jessica Moranggi Lumbantobing).
Sabtu (11/01) Pintu masuk menuju Gardu Pandang Ketep Pass (Foto oleh : Jessica Moranggi Lumbantobing).

Pihak Ketep Pass juga telah mengatur tarif parkir dari jenis-jenis kendaraan yang masuk. Seperti mobil akan dikenakan tarif parkir sejumlah Rp 5.000/unit, mini bus Rp 7.000/unit, bus besar Rp 12.000/unit, dan sepeda motor Rp 2.000/unit.

Ada beberapa jalur yang dapat ditempuh seperti: Ketep Pass ini berjarak 17 km dari Desa Blabak ke arah timur dan 21 km dari Mungkid, keduanya kira-kira hanya menghabiskan waktu 45 menit dalam perjalanan, tergantung kepadatan lalu lintas. Tiga puluh km dari Kota Magelang, 35 km dari Kota Boyolali, dan 30 km dari Candi Borobudur juga menghabiskan waktu sebanyak 1 jam setengah untuk mencapai lokasi utama. Ketep Pass ini juga dapat dicapai melalui Kopeng dan Desa Kaponan.

Kami sengaja berangkat subuh karena ingin mengejar momen sunrise. Apabila teman-teman ingin berkunjung ke Ketep Pass, sangat dianjurkan (terutama bagi yang bermotoran) untuk membawa jaket yang cukup hangat dan kondisikan performa kendaraan sedang optimal karena lokasi wisata ini terletak pada 1200 meter dpl. Bukankah itu dingin dan cukup tinggi? Harus ekstra hati-hati karena terkadang, kabut cukup tebal menghalangi jarak pandang dan ada beberapa lubang di sepanjang jalanan menanjak berkelok menuju Ketep.

Kami tiba di lokasi sekitar pukul 04.00 WIB. Saat itu masih sangat sepi dan senyap. Hanya ada 2 warung singgah yang tetap buka 24 jam di pinggiran lokasi wisata dan beberapa kendaraan besar yang melintas dengan kecepatan tinggi.

Wisata Ketep Pass sebenarnya tidak hanya menawarkan pemandangan langsung menghadap Gunung Merapi dan Merbabu, namun ada juga beberapa fasilitas di Ketep Pass ini yang cukup lengkap dan menarik, seperti: Museum Vulkanologi, Bioskop Mini, Teropong, Gardu Pandang, dan Pelataran Panca Arga.

Tempat pertama yang biasanya langsung dituju oleh para pengunjung biasanya adalah Gardu Pandang. Dari Gardu Pandang, para pengunjung dapat melihat secara langsung keelokan Gunung Merapi dan Merbabu sekaligus juga hamparan pertanian yang terletak di kaki kedua gunung tersebut.

Kita juga dapat menonton film pendek berdurasi 25 menit di Bioskop Mini. Dalam film pendek itu kita dapat menyaksikan bermacam histori mengenai Gunung Merapi. Mulai dari sejarah terbentuknya Merapi, hasil-hasil penelitian di Puncak Garuda yang merupakan sebutan untuk puncak Merapi, jalur-jalur pendakian yang biasa dilewati, hingga kejadian-kejadian yang pernah terjadi di Merapi dan semuanya direntet secara kronologis.

Sabtu (11/01) "Ketep Volcano Theatre" salah satu hiburan yang ditawarkan didalam Gardu Pandang Ketep Pass (Foto oleh : Jessica Moranggi Lumbantobing).
Sabtu (11/01) “Ketep Volcano Theatre” salah satu hiburan yang ditawarkan didalam Gardu Pandang Ketep Pass (Foto oleh : Jessica Moranggi Lumbantobing).

Museum Vulkanologi yang memiliki luas kurang lebih 550 meter persegi ini memamerkan seperti beberapa contoh batu-batuan
erupsi, poster puncak Garuda, poster peringatan dini lahar Gunung Merapi, dan juga beberapa hasil dokumentasi dari aktivitas Gunung Merapi lainnya.

Ketep Pass juga menyediakan sarana edukasi mengenal sejarah Gunung Merapi melalui film dokumenter dan alat-alat peraga yang telah tersedia di Volcano Centre. Lokasi wisata Ketep Pass yang luasnya kurang lebih 8000 meter persegi ini hanya menyediakan 2 teropong dimana satu teropong terletak di Gardu Pandang dan yang lainnya di Pelataran Panca Arga. Namun kedua teropong tersebut tidaklah gratis, jika ingin menggunakan teropong kita diwajibkan membayar Rp 3.000 terlebih dahulu.

