SalatiGanesa

Sepintas Kota Salatiga dengan latar belakang Gunung Merbabu. Foto diambil dari id.wikipedia.org
Sepintas Kota Salatiga dengan latar belakang Gunung Merbabu. Foto diambil dari id.wikipedia.org

Mendokumentasikan ide seluruh orang yang sedang atau pernah tinggal di Salatiga bukanlah tidak mungkin. Apalagi, kalau harus mengungkapkannya hanya lewat kata-kata. Memangnya orang mana yang tak bisa berkata-kata?

Tapi, berkata-kata tak harus terucap keluar dari mulut dan menghasilkan suara yang menjurus ke labirin telinga. Berkata-kata bisa juga lewat tulisan. Orang mana yang tak bisa menulis? Ada. Namun, di zaman informasi serba mudah diraih, sebenarnya mereka hanya merasa tak mampu. Tak mampu karena tak ada guru. Padahal, wujud guru tak selalu yang ada di depan kelas.

Dipikirnya, menulis itu harus selalu indah (padahal tulisan indah sendiri tidak pernah jelas seperti apa), kudu sesuai struktur yang sudah ada, penggunaan bahasanya harus sesuai kamus, kalau perlu tulisan juga panjang (agar terlihat pintar), sesak analisa, dan yang bisa menulis cuma orang-orang berbahasa tinggi. Padahal tidak juga!

Jujur saja, ketimbang menulis tulisan yang agak panjang ini, saya lebih suka menulis puisi pendek-pendek, mirip puisinya Eka Budianta. Karena menulis puisi bebasnya bukan main, meskipun ada juga struktur-struktur yang mengikat. Bukankah syarat utama ketika menulis, orang itu harus bebas lebih dulu?

Saya melihat kecenderungan manusia zaman sekarang, sukanya menulis pendek-pendek. Satu kalimat. Dua kalimat. Tiga kalimat. Empat kalimat. Mentok-mentoknya, satu paragraf. Kalau mau tahu contohnya, lihat Meme Comic, 1CAK.com, 9GAG.com atau yang serupa di media sosial.

Gejala suka menulis pendek ini mungkin salah satu pengaruh budaya baca yang minim juga. Orang-orang lebih suka kalimat kutipan dari pengarang atau inspirator terkenal, ketimbang harus membaca pemaparannya pada satu bacaan utuh. Pernah saya menyodorkan tulisan menarik ke salah seorang teman, bukannya langsung membaca, tapi yang ia lihat duluan ternyata seberapa panjang tulisan itu. Kalau menurutnya panjang dan melelahkan, ia tolak. Dan kebetulan waktu itu ia menolak untuk membaca. Berarti apa yang menurutku menarik, tidak menarik baginya.

Ya, membaca tulisan panjang memang melelahkan. Saya akui, saya sendiri tidak begitu suka membaca panjang-panjang, apalagi jika konteks tulisannya asing dan tidak memikat! Bikin capek mata. Pertanyaannya, mengapa harus panjang, jika dengan tulisan pendek, pembaca bisa memahami pesannya?

Kesukaan membaca tulisan ringkas ini mengingatkan saya akan Gde Aryantha Soethama, penulis esai yang cukup tersohor di Bali. Ia pernah bergabung dengan redaksi majalah Sarad yang kukuh dengan slogan “dari Bali, untuk Bali, oleh orang Bali”. Gde punya kewajiban mengisi rubrik Samatra dengan tulisan esai. Samatra berarti suguhan padat, ringkas dan sederhana. Singkat saja, esai Gde tak pernah lebih dari empat halaman kertas ukuran B5. Tapi, pesan yang dituju sangat jelas, ringkas, tak bertele-tele, tidak sesak analisa, bahasanya membumi, diksinya menyesuaikan konteks Bali, bisa diserap semua kalangan. Hal ini tertuang nyata dalam bukunya, Bali Tikam Bali (2004).

