Jujur Saja Kalau Memang Waria

Kata orang, “Tak ada pesta yang tak usai.” Tapi orang-orang itu salah. Nyatanya, Puthut EA justru menggambarkan ada ‘pesta’ yang tak kunjung usai, khususnya di kalangan waria.

Pertama-tama, buku ini bukan novel atau antologi cerpen, melainkan berisi dua naskah drama yang sudah pernah dipentaskan di Yogyakarta pada 2007: “Jam 9 Kita Bertemu” dan “Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta”. Namun karena naskah pertama kurang relevan dengan dunia waria, maka saya akan membahas yang kedua saja.

Rosiana, Happy, dan Luna adalah tiga serangkai waria. Seperti waria pada umumnya, dalam naskah itu, diceritakan mereka bertiga pernah berkelindan di jalanan sebagai cebongan (“pelacuran” dalam kamus waria). Tapi mereka bertiga memang lebih menonjol tinimbang waria lainnya. Suara memikat dan gerak tubuh yang piawai, mampu mengantarkan mereka ke panggung hiburan di Metro Nite Club – kelab paling kondang seantero kota.

Deleilah, begitu nama grup musik mereka bertiga. Berkawan kemampuan manajerial dari Dedi, Deleilah meraup sukses. Naik daunnya Deleilah tentu juga tak luput dari dukungan Brian, pemilik Metro. Kehadiran Deleilah dan Metro tak ubahnya seperti simbiosis mutualisme: sama-sama saling menguntungkan. Deleilah mendapat pengakuan sosial sebagai waria sekaligus meraup penghasilan lebih ketimbang nyebong, di satu sisi, Metro juga kian populer.

Deleilah punya jadwal manggung seminggu sekali. Di sela-sela waktu sebelum manggung, selain latihan, para personil Deleilah punya kehidupannya masing-masing. Rosiana tiap-tiap harinya mulai resah dengan umurnya yang kian tua, yang menurutnya akan berdampak pada redupnya karir di panggung hiburan. Sedangkan Luna, punya ambisi lebih untuk menjadi bintang dunia hiburan. Happy? Sama seperti seleb Tanah Air lainnya, ia sedang kegandrungan menjadi politikus dengan dalih memperjuangkan hak-hak waria. Diam-diam juga, Happy dan Luna terlibat perang dingin karena sama-sama naksir Dedi. Di sinilah percikan konflik.

Penerbit: INSISTPress, 2009
Penerbit: INSISTPress, 2009

Membaca buku ini tidak usah kuatir tersesat. Puthut tampaknya sadar bahwa – barangkali – dunia waria tidak sebegitu populer dengan dunia yang terbagi dalam laki-laki atau perempuan, maka ia mencoba membangun pemahaman akan dunia waria.

Mula-mula, ia mengkritik kekeliruan umum menyangkut arti waria dengan gay, lesbian, transgender, dan hermaprodit. Kekeliruan ini lantas cenderung mengkotak-kotakkan struktur sosial secara tertutup – seolah-olah manusia ada tiga jenis kelamin: perempuan, laki-laki, dan tidak normal. Makanya, Puthut berpendapat bahwa di antara hitam-putih, selalu ada abu-abu. Selain itu, memang tidak ada yang hitam benar atau putih benar. Pada titik inilah, sudut pandang waria coba dileburkan bersama paham masyarakat umum. Di sinilah konsep tentang waria terbentuk.

Bicara soal waria, tentu tak bisa lepas dari sejarah personal tiap pelaku. Yang melatarbelakangi seseorang menegaskan dirinya sebagai waria, bisa berbeda satu dengan yang lain. Seperti Rosiana yang punya kekaguman kepada ibunya yang mana seorang penari tayub dan ketakutan pada bapaknya yang kasar. Atau Luna yang pada masa lampaunya mengalami kekerasan seksual dan juga Happy yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Sejarah personal itulah yang membentuk mereka seperti sekarang. Bukankah pola seperti itu juga terjadi pada kita yang (sok) merasa ‘normal’? Di sinilah konsep sejarah personal terbentuk.

Sementara itu, kegagalan harmonisnya kelompok waria dengan masyarakat umum adalah persoalan lain. Kegagalan ini akhirnya berdampak pada minimnya pengakuan, ruang sosial, hingga lahan pekerjaan bagi para waria. Keterasingan terbentuk. Ujung-ujungnya, waria ingin selalu ‘pesta’, yang artinya adalah mendapat pengakuan dari sesama waria, segelintir orang yang minat mendalami ke-waria-an, pun pelanggan di cebongan. Bagi mereka, tidak ada yang lebih membahagiakan selain diakui sama-sama manusia – terlepas dari orientasi seksualnya. Di sinilah konsep pengakuan waria terbentuk.

Hadirnya tiga konsep itu lantas membuat Puthut menyikapinya dengan membagi tiga panggung: Panggung Pesta (tempat Deleilah bekerja dan dapat pengakuan), Panggung Waria (tempat cebongan dan interaksi antar waria, lintas pelanggan), dan Panggung Ingatan (tempat Rosiana, Happy, dan Luna bergumul dengan dirinya sendiri). Selesai urusan panggung, Puthut juga menyodorkan sejumlah istilah khas waria – tentunya tidak tercantum dalam KBBI yang kaku itu – yang terselip dalam dialog jenaka antar waria.

