Paten-isasi Drumblek Salatiga

Drumblek asli mana? Pertanyaan ini beberapa kali muncul dalam forum diskusi gelaran Salatiga Diskusi Intelektual (SDI), pada Kamis sore, 24 November 2016.

Diskusi publik yang bertempat di Kafetaria UKSW ini mengangkat tema “Fenomena Drumblek di Kota Salatiga”. Selain puluhan peserta diskusi, hadir juga tiga narasumber: Dwi “Kimpul” Kukuh, praktisi drumblek; Arief Sadjiarto, Pembantu Rektor III; dan Djarwadi, wakil Dinas Perhubungan, Komunikasi, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dishubkombudpar) Salatiga.

Pembahasan dalam forum bergulir dari asal mula drumblek, dinamika drumblek di Salatiga, hingga rencana Dishubkompudpar Salatiga mempatenkan drumblek sebagai warisan budaya tak benda ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Pengertian lebih lanjut mengenai hak paten, dapat dilihat pada tautan ini.

Suasana diskusi. Ketiga pembicara duduk di depan sebelah kanan: Djarwadi (kiri), Kimpul (tengah), Arief (kanan). | Dok.scientiarum.com/Arya Adikristya
Suasana diskusi. Ketiga pembicara duduk di depan sebelah kanan: Djarwadi (kiri), Kimpul (tengah), Arief (kanan). | Dok.scientiarum.com/Arya Adikristya

Moderator diskusi menunjuk Djarwadi untuk memaparkan gambaran drumlek di mata dinas. Djarwadi angkat bicara. Menurutnya, pada 2011 ada 15 kelompok drumblek yang terdaftar di dinasnya. Namun sekarang, jumlahnya berlipat hingga 52 kelompok. “Artinya memang ada antusiasme tersendiri dari masyarakat,” klaimnya.

Djarwadi setuju dengan usulan agar drumblek dijadikan salah satu ikon budaya Salatiga. Tapi terkait mempatenkan sebagai milik Salatiga, Djarwadi mengatakan kalau pihaknya harus bicara lebih lanjut dengan warga Pancuran yang disebut-sebut sebagai pelopor drumblek di Salatiga sejak 1986. “Sejarah drumblek lebih baik diperjelas lebih dulu sebelum mematenkan,” ucap Djarwadi.

Termaktub dalam buku Salatiga Sketsa Kota Lama yang ditulis Eddy Supangkat, drumblek di Salatiga terpengaruh dari drumband Belanda. Tiap tahun, Belanda dengan korps drumband-nya mengadakan parade musik. Biasanya, rombongan parade yang berkumpul di lapangan Tamansari akan keliling kota setelahnya.

Setelah kepemerintahan Belanda hengkang dari Salatiga, alih-alih punah, drumband ala londo malah jadi tren di Salatiga. Hanya saja, wujudnya yang berbeda. Drumblek cenderung memanfaatkan peralatan bekas untuk menghasilkan musik seperti blek (kaleng –red) bekas sebagai snare drum, jerigen sebagai penghasil bunyi tennor, tong bekas besar sebagai bass drum, kentongan bambu, dan belira (xilofon –red) sebagai melodi pendukung.

Tapi di dalam forum itu, tidak ada orang Pancuran yang hadir sehingga diskusi soal kesejarahan tidak begitu dalam. Moderator lalu bertanya, “Apakah dinasnya pak Djarwadi berani menjadwalkan diskusi publik yang lebih besar untuk membahas drumblek?” Djarwadi mengiyakan. Menurutnya, diskusi lebih lanjut mengenai pematenan, ikon-isasi drumblek akan jatuh sekitar pertengahan 2017.

UKSW Kebagian Peran

Enam tahun terakhir ini, drumblek sudah beberapa kali tampil. Hampir di setiap pagelaran lokal, kelompok-kelompok drumblek di Salatiga dilibatkan.

Menyoal pawai, ada satu pawai drumblek “terbesar” di Salatiga. Pawai setahun sekali ini adalah pawai Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) UKSW. Sekitar enam tahun yang lalu, UKSW melalui CS Marchingblek ikut menggugu drumblek. Dalam pawai itu CS Marchingblek melibatkan ribuan maba untuk main bersama kelompok-kelompok drumblek lokal.