Makanya, saya mengapresiasi kehadiran SalatiGanesa, sebuah situs jaring yang mendokumentasikan pikiran dan perasaan orang yang pernah atau sedang tinggal di Salatiga. Topiknya bebas, asal bersinggungan dengan Salatiga. Boleh tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan akan kota Hati Beriman. “Kamu mau Salatiga seperti apa? Curahkan kata-katamu. Minimal satu kalimat,” tulis Yodie.

Ide peluncuran SalatiGanesa ini muncul dari Yodie Hardiyan, salah satu alumni Satya Wacana, yang juga pernah bergeliat di Scientiarum. Semuanya ini bermuara dari pro-kontra pembongkaran Markas Komando Distrik Militer (Makodim) di Jalan Diponegoro, Salatiga 2014 lalu. Karena banyak yang celoteh soal Bangunan Cagara Budaya (BCB) dan pembangunan mal, Yodie berinisiatif mewadahi pendapat orang. Padahal, membicarakan pembangunan mal dengan pelestarian BCB sudah dua hal yang berbeda, meski berkaitan. Tapi, wadah itu tak pernah terwujud saat topik itu memanas tahun kemarin. Karena pro-kontra pembangunan mal di atas lahan BCB telah mendingin, mungkin terlupakan, dan segera diinjak orang, topiknya diperluas oleh Yodie. Tidak melulu BCB, pokoknya soal Salatiga. Lahirlah SalatiGanesa.

Ini terobosan baru, sekaligus alternatif bagi yang tidak suka baca dan tulis panjang-panjang. Bisa jadi analisa kuat terbentuk dari satu kalimat per-orang. Layaknya puzzle, orang lainnya yang tergugah, melengkapi dengan kalimat lainnya. Begitu seterusnya. Gotong royong tulisan mungkin namanya. Bukan tidak mungkin to?

Jadi, masih merasa tak mampu menulis tentang Salatiga?

Ketoprak Tobong Bisa-bisa ‘Dijual’ ke Inggris

Panasnya Yogyakarta menusuk. Ditambah pakaian berlapis jas almamater berwarna putih gading, kian buat sumuk. Beberapa mahasiswa tampak mengibaskan pakaiannya berulang kali. Beberapa di antaranya ada yang mengipaskan kertas alakadarnya, hanya untuk mendinginkan diri. Menyibak bulir keringat di dahi dan leher.

Maklum saja, 103 mahasiswa itu terbiasa hidup di kota kecil nan sejuk, di kaki Gunung Merbabu—Salatiga. Kedatangan mereka tak lain karena keperluan studi Komunikasi Lintas Budaya pada 27 November 2014. Rombongan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi UKSW yang baru saja tiba, segera hinggap di bangku yang disediakan tuan rumah Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya.

Tetapi, selama 15 menit pertama, lautan mahasiswa itu tak kunjung tenang. Riuh bertahta. Saya mengamati kalau sumuk ini tidak sekadar karena iklim di Kalasan, Yogyakarta. Beruntung saya tak serewel teman-teman, karena jas almamater pribadi hilang sedari Agustus lalu. Tak apa, lebih adem.

Dari pemandangan itu, lantas saya melempar pandangan ke semesta panggung dan tempat penonton.

Langit penuh terik siang itu, hanya ditutup beberapa potongan asbes yang warnanya temaram. Selain asbes, atap terdiri dari kepingan seng yang dihinggapi karat kecoklatan. Atapnya hanya ditopang beberapa tiang. Pilar penopang itu mengingatkan saya akan tiang-tiang pada tenda acara pernikahan—yang kerap memblokir jalan di gang perkampungan.

Tempat penonton dibagi menjadi dua sayap. Saya duduk di kursi sayap kiri, pada baris kelima dari bangku terdepan. Jarak pandang saya ke panggung cukup jelas.

Pukul 11.22 WIB, tembang sinden selamat datang diiringi alunan gamelan, rampung. Isyarat pentas Ketoprak segera unjuk gigi di hadapan mahasiswa kampus ‘Indonesia Mini’.