Ternyata fasilitas Pelataran Panca Arga juga tak kalah dalam menyajikan pemandangan alam. Cukup berdiri dari tempat Pelataran Panca Arga, kita sudah dapat memandang 5 gunung sekaligus diantaranya: Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan Slamet.

Sabtu (11/01) Pemandangan terbitnya matahari dibalik Gunung Merapi dilihat dari Gardu Pandang Ketep Pass dini hari (Foto oleh : Jessica Moranggi Lumbantobing).
Sabtu (11/01) Pemandangan terbitnya matahari dibalik Gunung Merapi dilihat dari Gardu Pandang Ketep Pass dini hari (Foto oleh : Jessica Moranggi Lumbantobing).

Nah, untuk memasuki area Ketep Pass sendiri akan dipungut biaya Rp 7.300/orang sebagai tiket masuk. Namun untuk memasuki area seperti Bioskop Mini dan Museum Vulkanologi akan dikenakan biaya lagi sejumlah Rp 7.000/orang.

Fasilitas pendukung lainnya seperti toilet, musholla, taman bermain anak-anak, area parkir, dan rentetan warung makanan juga tersedia di sekitar area Ketep Pass. Namun sangat disayangkan, di mana ada manusia, di situ selalu ada sampah yang berserakan, hampir di setiap sudut lokasi wisata ada saja sampah plastik yang berserakan. Selain sampah yang berserakan, cukup banyak fasilitas yang sudah menua dan tak terawat sehingga menimbulkan kesan kumuh.

Akhirnya yang kami nanti-nanti sudah datang, sekitar pukul 05.00 WIB matahari mulai muncul dari balik punggung Gunung Merapi. Namun sayang sekali karena langit berawan cukup tebal, kami kesulitan mengabadikan momen sunrise. Sebelum kami meninggalkan tempat sekitaran pukul 08.00 WIB, kami ditagih lagi biaya parkir sejumlah Rp 2.000/motor. Yang mengejutkan bagi kami walaupun matahari sudah meranah hingga di atas kening, hawa sejuk Ketep pun masih bisa menusuk tulang.

Sosialisasi Pemilihan Dekan Psikologi

Rabu sore (29/1)—Lembaga Kemahasiswaan Fakultas (LKF) Fakultas Psikologi (F.Psi) menggelar kegiatan sosialisasi pemilihan dekan fakultas di Ruang E119 Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Sosialisasi ini diperuntukkan bagi seluruh mahasiswa Fakultas Psikologi, mengingat fakultas ini akan melaksanakan pemilihan Dekan F.Psi pada 5 Februari 2014.

Acara sempat mengaret 20 menit dari jadwal yang semula ditentukan pukul 17.00 WIB, pasalnya kapasitas kursi yang disediakan di ruang tersebut belum terisi penuh oleh para mahasiswa F.Psi.

Christina Widiastuti, Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF) sekaligus pembicara mengenalkan jobdesc dekan fakultas. Setelahnya, ada pembahasan Surat Keputusan (SK) Rektor mengenai Tata Cara Pemilihan Calon Dekan Fakultas Psikologi UKSW.

Disamping pembahasan SK Rektor, Christina juga membeberkan alasan-alasan dibalik kekosongan kursi dekan sedari bulan Oktober 2013. Pada hari itu juga Satgas menerima kembali kedua surat dari Jusuf Tjahjo dan Sutarto Wijono yang menyatakan siap menjadi kandidat Dekan F.Psi periode 2013-2017.

Tak ketinggalan mahasiswa yang hadir dalam forum diberikan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi, maupun pertanyaan yang berkenaan seputar pemilihan dekan.

Suasana forum sempat memanas ketika ada pertanyaan mencuat menyinggung pelanggaran SK Rektor yang dilakukan oleh Jusuf. Mahasiswa dengan para personil LKF terlibat dialog yang cukup alot untuk merembukkan solusi atas masalah tersebut.

Ada sekitar 4 solusi yang diajukan oleh para mahasiswa, namun sementara ini pihak LKF hanya dapat memberi wadah bagi mahasiswa karena baru akan diputuskan pada rapat selanjutnya dengan pihak fakultas.

“Antusiasme mahasiswa memang besar, ini juga menunjukkan bahwa masih ada kepedulian mahasiswa terhadap fakultas ini,” tukas Christina ketika diwawancarai mengenai proses jalannya forum sosialisasi.

“Ya intinya pas ada rapat lagi dengan pihak fakultas, aspirasi dan solusi yang sudah teman-teman mahasiswa tawarkan pada saat forum sosialisasi akan saya sampaikan,” imbuhnya.