CS Marchingblek 2013.
CS Marchingblek 2013.

Meski 2014 lalu pawai drumblek sempat ditiadakan oleh pihak kampus, kini Arief Sadjiarto mendukung agar drumblek di UKSW tetap ada, paling tidak hingga masa jabatannya habis tahun ajaran 2017//2018. Lebih lanjut Arief mengatakan kalau pihaknya sedang mengupayakan ada anggaran khusus untuk drumblek pada Mei 2017. “Pokoknya kalau saya, drumblek tetap ada di UKSW,” tegas laki-laki yang rambut hitamnya jarang. (Baca juga: Pawai OMB 2014, Semarak Tanpa Marching Blek UKSW)

Dwi “Kimpul” Kukuh, sebagai praktisi sekaligus jebolan CS Marchingblek juga mendukung peng-ikon-nan drumblek sebagai salah satu budaya Salatiga. Dirinya setuju jika drumblek segera dipatenkan, namun dengan satu catatan kepada Djarwadi.

Kimpul menilai Djarwadi, dkk masih kurang matang dalam mempersiapkan kelompok-kelompok drumblek yang dikirim ke luar kota. “Dinas masih sering ndadak kalo ngabari jadwal tampil,” ujar laki-laki yang suka main jimbe ini.

Lebih lanjut, Kimpul menepis salah satu argumen peserta diskusi yang mencap kalau drumblek itu monoton alias “lagunya begitu-gitu saja tiap tahun”. “Perkembangan drumblek justru pesat. Beberapa aliran musik sekarang sudah masuk. Mulai rock, reggae, dan jazz. Selain itu kostum drumblek juga sangat variatif,” jawab Kimpul kepada salah satu peserta diskusi.

Yesaya Sandang, akademisi dari Destinasi Pariwisata FTI UKSW, juga angkat bicara. Bagi Yesaya, drumblek adalah modal pariwisata bagi Salatiga. “Tinggal bagaimana mengemasnya lebih menarik saja,” ujarnya.

Yesaya melihat bahwa drumblek di Salatiga perlu “dikawinkan” dengan festival di bidang lain. Dinas Pariwisata di Salatiga, menurut laki-laki penyuka filsafat ini, mestinya tinggal mengkompakkan tujuan bersama dari kelompok-kelompok drumblek di Salatiga. Lebih-lebih, jika itu menyangkut dengan ikon-isasi dan pematenan drumblek sebagai warisan budaya tak benda dari Salatiga.

Selain ide-ide segar, Yesaya mengatakan, kesejarahaan drumblek di Salatiga juga perlu digali. Penggalian historis itu bisa dilakukan sembari mempersiapkan persyaratan hak paten. Bagi Yesaya alasannya jelas, ketika mempatenkan dan ikon-isasi drumblek, ada pijakannya.

 

Jujur Saja Kalau Memang Waria

Kata orang, “Tak ada pesta yang tak usai.” Tapi orang-orang itu salah. Nyatanya, Puthut EA justru menggambarkan ada ‘pesta’ yang tak kunjung usai, khususnya di kalangan waria.

Pertama-tama, buku ini bukan novel atau antologi cerpen, melainkan berisi dua naskah drama yang sudah pernah dipentaskan di Yogyakarta pada 2007: “Jam 9 Kita Bertemu” dan “Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta”. Namun karena naskah pertama kurang relevan dengan dunia waria, maka saya akan membahas yang kedua saja.

Rosiana, Happy, dan Luna adalah tiga serangkai waria. Seperti waria pada umumnya, dalam naskah itu, diceritakan mereka bertiga pernah berkelindan di jalanan sebagai cebongan (“pelacuran” dalam kamus waria). Tapi mereka bertiga memang lebih menonjol tinimbang waria lainnya. Suara memikat dan gerak tubuh yang piawai, mampu mengantarkan mereka ke panggung hiburan di Metro Nite Club – kelab paling kondang seantero kota.