“Selamat datang di Bumi Mataram,” sambut seorang berkulit coklat dan kepalanya penuh uban bernama Indriyanto. Ia alumni UKSW angkatan 1989, sekaligus pendeta Gereja Kristen Jawa dan guru mata pelajaran seni di SMA Kristen 1 Salatiga. Pada hari itu juga, ia merangkap sebagai pembuka acara.

Ia tak banyak basa-basi. Indriyanto hanya mengajak seluruh hadirin menyanyikan “Mars Satya Wacana”. Untuk sekadar mengenang, katanya. Detik setelah ia menyerahkan acara ke Dwi Tartiyasa, sesepuh Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya, pentas dimulai.

Kisah kebajikan Mahapatih Gadjah Mada pada masa emas Majapahit, menjadi intisari pementasan. Sebagai pengantar, digunakan tiga bahasa sekaligus: bahasa Jawa ngoko maupun krama, Indonesia, dan sesekali diselingi bahasa Inggris—sebagai bumbu lelucon.

Dua lakon pada adegan ketiga. Fokus pada guyon disertai kritik sosial.
Dua lakon pada adegan ketiga. Fokus pada guyon disertai kritik sosial. | Dok.scientiarum.com/Andreas Reuben

Di awal adegan, saya sempat menguping beberapa teman berdialog. Di depan saya ada dua orang wanita. Sebaya dengan saya. Yang satu keturunan Tionghoa, namanya Natalia. Satu lainnya orang Papua, Emi namanya. Natalia menanyakan apakah Emi paham dengan bahasa pengantar? Emi menggelengkan kepala. Isyarat tidak paham. Benar-benar komunikasi lintas budaya.

Beda adegan, beda reaksi. Adegan ketiga mengundang banyak gelak tawa, ketimbang yang sebelumnya. Teman-teman saya yang semula acuh tak acuh pada isi pentas karena terusik sumuk, mendadak mata antusiasme mereka kembali ke panggung. Bahkan Emi dan beberapa teman yang tidak memahami bahasa Jawa, merekahkan bibirnya, hingga gigi menampakkan diri. Seolah ikut tersihir suasana penuh kekeh dan tawa.

Sekaligus, adegan ketiga ini favorit saya. Selain penuh dagelan khas Ketoprak, ada beberapa kritik sosial dan harapan yang disampaikan. Dua tokoh pada adegan ketiga mengajak mahasiswa berkaca: mahasiswa itu apa? Apakah sekadar mahasiswa yang tak jauh beda dengan anak SMA? Sebagai mahasiswa, melihat Ketoprak Tobong, memangnya bisa apa? Apakah jadi penonton saja?

Melalui Gadjah Mada, para pemain Ketoprak Tobong mengkomunikasikan kearifan kaum akademisi—yang menurut mereka—kian hari kian luntur. Sederhananya, Indonesia sudah krisis Gadjah Mada moderen. Ini sebuah kritik bagi kaum akademisi di kancah sosial dan seni budaya.

Javanese Gipsy

Pentas usai. Saya dan beberapa teman diberi kesempatan seperempat jam untuk menilik kehidupan di balik panggung. Tidak sebatas ruang rias dan tata busana saja, tapi juga rumah ketujuh anggota tetap Kelana Bhakti Budaya.

Saya tak begitu cermat mengukur luas halaman di mana rumah-rumah itu berdiri. Yang jelas, di sana berdiri lima rumah berdinding seng. Dan dua berdinding semen.

Antusiasme saya membuncah ketika singgah di salah satu rumah pemain Ketoprak. Rumahnya seperti 3 in 1. Hanya ada satu ruangan, tapi punya tiga fungsi sekaligus: kamar tidur, dapur, dan ruang tamu. Semuanya jadi satu. Barang-barang yang ada di dalam juga mempersulit ruang gerak saya.

Untuk urusan mandi, cuci, dan kakus, semuanya dipusatkan di satu titik. Alias digunakan bersama. Bergantian. Seperti itu setiap harinya.