Lebih dari pada itu, konflik dalam “Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta” kian meruncing tatkala Metro hendak ditutup. Rosiana makin bingung dengan karirnya, Happy dan Luna makin sengit, ‘pesta-pesta’ Deleilah terancam usai. Bagaimana mereka mempertahankan kejujuran diri sebagai waria, di tengah gerusan zaman?

Soal Pemukulan, LK FH-Fiskom Sepakat Damai

Masih soal ricuh pendukung final sepak bola POM antara Fiskom dan FH, LK FH mengundang LK Fiskom untuk mediasi di ruang LK FH, Kamis pagi (31/3). Dalam pertemuan itu, selain pimpinan LK Fiskom, hadir juga Frelly Senaen pelaku pemukulan, Jekson Muda mahasiswa pendukung kesebelasan FH, Fachrullah Ijah koordinator pendukung dari Fiskom, dan Glovena Valentine, steering comitee (SC) pendukung kesebelasan Fiskom.

Pertemuan itu tujuannya mengklarifikasi beberapa dugaan, serta pendamaian antara Frelly dengan Mika Perdana Saputra, alumni Fiskom angkatan 2010 yang kena pukul. Namun pada hari itu, Mika tidak datang audiensi.

Selama setengah jam, kedua belah pihak mengklarifikasi beberapa dugaan. Semisal, mulanya ada dugaan bahwa Jekson turun ke lapangan untuk ikutan menyerang, tapi ia menepis dugaan itu. “Justru saya masuk ke lapangan buat melerai,” aku Jekson.

Pertemuan LK Fiskom dan FH, beserta beberapa pihak yang terlibat dalam ricuh final sepakbola POM UKSW. |Dok.scientiarum.com/ Galih Agus
Pertemuan LK Fiskom dan FH, beserta beberapa pihak yang terlibat dalam ricuh final sepakbola POM UKSW. | Dok.scientiarum.com/Galih Agus

Lalu, soal kabar burung pendukung FH hendak membakar kanfak Fiskom, Jekson mengatakan tidak ada niat seperti itu, meski Jekson mengiyakan kalau teman-temannya pergi membeli bensin. “Itu cuma tanggapan joking (bercanda –red) kami atas spanduk pendukung Fiskom. Kami juga mikir, buat apa bakar kanfak?” ungkap Jekson.

Memang, sore kemarin pendukung kesebelasan Fiskom membawa spanduk bertuliskan “Menang Nilai A, Kalah Bakar Kanfak”. Namun, SC pendukung kesebelasan Fiskom mengatakan bahwa spanduk itu ada di luar rencana. “Kalau spanduk, saya tidak tahu sama sekali kalau mereka bawa itu, meskipun saya sudah diserahi tugas untuk tanggung jawab hal-hal seperti itu. Setahu saya, spanduk itu untuk joking aja,” tutur Glovena. (Baca juga: Pertandingan Final POM Cabang Sepak Bola Ricuh)

Fachrul Ijah juga meminta maaf atas kejadian kemarin. Menurut Fachrul, pemicu kericuhan bermula saat kesebelasan Fiskom melesakkan gol ke gawang FH. Salah seorang pendukung Fiskom 2015 lantas turun selebrasi ke lapangan, sambil mengacungkan jari tengah ke pendukung FH. “Saya sudah mewanti-wanti kepada pendukung agar tidak usah ribut,” ujar Fachrul.

Sedangkan Frelly, ia mengakui bahwa dirinya yang memukul Mika karena mabuk dan marah. Namun Frelly kukuh meminta maaf kepada Fiskom dan Mika. “Saya meminta maaf atas tindakan kemarin. Mohon disampaikan permintaan maaf saya, agar masalah ini tidak berkelanjutan,” harap Frelly.

Setelahnya, Thea Lapian, Ketua BPM Fiskom, dan Calvin Satyarahardja, Ketua Senat Mahasiswa Fiskom, juga meminta maaf apabila ada tindakan provokatif dari pendukung Fiskom.  “Maaf kalau ada pendukung Fiskom juga memancing pendukung FH dengan mengacungkan jari tengah,” sesal Thea.

Menutup pertemuan, Allan Bobby Wijaya, Ketua BPM FH, menyayangkan ketidakhadiran Mika untuk berdialog dengan Frelly. Alasan tersebut berdasar pada permintaan Mika akan pertanggungjawaban pemukulan. “Saya berharap ke depannya tidak ada kejadian yang tidak diinginkan. Saya akan melindungi teman saya ini dan menuntut kalau terjadi apa-apa,” ujar Allan.

Allan juga mengingatkan bahwa pemukulan ini adalah masalah personal antar mahasiswa, bukan antar fakultas. “Saya mewakili mahasiswa FH meminta maaf kepada Fiskom dan mahasiswa pendukung Fiskom. Untuk hal-hal di luar ranah kemahasiswaan bisa langsung komunikasikan dengan universitas,” tutup Allan.

Catatan redaksi: Scientiarum sudah mencoba menghubungi Mika, tapi belum ada tanggapan hingga berita ini diterbitkan.