Deleilah, begitu nama grup musik mereka bertiga. Berkawan kemampuan manajerial dari Dedi, Deleilah meraup sukses. Naik daunnya Deleilah tentu juga tak luput dari dukungan Brian, pemilik Metro. Kehadiran Deleilah dan Metro tak ubahnya seperti simbiosis mutualisme: sama-sama saling menguntungkan. Deleilah mendapat pengakuan sosial sebagai waria sekaligus meraup penghasilan lebih ketimbang nyebong, di satu sisi, Metro juga kian populer.

Deleilah punya jadwal manggung seminggu sekali. Di sela-sela waktu sebelum manggung, selain latihan, para personil Deleilah punya kehidupannya masing-masing. Rosiana tiap-tiap harinya mulai resah dengan umurnya yang kian tua, yang menurutnya akan berdampak pada redupnya karir di panggung hiburan. Sedangkan Luna, punya ambisi lebih untuk menjadi bintang dunia hiburan. Happy? Sama seperti seleb Tanah Air lainnya, ia sedang kegandrungan menjadi politikus dengan dalih memperjuangkan hak-hak waria. Diam-diam juga, Happy dan Luna terlibat perang dingin karena sama-sama naksir Dedi. Di sinilah percikan konflik.

Penerbit: INSISTPress, 2009
Penerbit: INSISTPress, 2009

Membaca buku ini tidak usah kuatir tersesat. Puthut tampaknya sadar bahwa – barangkali – dunia waria tidak sebegitu populer dengan dunia yang terbagi dalam laki-laki atau perempuan, maka ia mencoba membangun pemahaman akan dunia waria.

Mula-mula, ia mengkritik kekeliruan umum menyangkut arti waria dengan gay, lesbian, transgender, dan hermaprodit. Kekeliruan ini lantas cenderung mengkotak-kotakkan struktur sosial secara tertutup – seolah-olah manusia ada tiga jenis kelamin: perempuan, laki-laki, dan tidak normal. Makanya, Puthut berpendapat bahwa di antara hitam-putih, selalu ada abu-abu. Selain itu, memang tidak ada yang hitam benar atau putih benar. Pada titik inilah, sudut pandang waria coba dileburkan bersama paham masyarakat umum. Di sinilah konsep tentang waria terbentuk.

Bicara soal waria, tentu tak bisa lepas dari sejarah personal tiap pelaku. Yang melatarbelakangi seseorang menegaskan dirinya sebagai waria, bisa berbeda satu dengan yang lain. Seperti Rosiana yang punya kekaguman kepada ibunya yang mana seorang penari tayub dan ketakutan pada bapaknya yang kasar. Atau Luna yang pada masa lampaunya mengalami kekerasan seksual dan juga Happy yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Sejarah personal itulah yang membentuk mereka seperti sekarang. Bukankah pola seperti itu juga terjadi pada kita yang (sok) merasa ‘normal’? Di sinilah konsep sejarah personal terbentuk.

Sementara itu, kegagalan harmonisnya kelompok waria dengan masyarakat umum adalah persoalan lain. Kegagalan ini akhirnya berdampak pada minimnya pengakuan, ruang sosial, hingga lahan pekerjaan bagi para waria. Keterasingan terbentuk. Ujung-ujungnya, waria ingin selalu ‘pesta’, yang artinya adalah mendapat pengakuan dari sesama waria, segelintir orang yang minat mendalami ke-waria-an, pun pelanggan di cebongan. Bagi mereka, tidak ada yang lebih membahagiakan selain diakui sama-sama manusia – terlepas dari orientasi seksualnya. Di sinilah konsep pengakuan waria terbentuk.

Hadirnya tiga konsep itu lantas membuat Puthut menyikapinya dengan membagi tiga panggung: Panggung Pesta (tempat Deleilah bekerja dan dapat pengakuan), Panggung Waria (tempat cebongan dan interaksi antar waria, lintas pelanggan), dan Panggung Ingatan (tempat Rosiana, Happy, dan Luna bergumul dengan dirinya sendiri). Selesai urusan panggung, Puthut juga menyodorkan sejumlah istilah khas waria – tentunya tidak tercantum dalam KBBI yang kaku itu – yang terselip dalam dialog jenaka antar waria.