Saya segera keluar dari ruang 3 in 1 itu, karena beberapa teman menyusul berdatangan masuk ke dalam. Menggilir kesempatan. Lagipula, sudah ada pemberitahuan bahwa waktu observasi halaman belakang, sudah di ujung detik.

Di bawah panggung sudah siap Dwi Tartiyasa, jajaran pemain pentas, dan pengurus Kelana Bhakti Budaya. Mereka duduk di depan kursi penonton. Tanda diskusi perihal intisari dan kehidupan sosial Kelana Bhakti Budaya segera dimulai.

Sambil mendekatkan mikrofon ke mulutnya, ia mulai bercerita perihal sejarah kata “tobong” pada Ketoprak Tobong.

“Tobong” mempunyai arti “berpindah-pindah”. Persis dengan kaum Gipsi yang hidupnya nomaden. Beberapa ada yang menyebutnya Javanese Gipsy. Tidak menetap. Jadi, jika dikaitkan dengan Ketoprak Tobong, artinya ialah pentas Ketoprak yang berpindah-pindah tempat. Semuanya dilakukan untuk gerilya budaya.

Namun kini, Kelana Bhakti Budaya yang notabene satu-satunya kelompok Ketoprak Tobong yang tersisa di Yogyakarta, sukar merogoh kocek untuk pindah tempat. Padahal, kata Dwi, idealnya Ketoprak Tobong pindah tiap tiga purnama sekali.

Risang Yuwono menyebut bahwa panggung teater adalah nenek moyangnya televisi.
Risang Yuwono menyebut bahwa panggung teater adalah nenek moyangnya televisi. | Dok.scientiarum.com/Andreas Reuben

“Lahan itu sulit didapat. Biaya juga tinggi. Pindah sekali tidak cukup, karena butuh 30 juta. Sedangkan kami mendapat 200 ribu saja masih sulit,” tutur Dwi Tartiyasa atau akrabnya disapa Dwi Tobong.

Dwi menceritakan juga bahwa Kelana Bhakti Budaya mulanya bernama Candra Kirana, Ketoprak Tobong asal Kediri. Candra Kirana turun panggung pada penghujung 1999, hingga akhirnya Dwi dan beberapa rekan menyelamatkan peredarannya dengan mengubah nama jadi Bhakti Budaya. Masuk 2000, segenap kepemilikan Bhakti Budaya dibeli Dwi, lalu berganti nama jadi Kelana Bhakti Budaya.

Sejak saat itu, Kelana Bhakti Budaya berkeliling sebagaimana mestinya. Hingga pada 2007, Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya masuk ke kawasan Yogyakarta. Selama di Bumi Mataram, Dwi, dkk berpindah tempat sebanyak 17 kali, lalu akhirnya kini mendirikan Istana Tobong—demikian mereka menyebut rumah dan panggung pentasnya—di kawasan Kalasan. Istana Tobong berdiri di atas tanah milik salah seorang kerabat baik Dwi.

Tanpa Pemerintah, Tetap Jalan

Di penghujung 2010, Kelana Bhakti Budaya nyaris bubar. Kondisi kritis sontak menyulut keinginan Risang Yuwono, anak kandung Dwi, untuk mencolok mata perhatian pemerintah. Digelarlah pentas Ketoprak dengan judul “Pamit Mati”.

Naas, usaha mereka menggaet uluran tangan pemerintah tak digubris. Sri Sultan Hamengkubuwono X pun tak hadir, meski diundang. Tak kurang akal, mereka cari jalan alternatif.

Kendati tanpa dukungan pemerintah lokal, Kelana Bhakti Budaya tetap melanjutkan roda kehidupan dengan mandiri. Salah satu caranya, mereka tetap pentas tiap Rabu dan Sabtu malam. Jika hujan lebat atau penonton yang datang terlalu sedikit, mereka urung pentas.

Harga tiket yang mereka patok tiap pentas—untuk kalangan umum—hanya lima ribu rupiah. Untuk turis mancanegara, 25 ribu rupiah.

“Tapi kalau mahasiswa UKSW kena 15 ribu ya,” ucap Dwi, sambil terkekeh.

Uang tiket yang terkumpul, nantinya dialirkan untuk honor pemain atau perawatan peralatan dan perlengkapan pentas. Tiap pemain, biasanya hanya mendapat lima ribu rupiah untuk sekali naik panggung. Kadang, tidak sama sekali.

“Tapi anehnya, para pemainnya masih gendut-gendut ya,” guyon Dwi. Pecah suasana yang mulanya terasa panas, kini terasa menyejukkan.

“Syukur-syukur kalau ada perhatian dari Satya Wacana,” sambung Dwi.

Dwi yang mempunyai pekerjaan selingan sebagai pendeta mengaku belum pernah mendapat perhatian dari gereja.

“Gereja pun tidak. Kalau bantuan secara pribadi ada, tapi tidak ada atas nama instansi,” aku Dwi.

Di samping pentas, ketujuh anggota tetap Kelana Bhakti Budaya ternyata juga menyambi pekerjaan lain. Seperti Wiwin, pemeran Hayam Wuruk, mengumpulkan rupiah dari kerja ahli tata rias dan tata busana pernikahan atau teater lainnya. Semuanya dilakukan untuk menyambung hidup.

Untuk menyokong kehidupan Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya, tak cukup hanya dari pentas dan pekerjaan selingan. Sejak 28 Desember 2012 sampai 22 Januari 2013 lalu, Risang mengangkat nama Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya selangkah lebih baik.

Risang, lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dengan kemampuan fotografinya menggandeng Helen Marshall, seorang seniman dari Inggris, untuk kolaborasi foto dokumenter “Project Tobong”. Nama proyek pembudidayaan seni Ketoprak Tobong ini berangkat dari sebuah tema berbahasa Perancis: tableau vivant. Jika di-Indonesia-kan, artinya “gambar hidup”.

Pameran foto itu menggunakan konsep dekontekstualisasi. Risang menyebutnya bolak-balik ide. Bersama Helen, ia memadukan antara model Ketoprak Tobong dengan latar belakang atau obyek pendukung, yang sama sekali tidak nyambung dengan kekhasan etnik Ketoprak Tobong.

Foto kolaborasi Risang dengan Hellen yang menekankan konsep dekontekstualisasi.
Foto kolaborasi Risang dengan Hellen yang menekankan konsep dekontekstualisasi. | Sumber: hellenmarshall.co.uk

Berangkat dari terobosan itu, beberapa media lokal maupun internasional mengarahkan lampu sorot ke Kelana Bhakti Budaya. Tak ketinggalan, donatur berdatangan. Hingga akhirnya, Kelana Bhakti Budaya kini mempunyai situs web sendiri (ketopraktobong.com), meski tengah kadaluarsa sejak 14 November 2014.

“Kalau pemerintah tidak mau mengurus, bisa-bisa Ketoprak Tobong ini saya jual ke orang Inggris,” kata Risang seolah mewanti-wanti seluruh pendengar yang ada di hadapannya.

Krisis Identitas

Kelana Bhakti Budaya tengah krisis identitas di negeri sendiri. Kian kemari, jika terus seperti ini, kata “tobong” tak lebih dari sekadar ornamen pajangan yang sepi peminat. Tanpa “tobong”, Ketoprak hanyalah Ketoprak pada umumnya. Ciri khas nomaden luntur karena bermacam kendala internal, pun eksternal. Kendati begitu, peliknya masalah yang tengah dihadapi Kelana Bhakti Budaya, tampaknya diberi angin segar oleh orang-orang Inggris.

Kata Dwi, fenomena ini seperti Rama yang ditolong oleh kera putih Hanoman saat hendak menyelamatkan Shinta dari genggaman Rahwana, pada kisah Ramayana. Bantuan datang bukan dari saudara setanah air, malahan ‘Hanoman’ dari negeri asing. Jadi, bukan tidak mungkin Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya ini akan benar-benar “tobong” dan hijrah kepemilikan ke Inggris.