Lebih dari pada itu, konflik dalam “Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta” kian meruncing tatkala Metro hendak ditutup. Rosiana makin bingung dengan karirnya, Happy dan Luna makin sengit, ‘pesta-pesta’ Deleilah terancam usai. Bagaimana mereka mempertahankan kejujuran diri sebagai waria, di tengah gerusan zaman?

DKV 2013 Dobrak Usda Monoton

Lewat Pasar B’ Art, DKV 2013 FTI UKSW membuka peluang usaha dana lebih kreatif. Karena melihat pembawaan usda di UKSW cenderung monoton—berjualan makanan, mengamen, dan jual baju bekas di pasar pagi—yang mana mengharuskan penjual menjemput pembeli secara langsung, DKV 2013 membuat konsumen yang mendatangi mereka.

Alexander Herdian Prasetya, Ketua Panitia Pasar B’Art, berpendapat bahwa usda di UKSW ini monoton dan makan waktu, sehingga menurutnya jadwal usda bertubrukan dengan jam kuliah. “Karena kita melihat usaha dana dengan cara berputar jualan makanan dan mengamen ndak sempet,” terang laki-laki yang akrab disapa Kokoh.

Bermodal kemampuan mendesain komunikasi visual, mereka mengemas usda ini dengan konsep pasar malam. Uniknya, sepanjang 17-20 Desember 2015, Pasar B’Art justru tidak digelar malam hari. Alasannya sederhana, peluang mendapat pemasukan lebih tinggi pada kisaran pukul 07.00-17.00.

Ada bermacam stan laiknya di pasar malam. Mulai dari penjualan makanan, pakaian, hingga jasa membuang penat seperti permainan Rubber Gun, Dart, dan sketsa wajah. Rencananya, panitia Pasar B’Art akan mengalokasikan pemasukannya untuk modal pameran DKV 2013 mendatang.

Ini juga kali pertama bagi DKV 2013 menggelar acara di SC UKSW. Makanya, frasa seperti “DKV 2013 Berulah” mencuat beberapa hari sebelum pasar dibuka. “Karena kami ndak pernah nongkrong di sana (SC—red), ndak pernah bikin apa. Tapi sekalinya bikin acara di SC, langsung besar seperti Pasar B’Art,” ujar Kokoh mantap.

Kokoh berharap agar Pasar B’Art dapat menjadi inspirasi usda lainnya di UKSW. “Ya semoga jadi inspirasi,” harap Kokoh.

SalatiGanesa

Sepintas Kota Salatiga dengan latar belakang Gunung Merbabu. Foto diambil dari id.wikipedia.org
Sepintas Kota Salatiga dengan latar belakang Gunung Merbabu. Foto diambil dari id.wikipedia.org

Mendokumentasikan ide seluruh orang yang sedang atau pernah tinggal di Salatiga bukanlah tidak mungkin. Apalagi, kalau harus mengungkapkannya hanya lewat kata-kata. Memangnya orang mana yang tak bisa berkata-kata?

Tapi, berkata-kata tak harus terucap keluar dari mulut dan menghasilkan suara yang menjurus ke labirin telinga. Berkata-kata bisa juga lewat tulisan. Orang mana yang tak bisa menulis? Ada. Namun, di zaman informasi serba mudah diraih, sebenarnya mereka hanya merasa tak mampu. Tak mampu karena tak ada guru. Padahal, wujud guru tak selalu yang ada di depan kelas.

Dipikirnya, menulis itu harus selalu indah (padahal tulisan indah sendiri tidak pernah jelas seperti apa), kudu sesuai struktur yang sudah ada, penggunaan bahasanya harus sesuai kamus, kalau perlu tulisan juga panjang (agar terlihat pintar), sesak analisa, dan yang bisa menulis cuma orang-orang berbahasa tinggi. Padahal tidak juga!

Jujur saja, ketimbang menulis tulisan yang agak panjang ini, saya lebih suka menulis puisi pendek-pendek, mirip puisinya Eka Budianta. Karena menulis puisi bebasnya bukan main, meskipun ada juga struktur-struktur yang mengikat. Bukankah syarat utama ketika menulis, orang itu harus bebas lebih dulu?

Saya melihat kecenderungan manusia zaman sekarang, sukanya menulis pendek-pendek. Satu kalimat. Dua kalimat. Tiga kalimat. Empat kalimat. Mentok-mentoknya, satu paragraf. Kalau mau tahu contohnya, lihat Meme Comic, 1CAK.com, 9GAG.com atau yang serupa di media sosial.

Gejala suka menulis pendek ini mungkin salah satu pengaruh budaya baca yang minim juga. Orang-orang lebih suka kalimat kutipan dari pengarang atau inspirator terkenal, ketimbang harus membaca pemaparannya pada satu bacaan utuh. Pernah saya menyodorkan tulisan menarik ke salah seorang teman, bukannya langsung membaca, tapi yang ia lihat duluan ternyata seberapa panjang tulisan itu. Kalau menurutnya panjang dan melelahkan, ia tolak. Dan kebetulan waktu itu ia menolak untuk membaca. Berarti apa yang menurutku menarik, tidak menarik baginya.

Ya, membaca tulisan panjang memang melelahkan. Saya akui, saya sendiri tidak begitu suka membaca panjang-panjang, apalagi jika konteks tulisannya asing dan tidak memikat! Bikin capek mata. Pertanyaannya, mengapa harus panjang, jika dengan tulisan pendek, pembaca bisa memahami pesannya?

Kesukaan membaca tulisan ringkas ini mengingatkan saya akan Gde Aryantha Soethama, penulis esai yang cukup tersohor di Bali. Ia pernah bergabung dengan redaksi majalah Sarad yang kukuh dengan slogan “dari Bali, untuk Bali, oleh orang Bali”. Gde punya kewajiban mengisi rubrik Samatra dengan tulisan esai. Samatra berarti suguhan padat, ringkas dan sederhana. Singkat saja, esai Gde tak pernah lebih dari empat halaman kertas ukuran B5. Tapi, pesan yang dituju sangat jelas, ringkas, tak bertele-tele, tidak sesak analisa, bahasanya membumi, diksinya menyesuaikan konteks Bali, bisa diserap semua kalangan. Hal ini tertuang nyata dalam bukunya, Bali Tikam Bali (2004).

Makanya, saya mengapresiasi kehadiran SalatiGanesa, sebuah situs jaring yang mendokumentasikan pikiran dan perasaan orang yang pernah atau sedang tinggal di Salatiga. Topiknya bebas, asal bersinggungan dengan Salatiga. Boleh tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan akan kota Hati Beriman. “Kamu mau Salatiga seperti apa? Curahkan kata-katamu. Minimal satu kalimat,” tulis Yodie.

Ide peluncuran SalatiGanesa ini muncul dari Yodie Hardiyan, salah satu alumni Satya Wacana, yang juga pernah bergeliat di Scientiarum. Semuanya ini bermuara dari pro-kontra pembongkaran Markas Komando Distrik Militer (Makodim) di Jalan Diponegoro, Salatiga 2014 lalu. Karena banyak yang celoteh soal Bangunan Cagara Budaya (BCB) dan pembangunan mal, Yodie berinisiatif mewadahi pendapat orang. Padahal, membicarakan pembangunan mal dengan pelestarian BCB sudah dua hal yang berbeda, meski berkaitan. Tapi, wadah itu tak pernah terwujud saat topik itu memanas tahun kemarin. Karena pro-kontra pembangunan mal di atas lahan BCB telah mendingin, mungkin terlupakan, dan segera diinjak orang, topiknya diperluas oleh Yodie. Tidak melulu BCB, pokoknya soal Salatiga. Lahirlah SalatiGanesa.

Ini terobosan baru, sekaligus alternatif bagi yang tidak suka baca dan tulis panjang-panjang. Bisa jadi analisa kuat terbentuk dari satu kalimat per-orang. Layaknya puzzle, orang lainnya yang tergugah, melengkapi dengan kalimat lainnya. Begitu seterusnya. Gotong royong tulisan mungkin namanya. Bukan tidak mungkin to?

Jadi, masih merasa tak mampu menulis tentang Salatiga?